Connect with us

Viral

Ngaku Keluarga Buaya, Pria di Sulsel ini Malah Diterkam

Seorang pria bernama Baco Daeng Rani diterkam buaya di penangkaran Cimory. BBKSDA Sulawesi Selatan memberikan penjelasan terkait insiden tersebut.

Actress 1299250

Published

on

Ngaku Keluarga Buaya, Pria Di Sulsel Ini Malah Diterkam
Ngaku Keluarga Buaya, Pria di Sulsel ini Malah Diterkam. Gambar : Kolase Tangkapan Layar Instagram/@makassarviralcom

Sulawesi Selatan, MPN Indonesia 20 Februari 2025 - Seorang pria bernama Baco Daeng Rani mengalami insiden mengejutkan setelah diterkam buaya di sebuah penangkaran di kawasan wisata Cimory, Kecamatan Parang Loe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kejadian ini terjadi pada Kamis (13/2) dan viral di media sosial.

Baco sebelumnya mengaku sebagai bagian dari “keluarga buaya,” sebuah kepercayaan yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat Bugis-Makassar.

Peristiwa ini menarik perhatian publik hingga tokoh pecinta satwa, Muhammad Panji atau yang dikenal sebagai Panji Petualang, turut menanggapi.

Dalam unggahannya di media sosial, Panji menyampaikan rasa prihatin terhadap insiden tersebut.

“Saya turut prihatin sama korban gigitan,” tulis Panji, seperti dikutip oleh tim Redaksi MPN Indonesia melalui Instagram @panjipetualang_real, pada Rabu (19/2).

Buaya Muara dan Kepercayaan Tradisional di Sulawesi Selatan

Insiden ini bertepatan dengan meningkatnya laporan interaksi negatif antara manusia dan buaya muara (Crocodylus porosus), terutama setelah bencana banjir di wilayah Kampung Kajang, Lorong 1, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Makassar.

Pada Rabu (12/2) pukul 23.00 WITA, seekor buaya muara muncul di permukiman warga dan berhasil dievakuasi keesokan harinya oleh tim Pemadam Kebakaran (Damkar) dan masyarakat setempat.

Keberadaan buaya di lingkungan warga semakin menarik perhatian setelah beberapa penduduk mengaku sebagai “kerabat” reptil tersebut.

Salah satu warga bahkan meyakini bahwa kakeknya yang berusia 100 tahun adalah saudara kembar buaya.

Kepercayaan ini berasal dari mitos lama masyarakat Bugis-Makassar yang menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki saudara kembar dari alam air, termasuk buaya.

Dalam naskah klasik Lagaligo, buaya dikisahkan sebagai makhluk yang memiliki hubungan erat dengan manusia.

Baca Juga:  Pecalang Bali Tolak Kehadiran Ormas: Kami Tidak Butuh

Beberapa warga meminta agar buaya yang ditangkap dapat dipelihara di rumah atau dilepaskan kembali ke alam.

Namun, pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan menegaskan bahwa buaya adalah satwa liar yang dilindungi dan keberadaannya harus dikelola dengan mempertimbangkan keselamatan manusia serta ekosistem.

Upaya BBKSDA dalam Menangani Konflik Manusia dan Buaya

Dalam siaran pers Nomor : SP.06/K.8/TU/Humas/2/2025, yang diterima langsung oleh Tim Redaksi MPN Indonesia dari BBKSDA Sulawesi Selatan, pihaknya masih terus berupaya menangani interaksi antara manusia dan satwa liar, khususnya buaya.

Dalam merespons permintaan masyarakat yang ingin memelihara buaya, BBKSDA bersama aparat pemerintah menawarkan beberapa solusi, di antaranya:

  • BBKSDA Sulawesi Selatan akan melakukan pelepasliaran ke habitat yang sesuai.
  • Buaya muara tetap berada dalam penanganan BBKSDA Sulawesi Selatan, namun warga yang mengaku sebagai kerabat budaya dapat mengunjungi di lokasi perawatan.
  • Warga yang mengaku sebagai kerabat buaya disarankan mengurus izin sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 18 Tahun 2024, tentang pemanfaatan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dalam Bentuk Penangkaran, Pemeliharaan untuk Kesenangan, Perdagangan, dan Peragaan.

Sebagai bagian dari strategi konservasi, BBKSDA Sulawesi Selatan juga melakukan berbagai langkah, seperti sosialisasi kepada masyarakat, pemasangan papan informasi di area rawan konflik, serta monitoring habitat dan populasi buaya.

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) juga terus meningkatkan kapasitas dalam menangani satwa liar untuk mengurangi risiko konflik dengan manusia.

BBKSDA Sulawesi Selatan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar pemahaman mengenai interaksi dengan satwa liar semakin baik.

Selain itu, koordinasi dengan instansi terkait juga diperkuat untuk memastikan keberlanjutan ekosistem dan keseimbangan antara manusia dengan lingkungan.

Baca Juga:  Bikin Syok! Kebun Ganja dalam Kontrakan di Jombang Terbongkar

(AKM/NID/RAD)

Trending