Connect with us

Berita

Siswi 4 SD di Manggarai Timur Tewas usai Digigit Anjing Peliharaan Sendiri

Seorang siswi kelas 4 SD di NTT meninggal akibat rabies setelah digigit anjing peliharaan.

Actress 1299250

Published

on

Siswi 4 SD di Manggarai Timur Tewas usai Digigit Anjing Peliharaan Sendiri
Siswi 4 SD di Manggarai Timur Tewas usai Digigit Anjing Peliharaan Sendiri. Gambar : Dok. POS-KUPANG.COM/HO

MPN Indonesia 18 Oktober 2024 - Seorang siswi kelas 4 SD di Kampung Deruk, Desa Sipi, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia setelah terinfeksi rabies akibat gigitan anjing peliharaan keluarganya.

Siswi berinisial YMS (8) tersebut mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong pada Senin (14/10), setelah dirujuk dari Puskesmas Mamba.

Peristiwa di daerah ini terjadi hampir dua bulan setelah korban digigit, namun tindakan medis untuk mencegah rabies tidak segera dilakukan.

Kronologi Kejadian

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, dr. Surip Tintin, insiden ini terjadi pada 14 Agustus 2024, ketika YMS digigit oleh anjing peliharaan keluarganya.

Meskipun gigitan sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya, keluarga tidak segera membawa YMS ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin anti-rabies (VAR).

Baru setelah kondisinya memburuk pada 12 Oktober 2024, YMS dibawa ke Puskesmas Mamba dan langsung dirujuk ke RSUD Borong.

Sayangnya, nyawa korban tidak dapat diselamatkan dan YMS meninggal dua hari kemudian.

Keterlambatan Penanganan Medis

Keterlambatan dalam mendapatkan perawatan medis menjadi perhatian utama dalam kasus ini.

Dr Surip Tintin menjelaskan bahwa jika vaksin antirabies diberikan segera setelah gigitan anjing, kemungkinan kematian bisa dicegah.

Namun, keluarga tidak segera melaporkan gigitan tersebut hingga kondisi YMS kritis.

Di Kabupaten Manggarai Timur, setiap puskesmas telah dilengkapi dengan vaksin antirabies dan ditetapkan sebagai “Rabies Center” untuk memfasilitasi penanganan cepat.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga membentuk grup WhatsApp bagi petugas kesehatan untuk mempercepat pelaporan dan respons terhadap kasus gigitan anjing.

Baca Juga:  Ratusan Ribu Warga Pati Turun Demo Hari Ini, Tuntut Bupati Mundur

Dalam kasus ini, laporan gigitan terlambat masuk, mengakibatkan keterlambatan tindakan medis yang berakibat fatal.

Kekhawatiran Masyarakat

Kasus rabies masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan di NTT, termasuk di Manggarai Timur.

Sepanjang 2024, tercatat 1.188 kasus gigitan anjing yang diduga terinfeksi rabies, dengan satu korban meninggal dunia, yakni YMS.

Kepala Sekolah SDI Deruk, Robertus Belarmino, menyatakan bahwa siswa sering merasa takut dengan anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar sekolah.

Menurutnya, pihak sekolah berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk melindungi para siswa dari ancaman gigitan anjing.

Langkah Pencegahan dan Edukasi

Sebagai upaya pencegahan, pihak sekolah memberikan edukasi kepada siswa mengenai tindakan yang harus dilakukan jika digigit anjing.

Mereka diajarkan untuk mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan sabun, serta segera menuju puskesmas untuk mendapatkan vaksinasi antirabies.

Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur juga rutin mengadakan sosialisasi tentang bahaya rabies di berbagai kecamatan.

Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya rabies dan penanganan cepat jika terjadi gigitan anjing.

Rabies: Tantangan Kesehatan Nasional

Rabies, yang ditularkan melalui air liur hewan yang terinfeksi—terutama anjing—masih menjadi tantangan kesehatan di NTT dan Indonesia secara keseluruhan.

Pada Juli 2024, dilaporkan 13 kematian akibat rabies di NTT, sementara secara nasional, ada 104.229 kasus penularan rabies dengan 102 kematian pada tahun 2022, meningkat dari tahun sebelumnya.

Trending