Berita
WFH ASN Seminggu Sekali Hemat Anggaran Perjalanan Dinas Rp1,95 Triliun
Kebijakan WFH ASN seminggu sekali sejak April 2026 diklaim menghemat anggaran dinas Rp1,95 triliun dan mempercepat digitalisasi birokrasi.
MPN Indonesia 31 Mei 2026 - Penerapan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) satu kali dalam seminggu sejak April 2026 tercatat menghemat anggaran dinas perjalanan sebesar Rp1,95 triliun.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menyampaikan bahwa pelaksanaan WFH ASN seminggu sekali memberikan dampak langsung terhadap efisiensi anggaran dinas dan percepatan digitalisasi birokrasi.
“Hasil evaluasi mencatat capaian efisiensi yang signifikan. Perjalanan dinas dapat diefisiensikan sebesar Rp1,95 triliun,” ujarnya dalam siaran pers resmi Kementerian PANRB, Rabu (27/5).
Efisiensi Anggaran Dinas dan Digitalisasi Birokrasi
Selain efisiensi perjalanan dinas sebesar Rp1,95 triliun, berdasarkan hasil evaluasi selama April 2026, pemerintah mencatat sejumlah capaian efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan publik tersebut.
“Utilitas pemerintah dihemat Rp65,6 miliar, dan tercatat kenaikan 100.817 dokumen Tanda Tangan Elektronik (TTE) secara nasional sebagai bukti percepatan digitalisasi proses birokrasi,” ungkap Rini.
Peningkatan penggunaan TTE tersebut menjadi indikator percepatan digitalisasi dalam sistem kerja ASN.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tersebut tidak menurunkan kualitas pelayanan publik.
“Efisiensi tidak berarti mengurangi layanan. Efisiensi hari ini berarti mengubah cara negara bekerja. Fleksibilitas kerja adalah pintu masuknya, sementara transformasi digital pemerintah adalah perubahan utamanya,” ujar Rini.
“Transformasi budaya kerja harus mendorong ASN bekerja lebih efektif, agile, dan berorientasi hasil. Fleksibilitas kerja bukan berarti menurunkan kualitas pelayanan, justru harus memperkuat profesionalisme dan akuntabilitas kinerja,” tambahnya.
Kualitas Pelayanan Publik dan Penguatan Infrastruktur Digital
Selain penghematan anggaran perjalanan dinas, pemerintah juga mencatat bahwa pelayanan publik tetap berjalan selama penerapan WFH ASN.
Sebanyak 95 persen layanan publik diklaim stabil atau meningkat, sementara seluruh pengaduan masyarakat tetap tertangani melalui kanal resmi.
Rini menegaskan bahwa transformasi budaya kerja harus ditopang oleh fondasi Digital Public Infrastructure (DPI), yang mencakup identitas digital, pertukaran data antarinstansi, dan pembayaran digital pemerintah.
Fondasi tersebut menjadi prasyarat birokrasi yang terintegrasi dan terpercaya.
Dalam evaluasi tersebut, pemerintah juga mencatat sejumlah tantangan dalam implementasi kebijakan pemerintah terkait WFH ASN.
Tantangan itu meliputi perlunya penguatan budaya kerja digital serta penyesuaian pola koordinasi kerja antarunit dan antarinstansi.
“Ke depan, fleksibilitas kerja harus semakin matang implementasinya. Tidak hanya fleksibel dalam tempat bekerja, tetapi juga semakin kuat dari sisi tata kelola, koordinasi, dan pencapaian kinerja organisasi,” jelas Rini.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
