Connect with us

Internasional

China Balik Serang Trump, Perang Dagang AS-Tiongkok Kian Memanas!

Ketegangan perang dagang AS-China meningkat setelah China memperketat ekspor logam tanah jarang dan AS menambah tarif produk China.

Logompn

Published

on

China balik serang trump, perang dagang as tiongkok kian memanas!
Presiden China, Xi Jinpin dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Gambar : AP Photo/Andy Wong

MPN Indonesia 18 Oktober 2025 - Ketegangan perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) kembali memuncak pada pertengahan Oktober 2025, menyusul aksi saling balas kebijakan tarif dan pembatasan ekspor.

Pemerintah China menuding Presiden AS Donald Trump sebagai pemicu eskalasi terbaru setelah pengumuman kebijakan tarif tambahan hingga 100% terhadap produk asal China pada Jumat (10/10).

Beijing menilai langkah tersebut sebagai konfrontasi ekonomi yang memaksa mereka memperketat ekspor logam tanah jarang sejak Kamis (9/10).

Menanggapi pengumuman Trump, China menyatakan siap “bertarung sampai akhir” jika Washington terus melanjutkan konfrontasi.

“Jika Anda ingin bertarung, kami akan bertarung sampai akhir. Jika Anda ingin bernegosiasi, pintu kami tetap terbuka,” ujar juru bicara Kementerian Perdagangan China pada Selasa (14/10), dikutip MPN Indonesia dari AFP, Rabu (15/10).

Beijing juga menolak sikap AS yang dianggap inkonsisten antara ajakan dialog dan ancaman kebijakan baru.

Kedua negara saling menuduh sebagai pemicu utama ketegangan.

Pemerintah China menyebut tindakan mereka sebagai respons atas pembatasan ekspor besar-besaran dan penambahan entitas asal China ke dalam daftar kontrol ekspor AS pada akhir September.

Sebaliknya, Presiden Trump membalas dengan tarif tambahan dan rencana pembatasan ekspor perangkat lunak kritis mulai 1 November.

Saling Balas Kebijakan dan Dampak Ekonomi

Langkah China membatasi ekspor logam tanah jarang menargetkan sektor strategis seperti elektronik, mobil, dan semikonduktor, yang menjadi bagian penting dalam rantai pasokan global.

Sebagai negara penguasa cadangan logam ini, keputusan tersebut berdampak langsung pada pasar internasional dan menambah ketidakpastian dalam industri teknologi tinggi.

Sementara itu, tarif AS menyasar produk China dengan nilai ekspor mencapai US$34,3 miliar pada September, menunjukkan ketahanan ekspor China dengan pertumbuhan 8,3% secara tahunan, tertinggi sejak Maret.

Baca Juga:  Mojtaba Khamenei Minta Pasukannya Tutup Selat Hormuz

Hingga kini, total barang China yang dikenai tarif AS mencapai 305 produk.

Pemerintah Trump menyatakan langkah ini bertujuan menanggulangi praktik dagang tidak adil dan dugaan keterlibatan China dalam perdagangan fentanyl.

Sebagai balasan, China mengenakan tarif 10% terhadap sejumlah produk Amerika Serikat.

Dampak Terhadap Hubungan Diplomatik

Ketegangan terbaru memengaruhi agenda diplomatik antara kedua negara.

Eskalasi ini menimbulkan keraguan atas kemungkinan pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan bulan ini.

Pernyataan Trump di media sosial yang menyebutkan bahwa “semuanya akan baik-baik saja” dan bahwa AS “ingin membantu China” dinilai tidak cukup menurunkan ketegangan.

Kementerian Perdagangan China menegaskan dialog hanya mungkin terjadi jika tidak ada tekanan baru dari AS.

Para analis di Beijing menilai sebagian besar ketegangan dapat dihindari jika pembatasan tambahan dari AS tidak diberlakukan pada akhir September.

“Setelah menyerang China, AS kini berpura-pura tidak bersalah dan bahkan mencoba berperan sebagai korban,” tulis Jin Canrong, profesor hubungan internasional Universitas Renmin, di media sosial Weibo pada Sabtu (11/10).

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending