Internasional
Geger! Ratusan Warga Palestina secara Misterius Tiba di Afrika Selatan
153 warga Palestina tiba di Afrika Selatan tanpa dokumen lengkap. Pemerintah Afsel menyelidiki jalur keberangkatan dan dugaan eksploitasi organisasi tak resmi.
MPN Indonesia 17 November 2025 - Sebanyak 153 warga Palestina tiba secara misterius di Afrika Selatan (Afsel) melalui penerbangan carteran dari Kenya pada Kamis (13/11).
Mereka mendarat di Bandara Internasional OR Tambo, Johannesburg, tanpa dokumen perjalanan sah, termasuk stempel keberangkatan dari Israel, tiket pulang, maupun informasi akomodasi.
Akibatnya, seluruh penumpang ditahan selama 12 jam di dalam pesawat oleh otoritas perbatasan.
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa mengaku terkejut atas kedatangan kelompok tersebut.
“Mereka adalah orang-orang dari Gaza yang entah bagaimana secara misterius dinaikkan ke pesawat yang melewati Nairobi dan tiba di sini,” ujar Cyril Ramaphosa kepada wartawan pada Jumat (14/11), dikutip MPN Indonesia dari The Guardian, Senin (17/11).
Ia menambahkan, “Kita tentu perlu melihat asal-usul mereka, di mana mereka bermula, alasan mereka dibawa ke sini karena mereka tak punya dokumentasi apa pun.”
Otoritas Manajemen Perbatasan Afsel (BMA) menyatakan bahwa para penumpang tidak menunjukkan tujuan tinggal maupun alamat akomodasi.
Meski demikian, Kementerian Dalam Negeri Afsel mengizinkan 130 orang memasuki negara itu dengan fasilitas bebas visa 90 hari, sementara 23 lainnya diteruskan ke negara lain.
Pemerintah Selidiki Jalur Kedatangan
Menteri Dalam Negeri Afsel Leon Schreiber menjelaskan bahwa tidak ada satu pun penumpang yang mengajukan permohonan suaka.
“Setelah kami yakin ketiadaan beberapa elemen dalam rencana perjalanan mereka tak akan membuat mereka telantar di Afrika Selatan tanpa klaim suaka, para pelancong diizinkan masuk dengan pembebasan visa standar 90 hari, asalkan memenuhi persyaratan standar,” jelasnya.
Penerbangan carteran tersebut dioperasikan maskapai Global Airways dan melakukan transit di Nairobi sebelum tiba di Johannesburg.
Organisasi kemanusiaan lokal, Gift of the Givers, kemudian menawarkan akomodasi dan dukungan bagi para penumpang setelah mereka diizinkan turun.
Pendiri organisasi tersebut, Imtiaz Sooliman, menyebut bahwa ini merupakan penerbangan kedua dalam dua minggu terakhir yang membawa warga Palestina ke Afsel.
“Warga Palestina tidak tahu ke mana mereka diberangkatkan, baru ketika di Kenya mereka menyadari bahwa mereka akan datang ke Afrika Selatan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa banyak penumpang berasal dari Gaza dan sebagian memiliki visa menuju Kanada, Australia, dan Malaysia.
Sooliman juga menduga ada keterlibatan Israel dalam pengiriman ini.
“Israel sengaja tak memberi cap di paspor orang-orang malang ini untuk memperparah penderitaan mereka di negara asing,” ucapnya.
Dugaan Eksploitasi oleh Organisasi Tak Terdaftar
Kedutaan Besar Palestina di Afsel menyoroti adanya dugaan eksploitasi oleh organisasi tidak terdaftar bernama Al-Majd Europe.
Dalam pernyataannya, mereka menyebut bahwa organisasi tersebut memanfaatkan kondisi kemanusiaan di Gaza.
“Mereka menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab,” tulis pernyataan resmi Kedubes Palestina.
Dugaan tersebut diperkuat oleh laporan media Israel Haaretz, yang menyebut ada organisasi Israel-Estonia yang membayar US$2.000 kepada warga Palestina untuk naik pesawat carteran ke sejumlah negara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Afsel.
Organisasi itu dikabarkan berbasis di Jerman dengan kantor di Yerusalem Timur serta didukung oleh firma konsultan dari Estonia.
Di media sosial juga ditemukan survei yang disebarkan oleh Al-Majd Europe.
Warga Palestina diminta mengisi data pribadi termasuk tempat kerja dan tujuan negara, lalu diarahkan menuju halte bus di Kota Gaza yang mengarah ke persimpangan Karem Abu Salem, yang diduga menjadi titik keberangkatan.
Kondisi Penumpang dan Insiden Sebelumnya
Seorang pendeta yang sempat menemui para penumpang menggambarkan kondisi dalam pesawat sangat memprihatinkan.
Ia menyebut suhu di dalam pesawat panas dengan banyak anak-anak berkeringat, menangis, dan berteriak.
Situasi ini menambah tekanan pada otoritas Afsel untuk menangani kasus tersebut secara manusiawi.
Insiden serupa ternyata juga terjadi sebelumnya. Pada 28 Oktober, sebuah pesawat lain membawa 176 warga Palestina mendarat di Johannesburg, dan sebagian dari mereka diteruskan ke negara lain.
“Keluarga dari kelompok pertama mengatakan kepada kami bahwa anggota keluarga yang lain akan segera datang memakai pesawat kedua, dan tak ada satu pun yang tahu soal pesawat tersebut,” pungkas Sooliman.
Pemerintah Afsel menegaskan komitmennya untuk menyelidiki pihak-pihak yang terlibat dalam pengiriman warga Palestina ini, termasuk dugaan eksploitasi dan pelanggaran prosedur imigrasi.
Sementara itu, para penumpang yang telah diizinkan masuk wajib mematuhi seluruh persyaratan selama masa bebas visa 90 hari mereka.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
