Connect with us

Internasional

Pilu! Bocah 11 Tahun Ceritakan Momen Terakhir Bertemu Sang Ibu yang Tewas dalam Serangan Rudal Rusia

Roman Oleksiv, bocah Ukraina korban serangan rudal Rusia, menceritakan momen terakhir bersama ibunya di Parlemen Eropa hingga membuat penerjemah menangis.

Logompn

Published

on

Pilu! bocah 11 tahun ceritakan momen terakhir bertemu sang ibu yang tewas dalam serangan rudal rusia
Pilu! Bocah 11 Tahun Ceritakan Momen Terakhir Bertemu Sang Ibu yang Tewas dalam Serangan Rudal Rusia. Gambar : Tangkapan Layar YouTube/The Independent

MPN Indonesia 29 Desember 2025 - Roman Oleksiv, bocah laki-laki berusia 11 tahun asal Ukraina, membagikan kisah pilu tentang momen terakhir bersama sang ibu sebelum perempuan itu tewas akibat serangan rudal Rusia di Vinnytsia, Ukraina tengah, pada (14/7/22).

Kesaksian tersebut ia sampaikan langsung di hadapan Parlemen Eropa di Brussels dan meninggalkan suasana haru.

Momen itu menjadi emosional ketika penerjemah yang menyampaikan pernyataan Roman tak kuasa menahan tangis hingga harus menghentikan terjemahan sejenak.

Kesaksian Roman di Parlemen Eropa

Dalam video yang dibagikan oleh The Independent melalui kanal YouTube pada Jumat (12/12), Roman memperkenalkan dirinya dalam bahasa Ukraina sebelum mengisahkan pertemuan terakhirnya dengan sang ibu di rumah sakit, tepat saat serangan terjadi.

“Pada tanggal 14 Juli 2022… Maaf, saya juga agak emosional,” ucap sang penerjemah sambil mengusap air mata dan berhenti sejenak sebelum melanjutkan penerjemahan pernyataan Roman, dikutip MPN Indonesia Selasa (23/12).

Saat Roman berbicara dengan tenang mengenai detik-detik terakhir melihat ibunya, sang penerjemah kembali terhenti, menunduk, dan menangis.

Seorang pria kemudian terdengar berkata, “Saya akan bantu kamu, jangan khawatir,” sebelum mengambil alih tugas menerjemahkan kesaksian tersebut.

Serangan Rudal di Vinnytsia

Roman dan ibunya berada di sebuah rumah sakit ketika Rusia meluncurkan tiga rudal ke lokasi tersebut.

Serangan itu menewaskan 28 orang, termasuk ibu Roman, serta melukai lebih dari 200 orang lainnya.

Roman sendiri mengalami luka bakar serius dan harus menjalani lebih dari 30 kali operasi, termasuk cangkok kulit, sebagai bagian dari proses pemulihan.

Sejak kejadian itu, ia tinggal di Lviv dan terus menjalani perawatan medis.

Baca Juga:  Israel Serang Doha Qatar, Sasar Pemimpin Besar Hamas

Peristiwa tersebut menjadikan Roman simbol penderitaan anak-anak di tengah konflik Rusia dan Ukraina yang dimulai pada Februari 2022.

Dalam perkembangan konflik, lebih dari satu juta tentara Rusia dilaporkan tewas atau terluka, sementara korban dari pihak Ukraina diperkirakan berkisar antara 60.000 hingga 100.000 tentara, dengan total korban mendekati 400.000 jiwa, berdasarkan laporan The Guardian pada Juni 2024.

Dukungan Internasional dan Kisah yang Difilmkan

Roman sempat bertemu Paus Fransiskus sebanyak tiga kali melalui program Alliance Unbroken Kids sebelum Paus wafat.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangka Hari Anak Sedunia pada (25/5/24) di Vatikan, bersama anak-anak dari Ukraina, Palestina, Belarus, dan Indonesia.

Kisah hidup Roman juga diangkat dalam film pendek berjudul Romchyk yang diproduksi oleh mahasiswa Goldsmiths, University of London.

Film tersebut kemudian ditayangkan dalam KTT Internasional tentang Hak Anak di Vatikan.

Kostiantyn Bidnenko, sutradara film tersebut, mengaku tergerak membuat film setelah membaca artikel tentang Roman.

“Bagi saya, dia menjadi simbol semua anak yang menderita karena perang,” pungkas Kostiantyn kepada BBC.

Di tengah proses pemulihan, Roman tetap mengejar cita-citanya sebagai penari profesional.

Pada (2/12/23), ia tampil dalam kompetisi dansa ballroom di Lviv, meski wajahnya masih tertutup masker akibat luka bakar yang dialaminya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending