Connect with us

Internasional

Siapa Pengganti Paus Fransiskus? Ini Deretan Kandidat Terkuat Paus Selanjutnya

Setelah wafatnya Paus Fransiskus, dunia Katolik menanti konklaf pemilihan paus baru dengan sejumlah kandidat kuat dari berbagai belahan dunia.

Logompn

Published

on

Siapa pengganti paus fransiskus ini deretan kandidat terkuat paus selanjutnya
Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus. Gambar : Vatican Media/Handout Via Reuters

MPN Indonesia 26 April 2025 - Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada Senin Paskah (21/4) di usia 88 tahun, dunia Katolik kini menanti dengan penuh harap siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin spiritual umat Katolik global.

Prosesi konklaf di Vatikan untuk memilih paus baru akan segera dimulai, dan sejumlah nama calon paus yang disebut sebagai “papabile” mulai mencuat.

Kandidat-kandidat tersebut berasal dari berbagai penjuru dunia dan diperkirakan akan mempengaruhi arah Gereja Katolik di masa depan.

Proses Konklaf dan Kriteria Pemilihan Paus

Dalam tradisi Gereja Katolik, pemilihan paus dilakukan melalui prosesi konklaf yang melibatkan kardinal berusia di bawah 80 tahun.

Proses pemilihan ini mengharuskan calon paus meraih dua pertiga suara dari kardinal yang hadir.

Meskipun setiap pria Katolik yang telah dibaptis memenuhi syarat, sejak tahun 1378, hanya kardinal yang dipilih untuk posisi ini.

Pemilihan paus sering kali penuh kejutan, sebagaimana yang terjadi pada pemilihan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Fransiskus, yang pada awalnya tidak dianggap sebagai kandidat utama dalam konklaf.

Hal ini menunjukkan betapa dinamisnya proses pemilihan paus, yang tidak selalu dapat diprediksi.

Kandidat dari Eropa dan Amerika

Sebagaimana dikutip MPN Indonesia dari The Associated Press, sejumlah nama kuat dari Eropa dan Amerika kini menjadi perhatian banyak pihak. Salah satunya adalah Kardinal Peter Erdo dari Hungaria.

Erdo memiliki pengaruh besar di kalangan kardinal dari Afrika dan Eropa, serta pernah membantu Paus Fransiskus dalam beberapa pertemuan penting di Vatikan pada 2014 dan 2015, termasuk kunjungan kepausan ke Budapest.

Baca Juga:  Sri Mulyani Kini Diangkat jadi Anggota Dewan Direksi Yayasan Milik Bill Gates!

Kardinal Reinhard Marx dari Jerman juga disebut-sebut sebagai salah satu kandidat potensial.

Sebagai penasihat utama Paus Fransiskus, Marx mendukung reformasi Gereja melalui jalur sinode, meski pendapatnya sering mendapat penolakan dari kalangan konservatif.

Marc Ouellet, kardinal asal Kanada, juga masuk dalam daftar kandidat. Ouellet dikenal karena perannya sebagai pemimpin kantor uskup Vatikan selama lebih dari satu dekade.

Meskipun dikenal sebagai figur konservatif, ia tetap mendorong keterlibatan perempuan dalam tata kelola gereja.

Pietro Parolin, Menteri Luar Negeri Vatikan yang berasal dari Italia, juga dianggap sebagai kandidat kuat yang bisa membawa tradisi paus asal Italia kembali setelah tiga periode terputus.

Di Amerika Serikat, nama Robert Prevost, yang dilahirkan di Chicago, juga mencuat.

Prevost memiliki pengalaman panjang di Peru dan kemudian diangkat oleh Paus Fransiskus untuk peran penting di Vatikan, menjadikannya sebagai kandidat yang patut diperhitungkan.

Kandidat dari Afrika

Dengan meningkatnya populasi Katolik di Afrika, yang kini menyumbang sekitar 20% penganut Katolik global, seruan untuk memilih paus asal Afrika semakin kuat.

Dua tokoh dari Afrika yang kini mendapatkan perhatian adalah Kardinal Peter Turkson dari Ghana dan Kardinal Fridolin Ambongo Besungu dari Republik Demokratik Kongo.

Turkson, yang terkenal melalui keterlibatannya di Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, serta upayanya dalam mediasi konflik di Ghana, dianggap memiliki kualitas yang mencerminkan karakter Paus Fransiskus, terutama dalam hal rendah hati dan kepedulian terhadap kaum miskin.

Sementara itu, Kardinal Fridolin Ambongo Besungu, yang dikenal dengan sikap tegasnya terhadap isu-isu kontroversial seperti pemberkatan pasangan sesama jenis, juga disebut sebagai kandidat yang potensial.

Ambongo memiliki hubungan erat dengan Paus Fransiskus, dengan keikutsertaannya dalam Dewan Penasihat Kardinal serta dukungannya terhadap perdamaian di Kongo.

Baca Juga:  Mensesneg Ungkap Respons Prabowo soal Kasus Bupati Sudewo

Tokoh Lain yang Dipertimbangkan

Selain kandidat-kandidat utama tersebut, ada beberapa nama lain yang turut diperhitungkan.

Robert Sarah dari Guinea, mantan kepala kantor liturgi Vatikan, dikenal sebagai tokoh konservatif yang kritis terhadap kebijakan Paus Fransiskus, terutama mengenai selibat imamat.

Kardinal Christoph Schoenborn dari Austria, yang memiliki hubungan dekat dengan Benediktus XVI dan Paus Fransiskus, juga menjadi kandidat meskipun usianya sudah mencapai 80 tahun.

Luis Antonio Tagle dari Filipina, yang dipandang sebagai calon paus Asia pertama, juga menjadi perhatian karena kedekatannya dengan Paus Fransiskus, serta perannya dalam memperluas pengaruh gereja di Asia dan Afrika.

Matteo Zuppi, Uskup Agung Bologna dari Italia, yang dikenal karena kedekatannya dengan Komunitas Sant’Egidio dan upayanya dalam misi perdamaian, juga dianggap sebagai kandidat potensial.

Tantangan dalam Pemilihan

Meski dukungan terhadap kandidat dari Afrika semakin meningkat, pemilihan paus kali ini tetap akan menghadapi sejumlah tantangan.

Usia Turkson yang telah mencapai 76 tahun dan pandangan tegas Ambongo terhadap homoseksualitas bisa menjadi hambatan dalam konklaf ini.

Selain itu, sikap para kardinal terhadap isu-isu sensitif lainnya, seperti reformasi Gereja dan peran perempuan dalam gereja, juga akan mempengaruhi keputusan akhir dalam memilih pemimpin Gereja Katolik yang baru.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending