Lifestyle
6 Fakta Menarik di Balik Kemerdekaan Indonesia, Ada Naskah Proklamasi di Tong Sampah
Simak 6 fakta unik kemerdekaan Indonesia yang jarang diketahui, mulai dari Bung Karno sakit sebelum proklamasi hingga naskah asli yang sempat dibuang.
MPN Indonesia 17 Agustus 2026 - Menjelang peringatan HUT RI, kisah seputar Proklamasi 17 Agustus 1945 selalu menarik untuk kembali dibaca.
Di balik momen bersejarah itu, ada sejumlah fakta unik yang jarang diketahui, mulai dari kondisi Bung Karno sebelum membacakan proklamasi, perjalanan naskah asli, hingga dokumentasi yang nyaris disita Jepang.
Tidak berhenti di situ, perjalanan awal Indonesia setelah merdeka juga menyimpan banyak cerita menarik.
Mulai dari perpindahan ibu kota, wafatnya WR Supratman tepat pada 17 Agustus, hingga catatan Hindia Belanda sebagai wakil Asia pertama yang tampil di Piala Dunia 1938.
Berikut sejumlah fakta unik kemerdekaan Indonesia yang bisa menambah wawasan sekaligus melihat kembali sisi lain dari perjalanan sejarah bangsa.
Fakta Unik Kemerdekaan Indonesia
1. Bung Karno Sakit sebelum Membacakan Proklamasi
Salah satu fakta unik kemerdekaan Indonesia yang jarang diketahui adalah kondisi Presiden Soekarno sehari sebelum membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Saat itu, Soekarno mengalami gejala malaria tertiana. Tanggal 17 Agustus 1945 juga bertepatan dengan bulan Ramadan sehingga ia tidak menjalankan ibadah puasa karena sedang sakit.
Pada pagi hari, Soekarno dibangunkan dokter pribadinya, dr. Soeharto, setelah mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak enak dan mengalami demam tinggi.
Malam sebelumnya, ia begadang bersama sejumlah tokoh di rumah Laksamana Tadashi Maeda untuk menyusun naskah proklamasi.
Setelah mendapatkan suntikan dan obat, Soekarno tertidur hingga sekitar pukul 09.00 WIB.
Versi lain menyebutkan Soekarno juga menerima madu Yaman dari Faradj bin Said bin Awad Martak.
Menurut cerita tersebut, madu itu membantu memulihkan kondisinya sehingga dapat membacakan teks proklamasi hingga selesai beserta pidato singkatnya.
Sebagai bentuk terima kasih, Soekarno kemudian menulis surat yang ditandatangani sendiri menggunakan cap resmi Kepresidenan Republik Indonesia.
Setelah prosesi proklamasi selesai, ia kembali beristirahat di kamarnya.
2. Naskah Asli Proklamasi Sempat Berakhir di Tong Sampah
Perumusan teks proklamasi dilakukan pada dini hari 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda setelah Hotel des Indes tidak mengizinkan kegiatan setelah pukul 22.30 WIB.
Perumusan dilakukan oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.
Proses tersebut disaksikan oleh Sukarni, Sudiro, dan BM Diah.
Setelah rumusan disepakati sekitar pukul 04.00 WIB, Sukarni mengusulkan agar naskah cukup ditandatangani Soekarno dan Hatta. Usulan tersebut diterima para tokoh yang hadir.
Selanjutnya, Soekarno meminta Sayuti Melik mengetik naskah tersebut. Setelah selesai mengetik, naskah tulisan tangan Bung Karno justru dibuang.
“Usai mengetik, Melik meremas-remas naskah (teks proklamasi yang ditulis Bung Karno) itu. Dia pikir kertas itu tidak diperlukan lagi, karena sudah ada naskah ketikan. Naskah itu dibuang ke tempat sampah,” kata Andaryoko, dikutip MPN Indonesia dari Detik pada Senin (17/8).
Naskah tersebut kemudian diselamatkan oleh BM Diah yang hadir sebagai wartawan dan saksi proses perumusan proklamasi.
Ia menyimpan dokumen itu selama 47 tahun sebelum menyerahkannya kepada Presiden Soeharto.
Naskah asli kini disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia dengan ruang penyimpanan bersuhu sekitar 18-20 derajat Celsius.
Dengan demikian, sejarah mencatat terdapat dua naskah proklamasi, yaitu naskah tulisan tangan Soekarno dan naskah ketikan Sayuti Melik yang menjadi dokumen resmi karena ditandatangani Soekarno-Hatta.
3. Dokumentasi Proklamasi Nyaris Disita Jepang
Peristiwa penting lain dalam fakta unik sejarah kemerdekaan Indonesia adalah penyelamatan dokumentasi proklamasi.
Foto-foto hasil dokumentasi hampir disita Jepang. Frans Mendur kemudian menyelamatkan hasil dokumentasi tersebut dengan mengubur negatif film di bawah pohon yang berada di kantor Harian Asia Raja agar tidak ditemukan.
Dokumentasi itu kemudian menjadi bagian penting dalam catatan sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
4. WR Supratman Wafat pada 17 Agustus
Tanggal 17 Agustus juga berkaitan dengan peringatan wafat pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman.
“WR Supratman itu betul meninggal tanggal 17 Agustus 1938 di Surabaya,” kata Ketua Umum Yayasan Wage Rudolf Soepratman, Budi Harry J.
Menurut Budi, masih terdapat perbedaan informasi mengenai tempat dan tanggal lahir WR Supratman.
“Masyarakat masih mendapati fakta menyimpang tentang kontroversi hari dan tempat lahirnya WR Supratman. Tapi kami perlu meluruskan informasi bahwa beliau (WR Supratman) lahir di Jakarta tepatnya di daerah Jatinegara pada tanggal 9 Maret 1903, dan meninggal 17 Agustus 1938 di Surabaya,” ujar Budi.
5. Ibu kota Indonesia Pernah Berpindah Tiga Kali
Setelah kemerdekaan, kondisi keamanan menyebabkan pusat pemerintahan beberapa kali berpindah dari Jakarta.
Wilayah yang pernah menjadi ibu kota Indonesia meliputi:
- Yogyakarta, mulai 2 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949.
- Bukittinggi, setelah Yogyakarta jatuh pada Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.
- Bireuen, yang menurut sejumlah catatan pernah menjadi ibu kota Indonesia selama sekitar satu pekan.
Pemindahan dilakukan akibat situasi keamanan setelah masuknya NICA dan agresi militer Belanda.
6. Indonesia Pernah Tampil di Piala Dunia
Catatan sejarah lain yang sering menjadi bagian dari fakta unik kemerdekaan Indonesia adalah keikutsertaan Hindia Belanda pada Piala Dunia 1938 di Prancis.
“Hindia-Belanda yang kemudian menjadi Indonesia merupakan negara Asia pertama yang ikut serta dalam Piala Dunia FIFA pada tahun 1938,” tulis FIFA, dikutip dari laman resminya.
Tim Hindia Belanda lolos ke putaran final setelah Jepang mengundurkan diri dari babak kualifikasi.
Skuad saat itu terdiri dari sejumlah pemain, antara lain:
- Tan Mo Heng
- Herman Zommers
- Franz Meeng
- Isaac Pattiwael
- Frans Pede Hukom
- Hans Taihattu
- Pan Hong Tjien
- Jack Sammuels
- Suwarte Soedermandji
- Anwar Sutan
- Achmad Nawir (kapten)
Pada 5 Juni 1938, Hindia Belanda menghadapi Hungaria di Stade Velodrome, Reims, Prancis, dan kalah dengan skor 0-6.
Hingga saat ini, catatan tersebut masih menjadi satu-satunya penampilan Indonesia di putaran final Piala Dunia dan menjadi bagian dari berbagai cerita yang kembali dikenang setiap peringatan HUT RI.
(RAD/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
