Lifestyle
Apa Penyebab Rupiah Melemah terhadap Dolar AS?
Rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS dipicu konflik Timur Tengah, permintaan valas domestik, dan tekanan pasar global.
MPN Indonesia 8 Juni 2026 - Nilai rupiah melemah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) sejak Kamis (4/6).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan eskalasi konflik di Timur Tengah berdampak langsung terhadap pergerakan rupiah.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai,” ujar Destry dalam keterangannya, dikutip MPN Indonesia melalui Kumparan.com pada Senin (8/6).
Ketegangan tersebut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, serta memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor eksternal, BI mencatat tekanan domestik berasal dari tingginya kebutuhan valuta asing seiring pola repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri (ULN).
Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan menekan kurs domestik.
Penyebab Rupiah Melemah terhadap Dolar AS
1. Ketegangan Geopolitik dan Dampak Global
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang.
Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik tersebut meningkatkan risiko inflasi global dan memperkuat aset berbasis dolar.
Situasi ini memicu capital outflow dari pasar domestik sehingga permintaan terhadap rupiah menurun dan kurs tertekan.
Selain konflik Timur Tengah, perubahan kebijakan moneter negara maju, krisis energi, serta ketegangan geopolitik global turut memengaruhi stabilitas nilai tukar.
Ketidakpastian global mendorong investor memindahkan aset ke instrumen yang dinilai lebih aman.
2. Kenaikan Suku Bunga Negara Maju
Langkah bank sentral Amerika Serikat dalam menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi domestik meningkatkan daya tarik investasi berbasis dolar.
Peningkatan suku bunga asing membuat aset dalam mata uang negara maju relatif lebih stabil dibandingkan negara berkembang, sehingga terjadi perpindahan modal yang menekan rupiah.
3. Tingginya Kebutuhan Valuta Asing Domestik
Permintaan dolar di dalam negeri meningkat seiring repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
Ketergantungan terhadap mata uang asing untuk kebutuhan perdagangan dan kewajiban ULN memperbesar tekanan pada kurs.
Ketika permintaan valas meningkat sementara pasokan terbatas, nilai rupiah cenderung melemah.
4. Inflasi dan Stabilitas Harga
Inflasi yang tidak terkendali berpotensi menggerus daya beli dan meningkatkan biaya produksi.
Inflasi tinggi dapat memicu depresiasi karena pasar menghindari mata uang dengan nilai riil yang menurun.
Sebaliknya, inflasi rendah dan stabil mendukung daya saing ekspor dan memperkuat kurs.
5. Neraca Perdagangan dan Harga Komoditas
Surplus neraca perdagangan meningkatkan permintaan terhadap rupiah karena pembeli luar negeri menukarkan dolar untuk membayar produk domestik.
Namun, ketergantungan pada impor dapat memicu defisit yang menekan kurs.
Sebagai negara pengekspor komoditas seperti minyak sawit dan batu bara, fluktuasi harga global turut memengaruhi penerimaan devisa dan pergerakan mata uang.
Langkah Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Kurs
BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen intervensi.
Intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Di sisi lain, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi lintas negara melalui skema Local Currency Transaction (LCT) yang telah bekerja sama dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Diversifikasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar dan memitigasi volatilitas kurs.
Dampak Pergerakan Rupiah
Pergerakan kurs berdampak langsung pada harga barang impor, biaya produksi, dan daya beli masyarakat.
Pelemahan rupiah terhadap dolar membuat harga barang impor meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga di dalam negeri.
Sebaliknya, penguatan yang berlebihan dapat memengaruhi daya saing ekspor.
Fluktuasi nilai mata uang juga memengaruhi perencanaan keuangan jangka panjang, terutama dalam menjaga daya beli tabungan di tengah inflasi yang tercatat 3,08 persen pada Mei 2026.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
