Connect with us

Lifestyle

Berkaca dari Kasus Dilan Janiyar, Benarkah Anak Fatherless Rentan Salah Pilih Pasangan?

Psikolog keluarga ungkap kehilangan figur ayah bisa pengaruhi cara seseorang memilih pasangan dan membangun hubungan sehat saat dewasa.

Logompn

Published

on

Berkaca dari kasus dilan janiyar, benarkah anak fatherless rentan salah pilih pasangan
Berkaca dari Kasus Dilan Janiyar, Benarkah Anak Fatherless Rentan Salah Pilih Pasangan? Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 5 Mei 2025 - Kasus Dilan Janiyar yang dikaitkan dengan isu perselingkuhan artis mengundang perhatian publik pada faktor psikologis dalam pola hubungan, khususnya latar belakang tanpa sosok ayah atau fatherless.

Kasus perselingkuhan ini memunculkan pertanyaan besar, apakah ketiadaan figur ayah berpengaruh pada cara seseorang memilih pasangan?

Menurut dr Rizqina, seorang ahli psikologi keluarga, kehilangan sosok ayah bisa berdampak besar pada perkembangan emosional anak, termasuk dalam membentuk preferensi pasangan saat dewasa.

“Sosok ayah yang penuh kasih sayang dan suportif akan membentuk standar bagi anak tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan oleh pasangannya. Ini akan mempengaruhi bagaimana anak tersebut mendekati hubungan di masa depan,” ujar dr Rizqina kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat pada Senin (5/5).

Dalam kasus seperti Dilan Janiyar, pengalaman masa kecil tanpa ayah atau dengan ayah yang tidak suportif bisa membentuk pola hubungan yang kurang sehat di usia dewasa.

Dr Rizqina menambahkan, anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung kesulitan membangun relasi yang sehat dan sering gagal mengenali tanda-tanda bahaya (red flags) dalam hubungan.

Dampak Fatherless terhadap Relasi Dewasa

Anak yang dibesarkan oleh ayah yang hangat dan suportif umumnya memiliki rasa percaya diri tinggi dan cenderung memilih pasangan dengan kualitas serupa.

Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa figur ayah atau dengan ayah yang bersikap kasar bisa menganggap hubungan yang tidak sehat sebagai hal yang biasa.

“Sikap ayah sangat memengaruhi cara anak melihat relasi. Jika mereka tak merasa dihargai sejak kecil, mereka bisa kesulitan membangun kepercayaan dalam hubungan,” kata dr Rizqina.

Baca Juga:  TikToker Dilan Janiyar Diselingkuhi, Suami Malah Minta Harta Gono-gini

Narasi Positif dan Pentingnya Support System

Meski kehilangan figur ayah bisa berdampak negatif, dr Rizqina menekankan pentingnya membangun narasi positif dalam keluarga.

“Walau ayah punya kekurangan, penting untuk menyoroti sisi positifnya, seperti kasih sayang atau kehadiran di momen penting,” jelasnya.

Ia juga menyarankan kehadiran figur laki-laki lain, seperti kakek atau paman, yang bisa membantu anak membentuk pandangan tentang relasi yang sehat.

Yang terpenting, menurutnya, adalah memastikan anak memiliki support system yang kuat agar tetap merasa dihargai dan dicintai.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending