Connect with us

Lifestyle

Jenis Psikoterapi yang Efektif untuk Mengatasi Kecemasan!

Simak, ini 6 jenis psikoterapi yang bisa membantu kamu untuk mengatasi kecemasan.

Logompn

Published

on

Jenis psikoterapi yang efektif untuk mengatasi kecemasan!
Jenis Psikoterapi yang Efektif untuk Mengatasi Kecemasan! | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 2 September 2025 - Rasa cemas sering kali muncul dalam kehidupan sehari-hari, entah karena tekanan pekerjaan, hubungan personal, atau ketakutan akan masa depan.

Namun, jika kecemasan dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini bisa mengganggu kesehatan mental dan kualitas hidup. Salah satu cara yang terbukti efektif untuk mengatasinya adalah melalui psikoterapi.

Psikoterapi tidak hanya membantu seseorang memahami akar dari kecemasan, tetapi juga membekali dengan strategi praktis untuk mengelola pikiran dan emosi.

Terdapat berbagai jenis psikoterapi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan, berikut adalah beberapa jenis psikoterapi yang dapat membantu mengatasi kecemasan.

1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

CBT merupakan metode psikoterapi yang terbukti ilmiah paling sering digunakan untuk mengatasi kecemasan.

Dalam praktiknya, CBT membantu seseorang mengubah keyakinan yang tidak realistis tentang kemungkinan maupun dampak buruk dari suatu ancaman.

Proses ini dilakukan dengan berbagai teknik kognitif dan perilaku, seperti exposure (paparan bertahap terhadap hal yang memicu kecemasan).

Sebuah penelitian terhadap 41 studi pada tahun 2018 menunjukkan bahwa CBT efektif dalam menangani gangguan yang berkaitan dengan kecemasan dibandingkan plasebo.

CBT terbukti paling efektif untuk gangguan obsesif-kompulsif (OCD), gangguan kecemasan umum (GAD), serta gangguan stres akut.

Umumnya, CBT dilakukan dalam jangka pendek, sekitar sekali seminggu selama 3–5 bulan, dan difokuskan pada masalah spesifik yang ingin diatasi.

2. Acceptance and Commitment Therapy (ACT)

Melansir Healthline, metode ACT berangkat dari pemahaman bahwa pikiran dan perasaan menyakitkan adalah bagian dari kehidupan. Semakin kita berusaha menghindarinya, justru semakin besar penderitaan yang muncul.

Baca Juga:  Ternyata Ini Alasan Mengapa Ada Orang yang Tak Suka Mendengarkan Musik

ACT membantu individu untuk lebih fleksibel secara psikologis, dengan cara menerima pikiran serta perasaan sulit tanpa menghakimi.

Dalam prosesnya, klien juga diarahkan untuk tetap bertindak sesuai nilai hidup yang diyakini, meski sedang berada dalam kondisi emosional yang berat.

ACT menggunakan berbagai teknik mindfulness dan strategi perubahan perilaku. Terapi ini dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, serta bisa diterapkan dalam jangka pendek maupun panjang, sesuai kebutuhan.

3. Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT)

MBCT menggabungkan meditasi mindfulness dengan teknik CBT tradisional. Tujuannya adalah membantu seseorang lebih sadar terhadap pikiran dan emosinya, termasuk kecemasan, tanpa bereaksi berlebihan.

Metode ini MBCT mengajarkan individu untuk:

  • Memperhatikan momen saat ini tanpa menghakimi
  • Mengenali dan menantang pola pikir negatif
  • Mengelola gejala kecemasan seperti napas cepat dan ketegangan

Terapi ini umumnya dilakukan dalam kelompok, namun juga bisa dilakukan secara individu. MBCT efektif untuk berbagai jenis gangguan kecemasan dan sering dipadukan dengan pengobatan medis atau terapi lainnya.

4. Terapi Psikodinamik

Terapi psikodinamik didasarkan pada gagasan bahwa banyak pikiran, perasaan, dan perilaku kita dipengaruhi oleh dorongan bawah sadar, termasuk pengalaman masa lalu maupun emosi yang ditekan.

Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengungkap dan menyelesaikan konflik bawah sadar agar individu dapat membuat keputusan yang lebih sehat dan sadar.

5. Dialectical Behavior Therapy (DBT)

DBT mengombinasikan sesi terapi individu dengan pelatihan keterampilan dalam kelompok. Fokusnya adalah pada pengaturan emosi, hubungan interpersonal, dan keterampilan pemecahan masalah.

Dalam DBT, teknik mindfulness juga digunakan, seperti pernapasan dalam atau relaksasi otot progresif, untuk meredakan kecemasan di saat itu juga.

Sebuah artikel penelitian dari Journal of Contemporary Psychotheraphy yang terbit pada 2020 membandingkan efektivitas CBT dan DBT pada penderita GAD.

Baca Juga:  10 Cara agar Mental Kuat, Sederhana tapi Ampuh!

Hasilnya, CBT lebih efektif dalam menurunkan kecemasan dan depresi, sedangkan DBT lebih unggul dalam meningkatkan regulasi emosi dan kesadaran diri (mindfulness).

6. Interpersonal Psychotherapy (IPT)

IPT berfokus pada peningkatan hubungan sosial dan kemampuan berinteraksi. Meskipun tidak secara khusus ditujukan untuk kecemasan, IPT bisa efektif bila kecemasan berkaitan dengan masalah sosial atau relasi interpersonal.

Melalui IPT, individu dapat belajar mengenali masalah komunikasi, memperbaiki cara berinteraksi, serta meningkatkan kemampuan sosial.

Perubahan ini pada akhirnya dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending