Lifestyle
Masker Apa yang Cocok untuk Melindungi Diri dari Abu Vulkanik?
N95, KN95, KF94, dan FFP2 direkomendasikan untuk melindungi pernapasan dari abu vulkanik. Simak jenis masker yang disarankan dokter dan Kemenkes.
MPN Indonesia 8 September 2026 - Penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, dan sebagian Jawa Barat, membuat penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan saat beraktivitas di luar ruangan.
Sejumlah dokter, Kementerian Kesehatan, dan pakar kebencanaan merekomendasikan respirator seperti N95 atau KN95 karena memiliki kemampuan menyaring partikel halus.
“Jadi yang paling ideal itu untuk memfiltrasi partikel-partikel halus dari debu vulkanik itu kita menyebutnya dalam dunia medis itu sebagai respirator. Nah, respirator itu banyak jenisnya. Yang paling terkenal adalah masker N95. Itu adalah salah satu jenis respirator,”ajar dokter spesialis paru Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, dikutip MPN Indonesia melalui Kompas, Selasa (8/9).
Abu Vulkanik Membutuhkan Masker dengan Filtrasi Partikel Halus
Paparan abu vulkanik berpotensi mengganggu kesehatan, terutama saluran pernapasan.
Partikel halus yang terbawa angin dapat masuk ke saluran napas apabila tidak menggunakan perlindungan yang sesuai.
Dokter spesialis paru Prof. Agus Dwi Susanto menjelaskan respirator menjadi pilihan paling ideal karena dirancang untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil.
Selain N95 dan KN95, masker lain yang memiliki kemampuan filtrasi terhadap partikel PM2,5 hingga 95 persen juga dapat digunakan selama memenuhi standar penyaringan yang dibutuhkan.
Jenis Masker yang Direkomendasikan
Kementerian Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dalam surat edaran tersebut, masyarakat dianjurkan menggunakan perlindungan pernapasan sesuai standar saat berada di luar ruangan.
Jenis pelindung yang direkomendasikan meliputi:
- Masker N95.
- Masker KN95.
- Masker KF94.
- Masker FFP2.
- Masker setara dengan kemampuan filtrasi serupa.
Apabila respirator belum tersedia, masyarakat masih dapat menggunakan masker medis sebagai perlindungan sementara.
Prof. Agus mengatakan masker bedah tetap lebih baik dibandingkan tidak menggunakan pelindung sama sekali.
“Kemudian yang berikutnya, kalau misalnya tidak ada, apakah bisa memakai masker yang biasa? Yang biasa dikenal seperti masker bedah atau surgery mask. Pada prinsipnya, itu bisa dipakai,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan kemampuan penyaringan masker bedah berada di bawah respirator seperti N95 atau KN95.
“Artinya kalau tidak ada yang respirator seperti KN95 atau respirator lain yang filtrasi sampai 95 persen, ya mendingan tetap dipakai masker seperti masker bedah,” tambahnya.
Masker Kain Tidak Direkomendasikan
Sejumlah penelitian menunjukkan masker bedah memiliki keterbatasan ketika digunakan menghadapi paparan partikel halus karena masih terdapat celah di bagian samping.
Sementara itu, masker kain dinilai tidak efektif menyaring partikel mikro dari abu vulkanik.
Prof. Agus juga tidak menyarankan penggunaan masker kain dalam kondisi tersebut.
“Kemudian, masker kain gimana? Masker kain tidak disarankan. Karena secara teori, penggunaan masker kain itu tidak jauh berbeda seperti orang yang tidak pakai masker. Untuk memfiltrasi debu partikel halus-halus tersebut,” jelasnya.
Perlindungan Tambahan Saat Terpapar Abu Vulkanik
Selain menggunakan masker yang sesuai, perlindungan terhadap mata dan kulit juga dianjurkan ketika berada di wilayah terdampak hujan abu vulkanik.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengimbau masyarakat menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan.
“Gunakan Alat Pelindung Diri (APD): Gunakan masker (N95 atau masker medis) dan kacamata pelindung jika beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah ISPA dan iritasi mata akibat abu tajam,” ujar Daryono dalam unggahannya, dikutip MPN Indonesia melalui X @daryono_eq_talk, Selasa (8/9).
Prof. Agus turut mengingatkan perlindungan tubuh juga penting selama berada di luar rumah.
“Jadi kalau Anda mungkin aktivitas di luar rumah, pakai baju, pakai kacamata, itu penting,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar mata yang terkena abu tidak langsung digosok.
“Jadi mata merah jangan langsung dikucek, justru debu yang ada di luar, kalau dikucek-kucek jadi menggores, bisa bikin luka. Jadi harus dicuci ya, kena air,” pungkasnya.
(RAD/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
