Olahraga
13 Fakta Unik Piala Dunia, dari Dugaan Mata-Mata Spanyol hingga Pemain Disembunyikan di Peternakan
Dikutip MPN Indonesia dari laman resmi FIFA, berikut deretan fakta unik Piala Dunia 1934 yang membuat turnamen ini tetap menarik untuk dibahas sampai sekarang.
MPN Indonesia 12 Juni 2026 - Piala Dunia selalu punya tempat khusus dalam sejarah sepak bola.
Bukan hanya karena pertandingan besar, gol dramatis, atau lahirnya para legenda, tetapi juga karena cerita-cerita kecil di balik layar yang kadang terdengar terlalu aneh untuk dipercaya.
Salah satu turnamen yang menyimpan banyak kisah unik adalah Piala Dunia edisi kedua, yang digelar di Italia pada 1934.
Turnamen ini tidak hanya mempertemukan negara-negara kuat pada masanya, tetapi juga membawa cerita unik yang menarik untuk dikulik.
Dikutip MPN Indonesia dari laman resmi FIFA, berikut deretan fakta unik Piala Dunia 1934 yang membuat turnamen ini tetap menarik untuk dibahas sampai sekarang.
1. Italia Jadi Tuan Rumah, tapi Ikut Kualifikasi
Salah satu fakta paling unik dari Piala Dunia 1934 adalah posisi Italia sebagai tuan rumah.
Biasanya, tuan rumah otomatis lolos ke putaran final. Namun pada edisi ini, Italia tetap harus menjalani babak kualifikasi.
Italia akhirnya memastikan tempat di turnamen setelah menang telak 4-0 atas Yunani.
2. Uruguay jadi Juara Bertahan yang Tidak Mempertahankan Gelar
Piala Dunia 1934 juga unik karena tidak diikuti Uruguay, sang juara bertahan edisi pertama pada 1930.
Uruguay memilih memboikot turnamen tersebut karena kecewa terhadap Italia yang sebelumnya tidak ikut ambil bagian dalam Piala Dunia 1930 di Montevideo.
Keputusan Uruguay membuat Piala Dunia 1934 kehilangan sang juara bertahan.
Sampai sekarang, Uruguay tetap menjadi satu-satunya juara bertahan Piala Dunia yang tidak mempertahankan gelarnya di turnamen berikutnya.
3. Vittorio Pozzo dan Attilio Ferraris Bertemu di Kedai Minuman
Salah satu cerita paling berwarna dari Piala Dunia 1934 datang dari pelatih Italia, Vittorio Pozzo, dan gelandang Attilio Ferraris.
Beberapa minggu sebelum turnamen, Pozzo masuk ke sebuah kedai minuman kumuh di Roma untuk mencari Ferraris.
Ferraris bukan pemain biasa. Ia dikenal sebagai gelandang dengan tekel keras, tetapi kariernya sedang bermasalah.
Ia sudah 18 bulan tidak membela Italia dan baru dipecat Roma pada Maret 1934 karena masalah indisipliner. Saat itu, ia juga disebut terjebak dalam alkohol dan perjudian.
Pozzo kemudian menantangnya secara langsung dengan mengatakan “Tinggalkan rokok, minuman, dan tongkat biliar, lalu ikut jika ingin punya kesempatan tampil di Piala Dunia”.
Ajaibnya, meski dalam keadaan mabuk, Ferraris mengikuti Pozzo.
Mengejutkannya lagi, ketika tiba di kamp latihan pra-Piala Dunia Italia di Danau Maggiore, Ferraris justru disebut Pozzo sebagai pemain dengan kondisi terbaik di antara semua orang.
4. Dua Pemain yang Saling Benci Dipaksa Berbagi Kamar
Vittorio Pozzo tidak hanya membuat keputusan mengejutkan dengan membawa Ferraris. Ia juga mengambil langkah berani terhadap Luis Monti dan Angelo Schiavio.
Keduanya disebut saling membenci. Banyak pihak menganggap Pozzo hanya bisa memilih salah satu dari mereka. Namun Pozzo justru memilih keduanya untuk masuk skuad Italia.
Tidak berhenti di situ, Pozzo juga mengumumkan bahwa Monti dan Schiavio harus berbagi kamar selama dua bulan di kamp latihan pra-Piala Dunia di Pegunungan Alpen Barat.
Keputusan ini terdengar berisiko, tetapi menunjukkan cara Pozzo mengelola ego, konflik, dan tekanan di dalam tim.
5. Gyorgy Sarosi Dianggap Hebat di Tiga Posisi Berbeda
Bintang muda Hongaria, Gyorgy Sarosi, baru berusia 21 tahun saat itu. Namun reputasinya sudah luar biasa.
Ia masuk dalam tim terbaik Eropa versi beberapa publikasi ternama. Yang membuatnya unik, Sarosi disebut sebagai pemain terbaik untuk tiga posisi berbeda: bek tengah, gelandang, dan penyerang.
6. Pelatih Romania Pernah Main Film
Piala Dunia 1934 juga punya cerita unik dari bangku pelatih Romania. Josef Uridil, pelatih Romania saat itu, bukan hanya dikenal di dunia sepak bola.
Ia sebelumnya pernah tampil dalam film berjudul Pflicht und Ehre atau Tugas dan Kehormatan di negara asalnya, Austria.
Tidak hanya itu, Uridil juga pernah menjadi inspirasi lagu kabaret yang ditulis oleh Hermann Leopoldi.
7. Pencetak Gol Amerika Serikat Menjadi Pelatih NFL
Aldo Donelli mencetak satu-satunya gol Amerika Serikat di Piala Dunia 1934. Namun kisahnya tidak berhenti di sepak bola. Donelli juga merupakan pemain American football.
Sosok yang dijuluki “Buff” itu menjadi pelatih Pittsburgh Steelers dan Cleveland Rams di NFL.
8. Para Pemain Punya Julukan Ikonik
Piala Dunia 1934 dipenuhi pemain dengan julukan menarik. Austria punya Matthias Sindelar, yang dikenal sebagai “The Mozart of Football” dan “The Paper Man”.
Italia juga punya banyak nama dengan julukan khas. Luis Monti disebut “Double Wide”, Enrique Guaita dikenal sebagai “The Black Pirate”, Felice Borel dijuluki “The Little Butterfly”, dan Gianpiero Combi disebut “The Rubber Man”.
9. Mesir hampir Ikut Piala Dunia Pertama
Mesir sebenarnya seharusnya berpartisipasi dalam Piala Dunia pertama. Namun badai menunda kapal mereka menuju Marseille.
Akibatnya, kapal Florida yang berangkat ke Uruguay sudah lebih dulu pergi tanpa mereka.
Empat tahun kemudian, Mesir akhirnya tampil di Piala Dunia 1934 dan menjadi tim Afrika pertama yang berpartisipasi dalam turnamen tersebut.
Dalam pertandingan melawan Hongaria, Abdelrahman Fawzy mencetak dua gol meski Mesir kalah 2-4.
10. Klub Brasil Menyembunyikan Pemainnya di Peternakan
Salah satu kisah paling tidak biasa datang dari Brasil. Palestra Italia, klub yang kini dikenal sebagai Palmeiras, disebut menyembunyikan para bintangnya seperti Lara dan Romeu Pellicciari di sebuah peternakan di pinggiran Sao Paulo.
Mereka bahkan dikelilingi oleh penjaga bersenjata agar tidak dipilih untuk Piala Dunia 1934.
Tanpa para pemain tersebut, Brasil tetap berangkat ke Italia. Perjalanan mereka pun tidak mudah.
Tim Brasil membutuhkan 12 hari untuk tiba di Genoa dengan kapal SS Conte Biancamano, lalu tersingkir hanya tiga hari kemudian oleh Spanyol.
11. Brasil Bertemu Spanyol di Kapal sebelum Bertanding
Brasil dan Spanyol ternyata sudah bertemu sebelum pertandingan mereka di Piala Dunia 1934. Keduanya berjumpa dalam perjalanan menuju Italia.
Pertemuan di kapal itu kemudian menjadi latar salah satu dugaan paling menarik dalam sejarah Piala Dunia.
Kiper Spanyol, Ricardo Zamora, dilaporkan memata-matai penyerang Brasil, Waldemar de Brito, saat berlatih tendangan penalti di atas kapal.
Ketika Brasil menghadapi Spanyol di Stadio Luigi Ferraris, Zamora berhasil menebak arah tendangan penalti Waldemar de Brito dan menggagalkannya.
12. Ada Pemain yang Bertanding dengan Kacamata
Piala Dunia 1934 juga menghadirkan detail unik soal perlengkapan pemain.
Bek Belanda Jan van Diepenbeek dan penyerang Swiss Leopold Kielholz bermain dengan mengenakan kacamata.
13. Ikat Kepala Luigi Bertolini Diprotes Lawan
Selain pemain berkacamata, ada juga kisah tentang gelandang Italia, Luigi Bertolini. Ia mengenakan ikat kepala saat bermain.
Hal itu ternyata diprotes oleh lawan di final. Mereka menilai ikat kepala tersebut memberikan keuntungan saat menyundul bola-bola berat.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
