Connect with us

Otomotif

Kenapa Gerbong Wanita di Paling Depan dan Belakang Kereta?

Mengapa gerbong perempuan ditempatkan di ujung kereta? Ini sejarah dan alasan operasional KAI.

Logompn

Published

on

Kenapa Gerbong Wanita di Paling Depan dan Belakang Kereta?
Kenapa Gerbong Wanita di Paling Depan dan Belakang Kereta? Gambar: X/@CommuterLine

MPN Indonesia 30 April 2026 - Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KAI CommuterLine pada Senin (27/4) pukul 20.52 WIB di wilayah Bekasi Timur memicu sorotan terhadap posisi gerbong khusus perempuan.

Peristiwa ini menyebabkan sebanyak 16 penumpang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

Mayoritas korban adalah perempuan yang berada di gerbong perempuan paling belakang.

Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai alasan penempatan gerbong perempuan di bagian paling depan dan belakang kereta serta latar belakang kebijakan tersebut.

Pada 2015, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek saat itu, Muhammad Nurul Fadhila, menjelaskan alasan gerbong wanita ditaruh di gerbong pertama dan terakhir.

“Kalau ditaruh di tengah mereka sulit untuk mencapainya. Bisa dibayangkan di Tanah Abang yang orangnya sangat ramai. Kalau yang sekarang kan lebih mudah,” kata Fadhila dalam keterangannya.

Alasan Penempatan Gerbong Khusus Perempuan

Gerbong khusus perempuan atau Kereta Khusus Wanita (KKW) pertama kali diresmikan pada Kamis, 19 Agustus 2010, oleh Menteri Perhubungan saat itu, Freddy Numberi, di Depo KRL Depok, Jawa Barat.

“Pengoperasian Kereta Khusus Wanita merupakan terobosan baru sebagai wujud pelayanan transportasi kereta api kepada publik pengguna kereta api,” kata Freddy Numberi saat itu.

Pada awal peluncurannya, KKW dioperasikan untuk lintas Jakarta Kota–Bekasi, Jakarta Kota–Bogor, serta Tanah Abang–Serpong.

Dari sisi fisik, gerbong perempuan dapat dikenali melalui stiker berwarna merah muda di sisi luar gerbong yang memuat ikon wanita serta ikon larangan bagi penumpang nonperempuan.

Penempatan gerbong perempuan di ujung depan dan belakang rangkaian kereta disebut sebagai hasil pertimbangan operasional.

“Selama ini kami melakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek. Pertama, agar tidak terjadi harassment. Kedua, memberi kemudahan akses untuk para perempuan. Ketiga, memberikan security yang lebih karena lebih dekat dengan petugas di ujung,” ujar Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4).

Baca Juga:  Mengenal Jamur Matsutake, Jamur Liar yang Harganya Rp33 Juta per Setengah Kilo

Kebijakan gerbong perempuan lahir sebagai respons atas kepadatan dan risiko pelecehan seksual di transportasi umum, terutama pada jam sibuk ketika ruang menjadi terbatas.

Warna merah muda di pintu gerbong menjadi penanda yang memudahkan identifikasi di tengah arus komuter yang padat.

Secara operasional, penempatan di dua ujung rangkaian dinilai membantu membagi arus naik-turun penumpang agar tidak terpusat di tengah kereta serta memudahkan pengawasan oleh petugas karena lokasinya terlokalisasi.

Dengan meningkatnya jumlah penumpang kereta setiap tahun, kebijakan gerbong perempuan menjadi bagian dari pengaturan operasional untuk memberikan pilihan ruang perjalanan bagi perempuan di tengah mobilitas tinggi pengguna kereta di wilayah perkotaan.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending