Connect with us

Otomotif

KTM Hadapi Krisis Keuangan, Kerugian Capai Rp23 Triliun

KTM, produsen sepeda motor ternama asal Austria, tengah menghadapi krisis keuangan serius.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 15t153310.290
Mantan CEO KTM Stefan Pierer | Gambar: Dok. Motorsport.com

MPN Indonesia 15 Mei 2025 - KTM, produsen sepeda motor ternama asal Austria, tengah menghadapi krisis keuangan serius setelah mencatatkan kerugian sebelum pajak sebesar 1,28 miliar euro atau sekitar Rp23 triliun dalam kinerja awal 2024.

Dikutip MPN Indonesia dari Motorcyclenews, Situasi ini menunjukkan penurunan pendapatan yang drastis serta peningkatan utang perusahaan.

Induk KTM Minus Rp3,6 Triliun

Krisis terjadi di bawah naungan Pierer Mobility, induk perusahaan KTM, yang juga mencatat ekuitas negatif hingga minus 199 juta euro atau setara Rp3,6 triliun.

Pendapatan perusahaan anjlok 29,4%, dari 2,66 miliar euro pada 2023 menjadi 1,88 miliar euro di 2024.

Pada saat yang sama, utang bersih meningkat menjadi 1,64 miliar euro, mendorong manajemen untuk segera melakukan restrukturisasi menyeluruh terhadap bisnis korporasi mereka.

Penjualan Merosot

Penjualan sepeda motor KTM merosot menjadi 292.497 unit pada 2024, turun 21% dari 372.511 unit pada tahun sebelumnya.

Penurunan ini menegaskan tantangan besar yang dihadapi dalam bisnis korporasi, terutama dengan lebih dari 60.000 unit dijual melalui mitra di India, Bajaj.

Pasar Eropa masih menjadi kontributor terbesar dengan 38% dari total penjualan, disusul Amerika Utara sebesar 24%, serta gabungan pasar India dan Indonesia sebesar 21%.

Restrukturisasi dan Pemangkasan Operasional

Untuk mengatasi tekanan keuangan, Pierer Mobility mengupayakan suntikan dana sekitar 600 juta euro dari investor eksternal, langkah yang dinilai krusial untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Sebelumnya, produksi di pabrik utama KTM di Mattighofen telah dihentikan sejak Desember 2024 dan baru kembali berjalan pada pertengahan Maret, menyusul suntikan dana sebesar 150 juta euro dari Bajaj.

Baca Juga:  Lego Bangun Pabrik Canggih di Vietnam Senilai Rp16,84 Triliun

Seluruh lini produksi ditargetkan beroperasi penuh kembali pada musim panas 2025 apabila pendanaan tambahan berhasil diperoleh.

PHK Karyawan

Efisiensi operasional juga dilakukan melalui pengurangan inventaris sebesar 18% dan pemangkasan produksi.

Dari sisi tenaga kerja, perusahaan telah memangkas 874 karyawan hingga Desember 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemutusan hubungan kerja berlanjut pada awal 2025 dengan pemangkasan 750 posisi tambahan, serta 220 posisi lainnya yang terdampak rencana penjualan MV Agusta. Total lebih dari 1.850 karyawan telah kehilangan pekerjaan.

(AKM/NID/RAD)

Trending