Connect with us

Politik

Gubernur BI: Rupiah Undervalue tapi Yakin akan Menguat dan Stabil Lagi

Bank Indonesia menyebut rupiah saat ini undervalued meski sempat menyentuh Rp17.424 per dolar AS. BI optimistis nilai tukar akan stabil dan menguat ke depan.

Logompn

Published

on

Gubernur BI Rupiah Undervalue tapi Yakin akan Menguat dan Stabil Lagi
Gubernur BI Rupiah Undervalue tapi Yakin akan Menguat dan Stabil Lagi. Gambar: YouTube/Sekretariat Presiden

MPN Indonesia 6 Mei 2026 - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued, namun diyakini akan kembali stabil dan menguat ke depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Perry setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Selasa (5/5) malam, dalam pertemuan yang membahas perkembangan nilai tukar rupiah yang tengah tertekan hingga menyentuh level Rp17.424 per dolar AS.

Usai pertemuan, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pembahasan bersama Presiden mencakup dua hal penting terkait nilai tukar.

“Tadi dibahas dan mendapatkan arahan dari Bapak Presiden mengenai nilai tukar, berkaitan dengan dua hal penting mengenai nilai tukar. Bahwa yang pertama nilai tukar yang sekarang itu undervalued,” ujar Perry, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu (6/5).

“Dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” lanjutnya.

Fundamental Ekonomi dan Faktor Penekan Rupiah

Perry Warjiyo menegaskan bahwa secara fundamental, kondisi perekonomian Indonesia masih kuat meskipun rupiah mengalami tekanan dalam jangka pendek.

“Inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor global dan faktor musiman.

Dari sisi global, ia menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak dunia, peningkatan suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS menjadi pemicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Selain itu, terjadi arus keluar modal dari negara berkembang.

“Dan Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia,” ucap Perry.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor eksternal yang memberikan tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Tanggapi Kritik Pandji Pragiwaksono soal Jawa Barat: Saya Penggemar Celetukan Korektif Mas Pandji

Sementara itu, dari sisi musiman, permintaan terhadap dolar AS meningkat pada periode April, Mei, dan Juni.

Perry menjelaskan bahwa kenaikan permintaan tersebut berkaitan dengan beberapa kebutuhan rutin.

“Nah, secara musiman April, Mei, Juni memang permintaan terhadap dolar AS tinggi, ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jemaah haji. Tapi rupiah adalah undervalued dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Perry Warjiyo juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen.

Selain itu, inflasi disebut berada pada level rendah, kredit tumbuh tinggi, serta cadangan devisa dalam kondisi kuat.

Faktor-faktor tersebut dinilai sebagai fondasi yang mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah hingga panjang.

(AKM/NID/RAD)

Trending