Connect with us

Politik

Jakarta Dikepung Banjir, Dedi Mulyadi Singgung soal Aliran Dana Perusahaan di Jabar

Dedi Mulyadi menanggapi banjir di Jakarta dengan menyinggung persoalan aliran sumber daya antara daerah penyangga dan kota metropolitan itu.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn (39)
Jakarta Dikepung Banjir, Dedi Mulyadi Singgung soal Aliran Dana Perusahaan di Jabar | Gambar: YT/KANG DEDI MULYADI CHANNEL

MPN Indonesia 8 Juli 2025 - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi banjir yang melanda Jakarta dengan menyinggung persoalan aliran sumber daya antara daerah penyangga dan kota metropolitan itu.

Menurut Dedi, aliran ke Jakarta tidak hanya berupa air (banjir kiriman), melainkan juga dana yang berasal dari perusahaan-perusahaan besar yang produksi di Jawa Barat.

Pasalnya, kata Dedi, banyak perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Barat, namun membayar pajak menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) induk yang terdaftar di Jakarta.

Akibatnya, pendapatan pajak secara administratif tercatat masuk ke Jakarta, bukan ke daerah tempat operasionalnya, yaitu Jawa Barat.

“Yang mengalir ke Jakarta itu bukan hanya air tetapi juga uang. Perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Barat itu membayar pajak menggunakan NPWP induk yang berpusat di Jakarta sehingga dana bagi hasilnya mengalir ke Jakarta,” kata Dedi, dilihat MPN Indonesia dari Instagram @dedimulyadi71, Selasa (8/7).

Jawa Barat Hadapi Beban Infrastruktur dan Lingkungan

Kendati demikian, Dedi menjelaskan pemerintah di Jawa Barat tetap akan fokus mengatasi persoalan-persoalan yang ada di wilayahnya akibat aktivitas perusahaan-perusahaan besar itu.

Ia menyebut ada tiga hal utama yang menjadi beban daerah, yaitu kerusakan jalan, pencemaran sungai, dan penurunan kualitas udara.

“Pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan desa harus berjuang memperbaiki jalan yang rusak karena setiap hari dilewati truk besar pengangkut material industri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sungai-sungai di Jawa Barat juga terus mengalami pencemaran akibat limbah, sementara udara tercemar oleh emisi dari aktivitas industri.

“Harus berjuang memperbaiki kualitas udara karena dampak dari pencemaran industri. Harus memperbaiki kualitas lingkungan karena semakin menyempitnya lahan,” tegas Dedi.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Tegur Lucky Hakim karena Liburan ke Jepang Tanpa Izin

Meski menghadapi berbagai tantangan dengan keterbatasan anggaran, Dedi menegaskan pihaknya tetap berkomitmen menjalankan tugas karena kecintaan terhadap daerah.

“Kami lakukan itu semua dengan dana yang seadanya tetapi kita tetap semangat karena kita sangat mencintai daerah ini,” pungkasnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending