Connect with us

Teknologi

AI dalam Pendidikan: Inovasi atau Ancaman?

Kehadiran kecerdasan buatan (AI) makin meluas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di pendidikan.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 26t162851.910
AI dalam Pendidikan: Inovasi atau Ancaman? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 26 Mei 2025 - Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin meluas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dunia pendidikan.

Namun, seiring dengan manfaat yang ditawarkan, teknologi ini juga menyimpan potensi penyalahgunaan yang perlu diwaspadai.

Kepala Program Studi Bisnis Digital Politeknik Piksi Input Serang, Resita Rahma, menilai bahwa teknologi AI memiliki sisi kerentanan yang tak bisa diabaikan.

“Kerentanan teknologi merupakan sisi lain dari manfaat teknologi. Bagi pendidikan, kerentanan ini merupakan isu yang sangat penting dan cukup kompleks sehingga perlu dimitigasi,” ujar Resita kepada MPN Indonesia saat dihubungi melalui aplikasi perpesanan, Sabtu (24/5).

Institusi Perlu Menyesuaikan Diri

Menurutnya, penyalahgunaan teknologi AI dapat terjadi apabila tidak diimbangi dengan pemahaman etika dan kebijakan yang tepat.

Oleh sebab itu, kemajuan teknologi juga menuntut lembaga pendidikan tinggi untuk segera beradaptasi.

“Mulai dari kemunculan AI pun, perguruan tinggi serta program studi harus menyesuaikan perubahan ini dalam kurikulum, bahkan menjadikan sebuah mata kuliah wajib bagi mahasiswa,” jelasnya.

Dibutuhkan Pelatihan bagi Mahasiswa

Tak hanya institusi, pelatihan ulang bagi mahasiswa juga dianggap penting dalam menghadapi lompatan teknologi ini.

“Perubahan ini pasti akan berdampak bagi perkembangan teknologi dan kehidupan di masa depan, sehingga pengenalan sekaligus pelatihan pun perlu dilakukan,” tambah Resita.

Ketika ditanya soal tantangan dalam menjembatani etika dan perkembangan teknis dalam riset AI, Resita mengakui adanya kesulitan.

“Etika merupakan hal yang dijadikan prinsip bagi seseorang, sehingga sulit untuk diukur,” kata Resita.

Kendati demikian, ia mengatakan tetap dibutuhkan batasan-batasan dalam menggunakan AI agar etika tetap digunakan dalam pembelajaran.

“Hal ini tetap perlu dilakukan agar pemahaman tentang etika ini tetap ditanamkan di individu,” imbuhnya.

Baca Juga:  Benarkan AI Bisa Prediksi Perjalanan Karier hingga Gaji Orang lewat Foto?

Dengan demikian, seiring dengan pesatnya perkembangan AI, kesadaran akan risiko penyalahgunaan serta penguatan aspek etika menjadi sangat penting, khususnya dalam lingkungan pendidikan tinggi.

Upaya ini tidak hanya akan membentuk generasi digital yang adaptif, tetapi juga bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending