Teknologi
Komdigi Buka Suara soal Elon Musk yang Cancel Netflix karena Konten LGBT Anak
Komdigi siap awasi Netflix usai Elon Musk serukan boikot karena serial anak menampilkan karakter LGBT.
MPN Indonesia 5 Oktober 2025 - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menanggapi reaksi CEO Tesla Elon Musk yang menyerukan pembatalan langganan Netflix karena konten serial anak yang menampilkan karakter LGBT.
Elon Musk menyampaikan seruan tersebut melalui akun X @elonmusk pada Rabu (1/10).
“Batalkan Netflix demi kesehatan anak-anak Anda,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia, Minggu (5/10).
Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, menyatakan bahwa pihaknya akan menindak Netflix apabila ditemukan pelanggaran terhadap aturan perlindungan anak di Indonesia.
“Ya, pastinya, semua PSE (penyelenggara sistem elektronik) kita awasi. Apalagi untuk anak, pelindungan (terhadap) anak kan kita upayakan untuk itu,” ujar Alex saat ditemui di Jakarta pada Kamis (2/10).
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan masuk ke Komdigi terkait tayangan yang dimaksud.
“Belum ada informasi masuk. (Laporan juga) belum,” tegas Alex.
Namun, ia tidak menutup kemungkinan pemanggilan terhadap Netflix bila ditemukan aduan.
Kontroversi Serial Anak Dead End: Paranormal Park
Awal mula kontroversi berawal dari serial animasi Dead End: Paranormal Park yang masih tersedia di platform Netflix.
Serial ini menampilkan karakter utama bernama Barney, seorang remaja laki-laki yang mengidentifikasi diri sebagai transgender dan gay.
Ia diceritakan kabur dari rumah karena tidak diterima oleh neneknya. Dalam perjalanannya, Barney bertemu dengan karakter lain, termasuk seorang gadis biseksual.
Adegan dalam serial ini menjadi sorotan setelah akun konservatif Libs of TikTok mengunggah cuplikan yang menampilkan pernyataan Barney sebagai transgender.
“OMG. Dead End Paranormal Park, sebuah acara di Netflix, mendorong pro transgender pada ANAK-ANAK. Acara ini diiklankan untuk ANAK USIA 7 TAHUN,” tulis Elon dalam unggahannya.
Serial ini pertama kali tayang pada 2022 dan dihentikan setelah dua musim, namun masih tersedia untuk ditonton oleh pengguna, termasuk anak-anak.
Seruan Boikot oleh Elon Musk
Reaksi Elon Musk terhadap konten tersebut memicu ajakan boikot terhadap Netflix.
Dalam beberapa unggahannya di X, Musk menyatakan bahwa Netflix menjalankan agenda “woke transgender” dan menyetujui unggahan pengguna lain yang menyebut Netflix aktif mendorong propaganda transgender.
Ia juga mengklaim perusahaan tersebut memiliki kebijakan perekrutan yang “anti kulit putih”.
Seruan Musk diduga berkaitan dengan situasi pribadinya sebagai ayah dari Vivian Wilson, seorang transgender yang secara hukum mengganti nama dan jenis kelaminnya.
Dalam dokumen hukum, Vivian menyatakan tidak ingin berhubungan dengan ayah kandungnya dalam bentuk apa pun.
Komdigi akan Tetapkan Sanksi
Terkait potensi sanksi, Komdigi menyebut bahwa layanan Over The Top (OTT) seperti Netflix tetap diawasi sebagai penyelenggara sistem elektronik.
“Kalau ada aduan masuk, kita akan melihat, kita panggil untuk melakukan konfirmasi karena layanan OTT ini atau Video On Demand ini kan agak berbeda dengan PSE yang user-generated content,” jelas Alex.
Jika ditemukan pelanggaran, sanksi administratif akan diterapkan.
“Iya, sanksinya seperti yang kita terapkan selama ini, sanksi administratif,” tegas Alex.
Dampak Terhadap Netflix
Meski seruan Musk mendapatkan perhatian luas, dampaknya terhadap perusahaan teknologi ini masih terbatas.
Saham Netflix tercatat turun 4% dalam pekan ini, namun mengalami kenaikan lebih dari 60% sepanjang tahun 2025.
Perusahaan ini memiliki 301,63 juta pelanggan per akhir kuartal keempat 2024 dan nilai kapitalisasi pasar mencapai sekitar USD 490 miliar.
Analis dari Wedbush Securities, Alicia Reese, menyatakan bahwa komentar Musk datang terlambat untuk memengaruhi data pelanggan di kuartal ketiga.
“Komentar Musk datang terlambat di kuartal ketiga untuk memberikan dampak berarti pada jumlah pelanggan,” ujarnya.
Sementara itu, Tim Seymour dari Seymour Asset Management menambahkan bahwa walaupun kontroversi dapat memicu penurunan saham sementara, posisi pasar Netflix terlalu kuat untuk terdampak signifikan dalam jangka panjang.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
