Connect with us

Teknologi

Apakah AI akan Menggantikan Peran Manusia? Ini Pendapat Para Pakar

Adopsi AI meningkat signifikan. Pakar UGM, Sam Altman, dan Bill Gates ungkap dampak kecerdasan buatan terhadap pasar kerja global.

Logompn

Published

on

Apakah AI akan Menggantikan Peran Manusia Ini Pendapat Para Pakar
Apakah AI akan Menggantikan Peran Manusia Ini Pendapat Para Pakar. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 12 Februari 2026 - Penggunaan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terus berkembang dan menimbulkan perdebatan global tentang potensi penggantiannya terhadap peran manusia di berbagai sektor.

Pada 6 Desember 2024, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) melalui tim Microeconomics Dashboard (Micdash) mengungkapkan bahwa adopsi AI meningkat signifikan dan berdampak pada pasar kerja, termasuk kekhawatiran penggantian pekerjaan oleh mesin dan robot.

Dr. Qisha Quarina, koordinator studi Micdash FEB UGM, menyatakan bahwa 77% masyarakat masih khawatir AI akan menghilangkan pekerjaan dan menggantikan tugas manusia.

“Situasi ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tentang proses kerja yang semakin digantikan oleh mesin dan robot,” ungkapnya, dikutip MPN Indonesia melalui laman resmi UGM pada Kamis, (12/2).

Namun, ia menambahkan bahwa AI berpotensi mengoptimalkan pekerjaan dan menjadi pelengkap kekurangan sumber daya manusia, bukan pengganti total.

Pernyataan serupa disampaikan CEO OpenAI, Sam Altman.

“AI won’t replace humans. But humans who use AI will replace those who don’t. (AI tidak akan menggantikan manusia. Tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak menggunakannya),” ungkap Altman, dikutip MPN Indonesia melalui Times of India.

Pandangan ini menegaskan bahwa pengaruh AI dalam dunia kerja lebih mengarah pada pergeseran peran daripada penghapusan total peran manusia.

Peran dan Dampak AI dalam Pasar Kerja dan Inovasi Global

Menurut riset Micdash, AI memiliki peran dalam menyederhanakan pencarian informasi, meningkatkan produktivitas, serta memantau aktivitas pekerja melalui sistem manajemen sumber daya manusia.

Dr. Qisha juga menyebut bahwa AI belum efektif untuk bidang yang tidak dapat diprediksi atau di luar pengetahuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Baca Juga:  Elon Musk Ramal 3 Tahun Lagi AI bakal Lampaui Kecerdasan Manusia

Karena itu, ia menyarankan agar sektor pendidikan dan perusahaan berinvestasi pada pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan agar tenaga kerja tetap relevan dalam era digital.

Raniah Salsabila, peneliti Micdash lainnya, menyatakan bahwa adopsi AI tidak dapat dihindari karena dirancang untuk membantu penyelesaian tugas dan meningkatkan produktivitas.

Ia menambahkan bahwa alat seperti ChatGPT telah mendukung berbagai aktivitas, termasuk riset, penyuntingan teks, dan pembangkitan ide secara efisien.

“Ini menunjukkan bahwa AI tidak sekadar menggantikan manusia, tetapi lebih tepatnya menggantikan keterampilan khusus yang dibutuhkan pekerja agar tugas menjadi lebih efisien,” ujarnya.

Bill Gates, dalam wawancara di acara The Tonight Show pada Februari 2024, menyebut bahwa AI akan mengurangi kebutuhan manusia untuk “sebagian besar hal” dalam dekade mendatang.

“Akan ada beberapa hal yang akan kita simpan untuk diri kita sendiri. Tetapi dalam hal membuat barang, memindahkan barang, dan menanam makanan, seiring waktu hal itu pada dasarnya akan menyalesaikan masalah,” kata Gates, dikutip MPN indonesia melalui kanal YouTube The Tonight Show Starring Jimmy Fallon pada Kamis, (12/2).

Gates menyebut kemajuan AI sebagai bagian dari era baru yang ia sebut “free intelligence (kecerdasan gratis)”, yakni kecerdasan yang dapat diakses secara luas dan berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan.

Dalam blog-nya pada 2023, Gates menulis bahwa teknologi AI adalah “the most important advance in technology since the graphical user interface [in 1980]”.

Meski menyambut positif perkembangan ini, Gates juga menyatakan bahwa ada kekhawatiran yang valid terkait AI saat ini, terutama soal kesalahan sistem dan penyebaran informasi palsu.

Sementara itu, CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, dalam bukunya The Coming Wave, menyatakan bahwa teknologi AI bersifat “fundamentally labor replacing (menggantikan tenaga kerja pada dasarnya)” dan dapat membawa dampak destabilisasi besar pada pasar kerja dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga:  Baterai Nuklir Mini Buatan China Disebut Bisa Bertahan 50 Tahun Tanpa Dicas

Namun, menurut Gates, AI dapat memberikan manfaat besar bagi umat manusia, termasuk terobosan pengobatan untuk penyakit mematikan, solusi inovatif untuk perubahan iklim, dan pendidikan berkualitas tinggi untuk semua orang.

Ia juga menegaskan bahwa jika ia memulai bisnis baru, maka bisnis tersebut akan berbasis AI karena potensinya yang luar biasa dalam mendorong inovasi teknologi dan ekonomi.

Dengan demikian, menurut para pakar, meskipun teknologi dan inovasi global di bidang kecerdasan buatan membawa tantangan bagi dunia kerja, AI dinilai akan lebih menggantikan jenis keterampilan tertentu daripada menggantikan manusia sepenuhnya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending