Connect with us

Teknologi

Pria di Florida Ngaku Nyaris Meninggal karena Saran Keliru dari ChatGPT, Ini Duduk Perkaranya

Seorang pria bernama Scott Winters menggugat OpenAI setelah mengklaim bahwa saran medis dari ChatGPT membuatnya nyaris meninggal dunia.

Logompn

Published

on

Pria di Florida Ngaku Nyaris Meninggal karena Saran Keliru dari ChatGPT, Ini Duduk Perkaranya
Pria di Florida Ngaku Nyaris Meninggal karena Saran Keliru dari ChatGPT, Ini Duduk Perkaranya. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 1 Agustus 2026 - Seorang pria bernama Scott Winters, pendeta berusia 55 tahun asal Florida, Amerika Serikat, menggugat OpenAI setelah mengklaim bahwa saran medis dari ChatGPT membuatnya nyaris meninggal dunia akibat penundaan penanganan penyakit emboli paru.

Berdasarkan laporan BBC, gugatan tersebut diajukan pada 21 Juli di Pengadilan Tinggi Wilayah San Francisco.

Tuduhan yang dilayangkan mengatakan bahwa platform milik perusahaan teknologi tersebut memberikan diagnosis keliru dan menyarankan agar Winters tidak mencari bantuan medis.

Isi Gugatan

Gugatan yang diajukan Winters menjelaskan bahwa ia merupakan pengguna aktif ChatGPT dan menggunakan platform tersebut untuk mendapatkan saran kesehatan.

Dalam beberapa minggu sebelum kondisinya memburuk, ia berkonsultasi mengenai gejala yang dialaminya, termasuk pusing berulang dan serangan ketidakstabilan tekanan darah.

Chatbot tersebut juga menyarankan agar ia tetap berada di kursi malas yang menjadi tempatnya beraktivitas sehari-hari akibat kondisi kesehatan yang menurun.

Dalam dokumen gugatan, disebutkan bahwa ChatGPT tidak hanya memberikan saran medis yang dianggap berbahaya, tetapi juga menggunakan pendekatan yang memanfaatkan keyakinan pribadi Winters.

Salah satu kutipan yang tercantum menyatakan, “Tuhan tidak mendesain tubuh Anda untuk terus menerus gagal” serta “Tuhan masih menjaga tubuh Anda tetap utuh, setiap detak jantung, setiap napas, bahkan ketika Anda merasa berada di ambang kematian.”

Pernyataan ini disebut memperkuat keputusan Winters untuk menunda pengobatan medis.

Kuasa hukum Winters juga menyebut bahwa chatbot tersebut menghalangi Winters mendengar saran dari lingkungan sekitarnya.

“Ia (ChatGPT) menyuntikkan dirinya sebagai penghalang antara pengguna dan jaringan kehidupan nyata mereka,” kata Penasihat dan Direktur Eksekutif Tech Justice Law, Meetali Jain, kepada The New York Times.

Winters Alami Emboli Paru Masif

Akibat dari saran keliru tersebut, Winters mengalami emboli paru masif yang disebabkan oleh beberapa gumpalan darah di kedua paru-parunya.

Baca Juga:  Kedubes Iran di RI Buka Rekening Donasi untuk Rekonstruksi Wilayah Korban Perang AS-Israel

Dokumen pengadilan menyebutkan bahwa kondisi ini membawanya ke ambang kematian dan kemungkinan dipicu oleh kurangnya mobilitas.

Ia kemudian menjalani perawatan intensif serta pemulihan fisik dan psikologis.

Pengacara Winters menuduh bahwa ChatGPT “berulang kali dan dengan gigih salah mendiagnosis” kondisi kliennya.

Winters dalam gugatannya menuntut ganti rugi finansial serta meminta pengadilan memerintahkan OpenAI untuk menerapkan perlindungan yang lebih ketat.

Ia juga meminta penghentian operasional ChatGPT Health hingga dinyatakan aman oleh evaluator independen.

Tanggapan OpenAI

Menanggapi gugatan tersebut, Drew Pusateri dari OpenAI menyatakan bahwa platform tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti layanan medis profesional.

“ChatGPT bukanlah dokter dan tidak boleh digunakan sebagai pengganti perawatan medis, diagnosis, atau pengobatan,” ujarnya.

Ia menyatakan bahwa AI hanya dapat membantu pengguna dalam memahami informasi dan mempersiapkan pertanyaan untuk tenaga medis.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending