Connect with us

Lifestyle

Tips Menghadapi Anak yang Tantrum karena Media Sosialnya Dibatasi Komdigi

Menkes Budi Gunadi dan Menkomdigi Meutya Hafid bagikan tips menghadapi anak tantrum karena media sosial dinonaktifkan untuk anak di bawah 16 tahun.

Logompn

Published

on

Tips Menghadapi Anak yang Tantrum karena Media Sosialnya Dibatasi Komdigi
Tips Menghadapi Anak yang Tantrum karena Media Sosialnya Dibatasi Komdigi. Gambar: Instagram/@bgsadikin

MPN Indonesia 12 Maret 2026 - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memberikan tips kepada para orang tua, khususnya ibu-ibu, dalam menghadapi anak yang mengalami tantrum akibat pembatasan media sosial.

Hal ini disampaikan melalui unggahan Instagram pribadi Budi Gunadi pada Rabu (11/3), menyusul rencana kebijakan penonaktifan akun media sosial anak-anak di bawah usia 16 tahun pada platform berisiko tinggi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang akan mulai berlaku pada 28 Maret.

“Siapa nih ibu-ibu yang bakal pusing karena ngelihat anak-anaknya bakal tantrum akunnya diblokir sama Komdigi? Ayo kumpul sini,” ujar Budi Gunadi dalam unggahan tersebut, dikutip MPN Indonesia melalui Instagram @bgsadikin pada Kamis, (12/3).

“Saya ingatkan kembali kepada ibu-ibu dan juga orang tua khususnya bahwa nanti per 28 Maret, akun anak-anak di bawah usia 16 tahun pada platform risiko tinggi akan dinonaktifkan,” tambah Meutya.

Pembatasan ini dilakukan sebagai upaya menekan dampak negatif kecanduan gadget dan media sosial pada anak-anak.

Tips untuk Orang Tua Saat Anak Tantrum karena Media Sosial Dibatasi

Dalam unggahannya, Budi membagikan sejumlah langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua saat anak mengalami tantrum karena akun media sosial mereka dibatasi.

Pertama, orang tua diminta untuk memvalidasi emosi anak terlebih dahulu, bukan memarahinya.

“Tips pertama, kalau anak ibu tantrum, validasi dulu emosi mereka, jangan dimarahin balik. Jelaskan secara bertahap,” papar Budi.

Kedua, anak diajak untuk beraktivitas di luar rumah, seperti ikut kelas olahraga bersama teman-temannya atau berpiknik di taman.

Baca Juga:  Heboh di Media Sosial, ART Pakai Barang Majikan untuk Konten TikTok

“Tips kedua, ajak anak main di luar rumah. Bisa ikut kelas olahraga dengan teman-temannya atau bisa piknik di taman,” jelas Budi.

Ketiga, orang tua diimbau untuk lebih banyak berbicara dan mendengarkan anak-anaknya.

“Ketiga, ngobrol yang banyak sama anak-anaknya. Turunkan ego sedikit, dengar cerita mereka jadi sahabat-sahabat mereka mumpung lagi liburan,” jelas Meutya.

Budi juga mengingatkan bahwa saat anak mulai menunjukkan gejala kecanduan dan orang tua merasa kewalahan, mereka bisa memanfaatkan layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan.

“Nah ibu-ibu kalau sudah mulai kewalahan menghadapi anak-anaknya, nggak usah pusing, bisa konsultasi di puskesmas terdekat. Sekarang sudah ada hampir 6.000 puskesmas milik pemerintah yang sudah punya layanan kesehatan jiwa,” tambahnya.

Komitmen Pemerintah Mengatasi Kecanduan Digital Anak

Dalam unggahan, Menkes Budi turut menyampaikan dukungan terhadap kebijakan Komdigi.

Ia menyebut kecanduan gadget dan media sosial pada anak sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan.

“Kecanduan gadget dan media sosial pada anak sudah masuk tahap yang mengkhawatirkan dan merusak fokus mereka. Makanya saya sangat mendukung langkah Ibu Menkomdigi @meutya_hafid untuk menertibkan platform berisiko tinggi bagi anak dengan usia di bawah 16 tahun,” tulisnya.

Budi menyebut reaksi tantrum adalah bentuk dari ketergantungan. Oleh karena itu, ia kembali menekankan pentingnya pendekatan yang tenang dan menyenangkan dari orang tua.

“Pasti akan ada drama anak mengamuk saat akses internetnya dibatasi. Itu reaksi wajar dari sebuah adiksi/ketergantungan. Tips dari saya, hadapi dengan tenang. Jangan terpancing emosi dan memarahi mereka balik. Validasi rasa kesalnya, lalu ajak mereka melakukan aktivitas pengganti yang menyenangkan di dunia nyata, seperti masak bareng, main di taman, atau berolahraga,” tambahnya.

Baca Juga:  Aliansi Mahasiswa UGM Dapat Kiriman Video Pelecehan Seksual di Medsos

Menutup pesannya, Budi mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengawal kebijakan pembatasan ini.

“Mari kita kembalikan masa kecil anak-anak kita ke dunia nyata, peralihan ke aktivitas fisik dan nyata sangat membantu tumbuh kembang fisik dan mental mereka. Yuk kita kawal kebijakan baik ini bersama-sama,” ujar Budi Gunadi.

(ADN/NID/RAD)

Trending