Diet
Ini 6 Kesalahan Intermitten Fasting yang Bisa Bikin Diet jadi Gagal
Intermittent fasting efektif turunkan berat badan jika dilakukan dengan benar. Kenali kesalahan fatal yang dapat menggagalkan diet.
MPN Indonesia 6 April 2026 - Intermitten fasting adalah metode diet dengan cara berpuasa dari konsumsi kalori dalam jangka waktu tertentu, yang berfokus pada pengaturan waktu makan dan waktu menahan asupan.
Meski dinilai efektif dan disebut memiliki dampak positif seperti membantu menurunkan berat badan, menghilangkan lemak, serta memperbaiki sensitivitas insulin, kesalahan dalam penerapannya masih sering terjadi.
Kesalahan intermitten fasting umumnya dilakukan oleh mereka yang belum memahami kebutuhan gizi dan nutrisi selama menjalani diet.
Tanpa pengaturan pola makan yang tepat, pemilihan jenis makanan yang sesuai, serta penyesuaian dengan kondisi tubuh, diet dapat berjalan tidak optimal dan berisiko menimbulkan gangguan seperti dehidrasi, lemas, hingga gangguan metabolisme.
Dalam praktiknya, kesalahan ini juga dapat menghambat hasil penurunan berat badan.
Berikut enam kesalahan intermitten fasting yang dapat membuat diet menjadi gagal, dikutip MPN Indonesia melalui Alodokter pada Senin (6/4).
1. Kurang Memenuhi Kebutuhan Cairan
Salah satu kesalahan intermitten fasting yang sering terjadi adalah kurang minum air putih.
Banyak orang terlalu fokus pada pengaturan waktu makan, tetapi mengabaikan kebutuhan cairan tubuh.
Pada awal puasa, tubuh membakar glikogen untuk menghasilkan energi.
Setelah cadangan glikogen habis, tubuh tidak lagi memiliki simpanan karbohidrat dan air untuk digunakan.
Akibatnya, tubuh menjadi mudah lelah, pusing, kurang fokus, dan tidak bersemangat.
Kondisi ini dapat mengganggu kelancaran diet serta keseimbangan gizi dan nutrisi tubuh.
2. Memilih Jenis Makanan yang Tidak Tepat
Kesalahan intermitten fasting berikutnya adalah mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak trans, gorengan, makanan dan minuman manis, serta makanan berbahan dasar tepung saat jendela makan.
Pola ini dapat meningkatkan kadar gula darah dan membuat rasa lapar datang lebih cepat.
Pilih makanan yang bisa membuat kenyang lebih lama, seperti buah, sayuran, sumber protein, dan sumber makanan dengan kandungan serat tinggi lainnya.
Pemilihan makanan yang kurang tepat dapat menghambat manfaat diet dan meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes serta gangguan jantung.
3. Pola Tidur Tidak Teratur dan Makan Tengah Malam
Waktu tidur yang tidak teratur juga termasuk kesalahan intermitten fasting.
Kurang tidur atau sering tidur larut malam dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh dan menurunkan efektivitas diet.
Selain itu, makan pada tengah malam berisiko mengganggu waktu istirahat tubuh.
Tubuh dirancang untuk mendapatkan energi dari makan pada siang hari dan beristirahat pada malam hari.
Kebiasaan makan larut malam disebut dapat meningkatkan risiko penyakit berat seperti diabetes dan stroke.
Gangguan pola tidur juga dapat mempersulit tubuh beradaptasi dengan perubahan pola makan.
4. Terlalu Ketat Membatasi atau Justru Terlalu Sedikit Makan
Makan terlalu sedikit atau membatasi asupan kalori secara drastis menjadi kesalahan intermitten fasting yang sering terjadi.
Pola makan intermittent fasting bukan membatasi jumlah kalori yang Anda konsumsi, melainkan membatasi waktu makan.
Tubuh tetap memerlukan asupan gizi dan nutrisi yang cukup selama fase makan untuk mendukung fase puasa.
Jika asupan terlalu sedikit, dapat muncul rasa lemas, pusing, hingga risiko defisiensi zat gizi.
Kondisi ini juga dapat memicu perubahan suasana hati serta kecenderungan makan berlebihan saat fase makan tiba.
5. Makan Terlalu Banyak Saat Fase Normal
Sebaliknya, makan terlalu banyak saat fase makan juga termasuk kesalahan intermitten fasting.
Konsumsi makanan secara berlebihan dapat membuat tubuh sulit beradaptasi ketika memasuki fase puasa.
Selain itu, terlalu banyak kalori yang masuk dapat memperlambat penurunan berat badan.
Mekanisme rasa kenyang dipengaruhi oleh peregangan lambung yang mengirim sinyal ke otak.
Jika terbiasa makan dalam jumlah besar, tubuh akan menunggu kebiasaan tersebut untuk menciptakan sensasi kenyang, sehingga fase puasa menjadi lebih sulit dijalani.
6. Tidak Memperhatikan Kondisi Kesehatan dan Konsistensi
Memaksakan intermitten fasting tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan termasuk kesalahan yang serius.
Orang dengan penyakit kronis, sedang hamil, atau menyusui berisiko jika menjalani diet tanpa konsultasi medis.
Selain itu, kembali ke pola makan lama setelah menjalani puasa dapat membuat manfaat diet tidak bertahan lama.
Konsistensi dalam menjaga pola makan sehat serta menyesuaikan diet dengan kondisi tubuh menjadi bagian penting agar intermitten fasting berjalan optimal.
Dengan memahami enam kesalahan ini, pelaku diet dapat lebih memperhatikan aspek gizi dan nutrisi serta menjalani diet sesuai dengan kebutuhan tubuh.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
