Internasional
Baru Dibuka, Iran Dikabarkan Tutup Lagi Selat Hormuz Buntut Israel Serang Lebanon dan Sebut AS Langgar Perjanjian
Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, sementara gencatan senjata dua pekan dengan AS terancam gagal.
MPN Indonesia 9 April 2026 - Iran dikabarkan kembali menutup Selat Hormuz pada Rabu (8/4) sebagai respons atas serangan Israel terhadap Lebanon.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat diumumkan.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memperburuk situasi keamanan regional setelah Israel melancarkan serangan di Lebanon.
Serangan yang menargetkan kawasan komersial dan permukiman di Beirut tersebut menyebabkan korban jiwa.
Dikutip MPN Indonesia dari Al Jazeera, korban mencapai 254 orang dan 1.165 lainnya luka-luka.
Iran menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang melibatkan Amerika Serikat, sehingga memutuskan kembali menutup Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut rencana pembicaraan damai “tidak masuk akal” karena Washington dianggap melanggar tiga dari sepuluh syarat Teheran, termasuk serangan Israel terhadap Hizbullah, dugaan pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone AS, serta penolakan terhadap kemampuan pengayaan uranium Iran.
Biaya Transit Selat Hormuz
Setelah penutupan kembali oleh Iran, hanya 11 kapal yang tercatat berhasil melintasi selat pada Rabu.
Beberapa kapal besar dilaporkan harus membayar hingga 1 dolar AS per barel minyak untuk dapat melintas, sementara Iran juga mengumumkan rute alternatif bagi kapal akibat risiko ranjau laut di jalur utama.
Gedung Putih mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dan menegaskan komitmennya untuk menjaga proses perdamaian tetap berjalan.
Juru bicara Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kesepakatan gencatan senjata tersebut “rapuh” dan terancam gagal.
Presiden AS Donald Trump juga menolak rencana pungutan biaya transit bagi kapal yang melintas di selat tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa berakhirnya perang di Lebanon merupakan bagian dari gencatan senjata.
“Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola sekarang berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dikutip MPN Indonesia dari Al Jazeera pada Kamis (9/4).
Pernyataan ini menegaskan posisi Iran yang mengaitkan stabilitas di Lebanon dengan keberlangsungan kesepakatan damai.
Netanyahu: Gencatan Senjata Tak Berlaku untuk Lebanon
Israel memperluas operasi militernya di Lebanon dengan menargetkan lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit, yang disebut sebagai gelombang serangan terbesar sejak 1 Maret.
Kepala Staf Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir menegaskan bahwa Israel akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyerang Hizbullah.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyatakan telah meluncurkan roket ke arah Israel utara sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata yang dipimpin Amerika Serikat, namun menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku untuk operasi militer Israel di Lebanon.
“Israel mendukung keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu dengan syarat Iran segera membuka selat dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara di kawasan itu,” tulis Netanyahu di X pribadinya.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menuduh Israel secara konsisten berusaha menggagalkan kesepakatan gencatan senjata.
Ketidakpastian Gencatan Senjata dan Dampak Global
Meskipun Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan atas kesepakatan gencatan senjata, serangan drone dan misil masih terjadi di Iran dan negara-negara Teluk.
Iran sebelumnya telah menyampaikan sepuluh syarat untuk penerapan gencatan senjata selama dua minggu, termasuk jaminan pembukaan Selat Hormuz dan penyediaan jalur aman bagi lalu lintas maritim.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan akan memberikan tanggapan tegas jika agresi Israel terhadap Lebanon tidak dihentikan.
“Kami mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, yang melanggar perjanjian, dan kepada sekutu Zionisnya, algojonya. Jika agresi terhadap Lebanon tercinta tidak segera berhenti, kami akan memenuhi kewajiban kami dan memberikan tanggapan,” jelas IRGC.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
