Connect with us

Teknologi

China Bikin Tanaman Bercahaya dari DNA Hewan untuk Gantikan Lampu Jalan

Inovasi terbaru dari China menghadirkan tanaman bercahaya yang mampu menyala tanpa listrik, berpotensi menggantikan lampu jalan dan mengurangi emisi energi global.

Logompn

Published

on

China Bikin Tanaman Bercahaya dari DNA Hewan untuk Gantikan Lampu Jalan
China Bikin Tanaman Bercahaya dari DNA Hewan untuk Gantikan Lampu Jalan. Gambar: Euro News

MPN Indonesia 10 April 2026 - China mengembangkan tumbuhan bercahaya sebagai pengganti lampu jalan melalui teknologi dan inovasi global berbasis rekayasa genetika, dengan memanfaatkan DNA hewan seperti kunang-kunang dan jamur bercahaya.

Inovasi ini dikembangkan oleh ilmuwan dari perusahaan bioteknologi di Beijing, Magicpen Bio, yang dipimpin Dr Li Renhan, dan telah dipamerkan dalam forum teknologi Zhongguancun.

Teknologi ini bertujuan menghadirkan alternatif pencahayaan tanpa listrik untuk taman kota, ruang publik, hingga kawasan wisata malam, sekaligus mendukung efisiensi energi dan pengurangan emisi.

Pengembangan tumbuhan bercahaya di China ini dilakukan menggunakan metode pengeditan gen modern dengan cara menyisipkan gen penghasil cahaya ke dalam sel tanaman.

Proses tersebut memungkinkan tanaman menghasilkan cahaya melalui reaksi bioluminesensi tanpa memerlukan sumber energi eksternal seperti listrik atau lampu ultraviolet.

Hingga saat ini, lebih dari 20 jenis tumbuhan telah berhasil direkayasa, termasuk anggrek, bunga matahari, dan krisan, yang mampu memancarkan cahaya dalam kondisi gelap.

Teknologi ini menjadi bagian dari perkembangan teknologi dan inovasi global yang berfokus pada solusi energi berkelanjutan.

Para peneliti menyebut tanaman ini hanya membutuhkan air dan pupuk untuk bertahan hidup sekaligus menghasilkan cahaya, sehingga berpotensi digunakan sebagai pengganti lampu jalan di masa depan.

Demonstrasi publik menunjukkan tanaman dapat menyala secara alami tanpa bantuan energi tambahan dalam forum teknologi di Beijing.

Pengembangan Rekayasa Genetika pada Tumbuhan

Pengembangan tumbuhan bercahaya ini tidak terlepas dari penelitian di bidang rekayasa genetika.

Bioluminesensi merupakan reaksi kimia alami ketika enzim bereaksi dengan molekul tertentu dan menghasilkan cahaya atau foton.

Baca Juga:  Indonesia vs China 1-0: Garuda Muda Berjaya di Piala Asia U-17

Mekanisme ini ditemukan pada organisme seperti kunang-kunang dan jamur bercahaya, yang kemudian diadaptasi ke dalam tanaman melalui isolasi urutan genetik tertentu.

Para ilmuwan memasukkan gen tersebut ke dalam genom tanaman, sehingga tanaman dapat memproduksi enzim dan molekul yang diperlukan untuk menghasilkan cahaya.

Hasilnya adalah organisme hidup yang dapat bersinar tanpa memerlukan perawatan tambahan atau pengisian energi eksternal.

Dr Li Renhan menjelaskan latar belakang penelitiannya yang terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya di pedesaan.

“Saya lahir di pedesaan. Saat itu, keluarga saya tidak punya uang, jadi pada malam hari saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di tempat tidur gantung di kebun bambu kakek saya untuk menenangkan diri. Kunang-kunang sering kali mendarat di lengan saya,” terangnya kepada Euronews, dikutip MPN Indonesia melalui kanal YouTube Euronews Next pada Jumat (10/4).

Ia kemudian mengembangkan gagasan untuk mentransfer kemampuan tersebut ke dalam tumbuhan.

“Kami ingin mentransfer gen dari hewan, seperti kunang-kunang, ke dalam tanaman, sehingga mereka juga bisa bersinar di malam hari. Bayangkan sebuah lembah yang dipenuhi dengan tanaman bercahaya dalam kegelapan, itu akan seperti membawa dunia Avatar ke bumi,” ujarnya.

Potensi Penggunaan untuk Lampu Jalan dan Kota

Pemanfaatan tumbuhan bercahaya di China tidak hanya terbatas pada estetika, tetapi juga diarahkan sebagai solusi pencahayaan ramah lingkungan, termasuk sebagai alternatif lampu jalan.

Tanaman ini dinilai dapat digunakan di taman kota, ruang publik, hingga kawasan wisata malam tanpa memerlukan listrik.

Dr Li Renhan menyebutkan bahwa tanaman ini tidak membutuhkan sumber energi eksternal.

“Mereka hanya butuh air dan pupuk,” jelasnya.

“Pabrik-pabrik ini tidak membutuhkan listrik. Mereka hanya membutuhkan air dan pupuk. Mereka menghemat energi, mengurangi emisi, dan dapat menerangi kota di malam hari,” tambahnya.

Baca Juga:  TikTok Dikabarkan sedang Siapkan Fitur Kirim Uang Lewat DM, bakal Pakai TikTok Pay?

Jika diterapkan secara luas, penggunaan tumbuhan sebagai lampu jalan berpotensi menekan konsumsi listrik perkotaan dan mengurangi emisi karbon.

Konsep ini juga membuka peluang pengembangan desain kota yang lebih berbasis alam dalam konteks teknologi dan inovasi global.

Skala Pengembangan dan Inovasi Serupa

Pengembangan yang dilakukan Magicpen Bio memiliki skala lebih luas dibandingkan inovasi sebelumnya.

Perusahaan ini telah berhasil merekayasa lebih dari 20 spesies tumbuhan, berbeda dengan pendekatan lain yang umumnya hanya berfokus pada satu jenis tanaman untuk keperluan dekorasi.

Pada 2024, perusahaan bioteknologi lain memperkenalkan tanaman bercahaya bernama Firefly Petunia yang menggunakan gen jamur untuk menghasilkan efek serupa.

Selain itu, tim peneliti dari South China Agricultural University mengembangkan pendekatan berbeda dengan menyuntikkan nanopartikel logam seperti strontium dan aluminium ke dalam daun tanaman sukulen.

Tanaman tersebut menyerap cahaya matahari pada siang hari dan memancarkannya kembali pada malam hari.

Dampak dan Pengembangan Lanjutan

Selain untuk pencahayaan, teknologi ini juga memiliki potensi dalam bidang lain seperti penelitian medis dan pertanian.

Teknik rekayasa genetika yang digunakan memungkinkan ilmuwan memahami proses biologis pada tingkat sel serta mendukung pengembangan tanaman.

Namun, pengembangan tumbuhan bercahaya juga memunculkan perhatian terkait dampak ekologis.

Penanaman dalam skala besar berpotensi memengaruhi serangga nokturnal, mengganggu keseimbangan ekosistem malam, serta membuka kemungkinan terjadinya penyerbukan silang dengan tanaman liar.

Pengembangan taman bioluminesen dalam skala luas masih menjadi bagian dari kajian lebih lanjut dalam konteks penerapan teknologi dan inovasi global berbasis bioteknologi.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending