Connect with us

Internasional

Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Alot, Ini Hal yang jadi Ganjalan Negosiasi

Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam negosiasi, dipicu perbedaan soal nuklir dan Selat Hormuz.

Logompn

Published

on

Perundingan AS Iran di Islamabad Berakhir Alot, Ini Hal yang jadi Ganjalan Negosiasi
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Alot, Ini Hal yang jadi Ganjalan Negosiasi. Gambar: NBC News

MPN Indonesia 13 April 2026 - Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah negosiasi intens selama sekitar 21 jam pada Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/4).

Pertemuan ini merupakan upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Israel serta berdampak luas pada stabilitas kawasan Timur Tengah.

Kegagalan perundingan dipicu oleh beberapa perbedaan, terutama terkait program nuklir Iran kendali Selat Hormuz.

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi Amerika Serikat, menyampaikan bahwa pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan karena Iran menolak persyaratan yang diajukan Washington.

“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” ujar Vance, dikutip MPN Indonesia dari Al Jazeera pada Senin (13/4).

Ia menegaskan bahwa Washington membutuhkan komitmen dari Iran.

“Komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir,” ujarnya.

Vance juga menyatakan bahwa delegasi AS telah meninggalkan perundingan dengan sebuah proposal final.

“Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah pemahaman bahwa ini adalah penawaran terakhir dan terbaik dari kami. Kita lihat saja apakah pihak Iran akan menerimanya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Presiden Donald Trump terlibat langsung dalam proses tersebut dan mendorong negosiasi dilakukan dengan “itikad baik”.

Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dalam satu pertemuan merupakan hal yang wajar.

“Tentu saja, kita tidak seharusnya mengharapkan kesepakatan hanya dalam satu pertemuan dan tidak ada yang memiliki harapan seperti itu,” ujarnya.

Baca Juga:  Norwegia Tarik Investasi di 11 Perusahaan Israel

Ia juga menyebut bahwa pembicaraan berlangsung dalam suasana “ketidakpercayaan dan kecurigaan,” serta menekankan pentingnya memperjuangkan “hak dan kepentingan rakyat Iran”.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi Teheran, menyatakan bahwa Iran telah mengajukan inisiatif yang “berwawasan ke depan”, namun Amerika Serikat gagal membangun kepercayaan.

“AS telah memahami logika dan prinsip Iran, dan sekarang saatnya bagi mereka untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kita atau tidak,” katanya.

Hal yang Mengganjal dalam Negosiasi

Isu program nuklir menjadi titik perbedaan paling signifikan antara kedua negara.

Amerika Serikat menuntut penghentian total pengayaan uranium serta pembongkaran fasilitas produksi senjata, sementara Iran menegaskan haknya untuk mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai sebagai bagian dari kepentingan nasionalnya.

Media pemerintah Iran menyebut kegagalan kesepakatan disebabkan oleh tuntutan yang berlebihan dari pihak Amerika.

Selain isu nuklir, kendali atas Selat Hormuz juga menjadi ganjalan utama.

Jalur pelayaran strategis ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, sehingga memiliki dampak besar terhadap stabilitas energi global.

Iran berupaya mempertahankan kontrol strategis atas selat tersebut, sementara AS menuntut jaminan kebebasan navigasi dan keamanan pelayaran.

Perbedaan pendekatan juga terlihat dalam proposal masing-masing pihak. Iran mengajukan 10 poin tuntutan, termasuk pencabutan sanksi ekonomi, pengakuan hak pengayaan uranium, pengurangan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan, serta kompensasi atas kerusakan akibat konflik.

Sebaliknya, proposal 15 poin dari Washington menitikberatkan pada penghentian aktivitas nuklir Iran, pembongkaran fasilitas militer, serta jaminan keamanan bagi sekutu AS, termasuk Israel.

Baca Juga:  Pria Tewas Terjatuh dari dari Roller Coster Setinggi 61 Meter di Amerika Serikat

Pengaruh Israel dan Konflik Regional

Keterlibatan Israel dalam konflik regional turut memperumit jalannya perundingan.

Serangan berkelanjutan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon menjadi salah satu isu sensitif yang memengaruhi dinamika negosiasi.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai bahwa kelanjutan serangan tersebut dapat membuat perundingan menjadi tidak bermakna.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap kelompok proksi Iran akan terus berlanjut.

“Israel di bawah kepemimpinan saya akan terus melawan rezim teror Iran dan proksinya,” katanya.

Netanyahu juga menyatakan keinginannya untuk mencapai kesepakatan perdamaian dengan Lebanon, dengan syarat pelucutan senjata Hizbullah.

Peran Pakistan sebagai Mediator

Sebagai tuan rumah, Pakistan memainkan peran penting dalam memfasilitasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran.

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyampaikan apresiasi atas partisipasi kedua negara dan mendorong kelanjutan upaya diplomatik.

“Sangat penting bagi semua pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Pakistan akan terus memainkan perannya untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat di masa mendatang.

JD Vance juga memberikan apresiasi terhadap peran Pakistan, dengan menyatakan bahwa apa pun kekurangan dalam negosiasi, itu bukan karena pihak Pakistan, karena mereka telah bekerja dengan luar biasa.

Meskipun perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil, kedua pihak menyatakan bahwa komunikasi diplomatik masih dapat berlanjut.

(ADN/NID/RAD)

Trending