Connect with us

Internasional

Satu Pasukan UNIFIL Prancis Gugur di Lebanon

Serangan di desa Ghandouriyeh, Lebanon, menewaskan tentara Prancis UNIFIL di tengah gencatan senjata. Presiden Emmanuel Macron menuding Hizbullah sebagai pihak bertanggung jawab.

Logompn

Published

on

Satu Pasukan UNIFIL Prancis Gugur di Lebanon
Satu Pasukan UNIFIL Prancis Gugur di Lebanon. Gambar: Dok. UNIFIL

MPN Indonesia 20 April 2026 - Seorang tentara Prancis yang tergabung dalam Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan di desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan, pada Sabtu (18/4), di tengah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku pada Kamis (16/4) pukul 21.00 GMT.

Prajurit yang gugur tersebut bernama Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17.

Serangan terjadi saat patroli UNIFIL menjalankan misi pembersihan bahan peledak dan membuka akses jalan menuju pos yang terisolasi akibat pertempuran di wilayah tersebut.

Penilaian awal UNIFIL menyebut serangan berasal dari aktor non-negara yang diduga Hizbullah, sementara otoritas terkait meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan kematian prajurit tersebut dan membuat pernyataan dugaan pihak yang bertanggung jawab.

“Semuanya menunjukkan bahwa tanggung jawab atas serangan ini terletak pada Hizbullah,” ujarnya.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam, Presiden Macron mengutuk “serangan yang tidak dapat diterima” tersebut dan mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab, dikutip MPN Indonesia melalui Aljazeera pada Senin (20/4).

Kronologi Serangan

UNIFIL dalam pernyataannya menyebut patroli mereka “diserang dengan senjata ringan dari aktor non-negara” saat membersihkan bahan peledak di sepanjang jalan di Ghandouriyeh.

Dua dari tiga tentara lain yang terluka dalam misi tersebut dikabarkan mengalami luka serius dan penyelidikan telah diluncurkan.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan patroli tersebut disergap ketika menjalankan misi untuk membuka jalan menuju pos UNIFIL yang terisolasi akibat pertempuran di daerah itu.

Baca Juga:  Donald Trump Umumkan Rusia dan Ukraina Gencatan Senjata Tiga Hari

Prajurit tersebut tewas akibat tembakan senjata ringan secara langsung.

Militer Lebanon mengutuk penembakan tersebut dan mengumumkan telah membuka penyelidikan.

Presiden Joseph Aoun menyampaikan belasungkawa serta memerintahkan penyelidikan segera.

Perdana Menteri Nawaf Salam juga mengutuk insiden tersebut dan meminta pertanggungjawaban para pelaku.

“Sudah jelas bahwa perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius pada Lebanon dan hubungannya dengan negara-negara sahabat dan pendukungnya di seluruh dunia,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia melalui akun X @nawafsalam.

Hizbullah Bantah Tuduhan

Di sisi lain, Hizbullah membantah keterlibatan dalam insiden tersebut.

“Kami membantah keterlibatan kami dalam insiden yang terjadi dengan pasukan UNIFIL di daerah Ghandouriyeh di Bint Jbeil,” ujarnya.

Ia juga menyerukan “kehati-hatian dalam mengeluarkan penilaian terkait insiden tersebut” dan menyatakan “keterkejutannya atas pihak-pihak yang buru-buru membuat tuduhan tanpa dasar” terhadap kelompok tersebut.

Insiden ini terjadi beberapa hari setelah Israel dan Lebanon menyepakati “penghentian permusuhan” pada Kamis (16/4) untuk jangka waktu awal 10 hari guna memungkinkan negosiasi perdamaian.

Gencatan senjata tersebut diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (16/4) setelah pembicaraan langsung di Washington.

Deklarasi gencatan senjata di Lebanon dipandang sebagai dorongan bagi upaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending