Connect with us

Berita

Kenapa Hari Buruh Demo? Simak Sejarah dan Awal Mulanya

Mengapa Hari Buruh yang diperingati setiap tanggal 1 Mei ada demo? Berikut penjelasan rincinya.

Logompn

Published

on

Kenapa Hari Buruh Demo Simak Sejarah dan Awal Mulanya
Kenapa Hari Buruh Demo? Simak Sejarah dan Awal Mulanya. Gambar: AFP

MPN Indonesia 30 April 2026 - Setiap tanggal 1 Mei, pemandangan jalanan di kota-kota besar Indonesia biasanya berubah.

Ribuan orang tumpah ruah ke jalan, membawa spanduk, dan menyuarakan tuntutan di bawah terik matahari.

Fenomena demonstrasi di Hari Buruh atau May Day ini sudah menjadi tradisi tahunan yang tak terpisahkan.

Bagi sebagian orang, kerumunan ini mungkin dianggap mengganggu arus lalu lintas.

Namun, di balik riuhnya suara orator dan kemacetan yang timbul, ada sejarah panjang dan alasan mendalam mengapa para buruh tetap memilih turun ke jalan, meski harus mengorbankan waktu istirahat hingga tenaga.

Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan 8 Jam Kerja

Identitas May Day sebagai hari demonstrasi sebenarnya bukan lahir dari ruang kosong.

Dikutip MPN Indonesia dari laman resmi Universitas Brawijaya, jejak sejarah Hari Buruh bisa kita tarik hingga ke Amerika Serikat pada 1886.

Bayangkan saja, pada masa itu kaum buruh dipaksa bekerja dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, yakni sekitar 12 hingga 20 jam per harinya.

Kelelahan yang memuncak karena merasa tertindas akhirnya memicu gerakan besar-besaran.

Sekitar 250 ribu buruh turun ke jalan untuk menuntut satu hal yang kini kita nikmati secara wajar, yaitu standar 8 jam kerja per hari.

Gerakan ini terus membesar hingga diikuti 350 ribu orang dan menjalar ke New York, Louisville, hingga menyeberang ke Eropa dan Australia.

Puncaknya terjadi pada Kongres Buruh Internasional di Paris 1889.

Pertemuan para delegasi dunia tersebut akhirnya mengetuk palu bahwa 1 Mei resmi menjadi Hari Buruh Sedunia dan menetapkan standar kerja 8 jam sehari sebagai kemenangan bagi kaum pekerja.

Baca Juga:  Polisi Tangkap 1.240 Orang selama Aksi Demo di Jakarta

Pasang Surut Hari Buruh di Indonesia

Di Indonesia sendiri, Hari Buruh memiliki kisah yang dramatis. Di era Presiden Soekarno, 1 Mei ditetapkan sebagai hari kemenangan kaum buruh melalui UU Kerja Nomor 12 Tahun 1948.

Namun, situasi berbalik drastis saat memasuki era Orde Baru. Kala itu, peringatan May Day dianggap sebagai aktivitas subversif dan sering dikaitkan dengan ideologi komunis.

Sebagai gantinya, pemerintah menetapkan 20 Februari sebagai Hari Pekerja Indonesia.

Barulah setelah Orde Baru berakhir, euforia 1 Mei kembali semarak. Statusnya sebagai hari libur nasional pun dipertegas oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013 melalui Keputusan Presiden Nomor 24.

Mengapa Hari Buruh Harus Demo?

Bagi para buruh, demonstrasi adalah sarana untuk terus menyuarakan keadilan.

Marseno, seorang buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), bercerita bahwa sebenarnya mereka pun merasa lelah jika harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk turun ke jalan.

Namun, demi kepentingan bersama untuk menyuarakan hak-hak para buruh dan masyarakat, aksi itu akan tetap dilakukan.

“Kita tidak akan pernah lelah untuk aksi-aksi seperti ini,” kata Marseno, dikutip MPN Indonesia dari Kompas.com.

Menariknya, aksi unjuk rasa ini sebenarnya bukan hanya tentang kepentingan pribadi para buruh.

Rusli, pekerja yang juga tergabung di FSPMI, menekankan bahwa hasil dari perjuangan mereka sebenarnya turut dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk mereka yang tidak ikut turun ke jalan.

“Sebenarnya gerakan kita banyak membantu mereka yang di-PHK. Jika aksi berhasil, itu juga akan dinikmati oleh yang bekerja di Jakarta,” katanya.

(AKM/NID/RAD)

Trending