Connect with us

Viral

Deretan Fakta Rombongan Debt Collector Rusak Rumah Warga Bantul, Ini Awal Mulanya

Rombongan debt collector diduga mengancam Yusuf dan merusak rumahnya di Bantul. Polisi kini menyelidiki laporan serta memeriksa para saksi.

Logompn

Published

on

Deretan Fakta Rombongan Debt Collector Rusak Rumah Warga Bantul, Ini Awal Mulanya
Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto. Gambar: Polres Bantul

MPN Indonesia 23 Juli 2026 - Rombongan debt collector diduga mengancam dan merusak sejumlah barang di rumah Yusuf Wahyudi (37) di Dusun Jeblog RT 03, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Selasa (21/7) malam.

Kronologi Kejadian

Peristiwa itu bermula setelah Yusuf membantu menegosiasikan rencana penarikan mobil Toyota Rush milik kakaknya di Gamping, Sleman, akibat tunggakan angsuran selama delapan bulan.

Setelah negosiasi selesai, rombongan tersebut mendatangi rumah Yusuf. Keributan kemudian berujung pada pecahnya kaca etalase dan kaca dua lemari.

Yusuf akhirnya membuat laporan resmi ke Polres Bantul pada Rabu (22/7) malam setelah sebelumnya menunggu iktikad baik dari rombongan tersebut.

“Kenapa akhirnya saya memilih menempuh jalur hukum karena kasihan anak saya. Anak saya sekarang takut orang, bapak saya juga ngeblank, bingung dan sempat dibawa ke rumah sakit malam tadi,” ungkap Yusuf, dikutip MPN Indonesia melalui detikJogja pada Kamis (23/7).

Kasi Humas Polres Bantul Iptu Rita Hidayanto membenarkan bahwa laporan korban telah diterima dan sedang ditindaklanjuti.

“Korban sudah membuat laporan resmi ke Polres Bantul. Laporan tersebut sudah kami terima dan akan segera ditindaklanjuti sesuai prosedur serta ketentuan hukum yang berlaku,” kata Rita.

Awal Mula Persoalan Penarikan Mobil

Rangkaian kejadian bermula pada Selasa siang ketika Yusuf dihubungi kakaknya yang tinggal di Gamping, Sleman.

Kakaknya memberi tahu bahwa sejumlah orang datang ke rumah dan berbicara dengan nada keras terkait rencana penarikan mobil Toyota Rush.

Baca Juga:  Profil Tom Lembong: Dari Menteri Perdagangan hingga Tersangka Korupsi Impor Gula

“Awalnya itu di Gamping tempat mbak saya, bilang kalau ada orang datang ke rumah dan bentak-bentak. Lalu, namanya mbak digitukan, saya ke sana,” kata Yusuf, Rabu (22/7).

Yusuf mengaku saat itu belum mengetahui secara pasti persoalan keterlambatan pembayaran angsuran mobil tersebut.

Ia datang ke Gamping karena kakaknya merasa tertekan saat didatangi rombongan penagih.

“Tapi saya tidak tahu urusan mobil itu telat berapa bulan. Yang penting kan saya datang karena kakak saya wanita kok dibentak-bentak, itu yang membuat saya jadi emosi,” ujarnya.

Mobil tersebut saat itu telah dibawa oleh salah satu anggota keluarga ke wilayah Godean, Sleman, agar tidak langsung ditarik.

Yusuf mengatakan kendaraan itu bukan dibawa kabur karena keluarganya berencana menyelesaikan persoalan pembayaran.

“Maksudnya dibawa itu bukan dibawa lari, takutnya ditarik, wong besok sudah mau diurus, gitu. Apalagi mbak saya sudah DP (down payment) Rp50 juta dan membayar angsuran 15 kali, jadi tidak mungkin mobilnya dibawa lari,” ucap dia.

Berdasarkan keterangan Yusuf, dalam proses perundingan kemudian diketahui bahwa angsuran kendaraan tersebut telah menunggak selama delapan bulan.

Polisi juga menyatakan dugaan sementara kejadian itu berkaitan dengan keterlambatan pembayaran kredit kendaraan roda empat.

“Dugaan sementara, kejadian ini berkaitan dengan permasalahan tunggakan pembayaran angsuran kredit kendaraan. Namun demikian, seluruh rangkaian peristiwa masih kami dalami melalui proses penyelidikan,” terang Rita, dikutip MPN Indonesia melalui laman Polres Bantul.

Rombongan Debt Collector Mendatangi Rumah Yusuf

Setelah negosiasi di Gamping selesai, Yusuf kembali ke rumahnya di Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan.

Selepas magrib, rombongan debt collector tersebut menyusul dan mendatangi rumah Yusuf.

“Sudah selesai lalu saya pulang ke sini (Jeblog), nah ternyata sampai rumah mereka datang ke sini. Saat itu sudah baik-baik dan ternyata tunggakannya jalan delapan bulan,” kata dia.

Baca Juga:  Momen Kocak, Badru Kepiting Ruqyah Pelaku Pelecehan di Polres Jaksel

Yusuf menyebut proses perundingan awal di rumahnya berlangsung baik dan disaksikan sejumlah rekannya.

Rombongan tersebut kemudian meminta Yusuf menunggu satu orang lain yang akan datang ke lokasi.

Situasi mulai berubah sekitar pukul 21.30 WIB ketika seorang pria datang dan menantang Yusuf.

Menurut Yusuf, pria tersebut mengira dirinya melindungi atau membantu pemilik kendaraan agar mobil tidak ditarik.

“Tapi 21.30 WIB itu ada satu (orang) yang tahu-tahu langsung nantang saya, dikira saya yang backup, dikira saya yang gimana-gimana,” ujar dia.

“Dia langsung mengambil celurit, lalu saya lari melindungi diri, saya takut. Nah, saya lari ke dalam rumah, ibu saya nangis-nangis dan pingsan, anak saya pegang,” sambungnya.

Kaca Etalase dan Dua Lemari Pecah

Yusuf kemudian membawa anaknya keluar melalui pintu belakang rumah untuk menyelamatkan diri.

Saat meninggalkan rumah, ia mendengar suara benturan dan kaca pecah dari dalam bangunan.

“Anak saya gendong lewat belakang, tapi saya dengar dar dor dar dor serta suara kaca pecah. Ternyata setelah dicek, kaca dua lemari pecah, etalase kaca pecah, dan banyak batu berukuran besar di dalam rumah,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (22/7), pecahan kaca masih berserakan di depan rumah.

Dua batu ditemukan di dalam etalase, sedangkan empat batu berukuran besar terlihat tergeletak di lantai dapur.

Anak Korban Trauma dan Ayah Dibawa ke Rumah Sakit

Kejadian tersebut berdampak terhadap keluarga Yusuf. Anak Yusuf mengalami ketakutan dan tidak bersedia berangkat sekolah karena khawatir ayahnya akan dibunuh.

“Karena kejadian itu, anak saya trauma tidak mau berangkat sekolah, dia khawatir bapaknya mau dibunuh,” imbuh dia.

Ibu Yusuf juga disebut menangis dan pingsan ketika keributan berlangsung. Sementara itu, ayah Yusuf mengalami kebingungan dan sempat dibawa ke rumah sakit pada Rabu malam.

Baca Juga:  Jeritan Korban Pemain Sirkus OCI Taman Safari: Disiksa, Dirantai, hingga Kehilangan Identitas

Yusuf sebelumnya menunda membuat laporan polisi karena masih menunggu iktikad baik dari rombongan debt collector.

Namun, hingga Kamis (23/7), tidak ada satu pun pihak dari rombongan tersebut yang datang menemuinya.

“Satu pun belum ada yang ke sini sejak kemarin,” katanya.

Jumlah Debt Collector yang Datang

Yusuf mengaku tidak mengetahui jumlah keseluruhan orang yang datang. Namun, rombongan awal yang berunding dengannya berjumlah lima orang.

“Kalau yang datang pertama lima orang dan tambah sampai empat mobil dan puluhan motor,” ucap dia.

Rombongan tersebut meninggalkan rumah Yusuf sekitar pukul 02.00 WIB pada Rabu (22/7).

Pada Rabu (22/7), petugas Polisi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Polsek Kasihan mendatangi rumah Yusuf untuk meminta keterangan.

“Dan malam tadi didatangi Polda, Polsek Kasihan juga. Kedatangan dari Polda itu meminta keterangan dan saya diminta untuk membuat laporan, akhirnya saya membuat laporan malam tadi ke Polres Bantul,” ujarnya.

Polisi Kumpulkan Bukti dan Periksa Saksi

Polres Bantul saat ini masih menyelidiki peristiwa di daerah Jeblog tersebut dengan mengumpulkan alat bukti, meminta keterangan para saksi, dan mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat.

“Proses penyelidikan sedang berjalan. Kami mengedepankan asas profesionalitas, objektivitas dan akan mendalami seluruh fakta yang ada. Semua pihak yang berkaitan dengan peristiwa ini akan dimintai keterangan,” ucap Rita.

Rita menyatakan penyidik akan menangani seluruh dugaan tindak pidana berdasarkan bukti yang ditemukan selama penyelidikan.

“Seluruh dugaan tindak pidana yang dilaporkan akan kami tangani secara profesional. Penyidik akan bekerja berdasarkan alat bukti yang diperoleh selama proses penyelidikan. Kami memastikan setiap laporan masyarakat akan diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku,” kata Rita.

(AKM/NID/RAD)

Trending