Connect with us

Lifestyle

Tenggorokan Sakit akibat Asap Kebakaran? Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Asap karhutla bisa menyebabkan sakit tenggorokan dan batuk. Pelajari penyebab, cara meredakan gejala, serta langkah melindungi pernapasan.

Actress 1299250

Published

on

Tenggorokan Sakit akibat Asap Kebakaran Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya
Tenggorokan Sakit akibat Asap Kebakaran Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya. Gambar: Dok. Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 25 Oktober 2026 - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menyebabkan sakit tenggorokan, batuk, hingga gangguan pernapasan pada masyarakat di wilayah terdampak.

Kondisi ini terjadi akibat paparan gas dan partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Sabtu (5/9) melaporkan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Paparan asap dapat memicu iritasi dan memperburuk gangguan pernapasan. Masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai.

BNPB memprioritaskan penanganan kebakaran di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Kabut asap dari kebakaran tersebut mengandung partikel halus atau particulate matter (PM2.5) yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer.

Partikel ini dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga bagian dalam paru-paru.

Mengapa Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Sakit Tenggorokan?

Asap kebakaran hutan mengandung campuran gas, zat kimia, dan partikel debu yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Kandungan tersebut meliputi sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon permukaan (O3).

Partikel halus dalam kabut asap dapat melewati penyaringan alami hidung dan masuk ke saluran pernapasan melalui hidung maupun mulut.

Paparan tersebut dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada saluran pernapasan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa sakit, terbakar, atau tidak nyaman di tenggorokan, terutama saat menelan.

Baca Juga:  Komdigi Buka Suara terkait Dugaan Pembatasan Informasi Karhutla

Kondisi tersebut dapat memperburuk keluhan dan membuat seseorang lebih rentan mengalami gangguan pernapasan.

Kenali Gejala ISPA akibat Paparan Kabut Asap

Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk keluhan yang menyerupai gejala infeksi saluran pernapasan.

Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

ISPA merupakan infeksi akibat virus atau bakteri yang dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah.

Virus penyebabnya antara lain rhinovirus, coronavirus, parainfluenza, dan adenovirus.

Meski demikian, kabut asap bukan penyebab langsung infeksi tersebut. Paparan polutan dapat mengiritasi saluran pernapasan, sedangkan infeksi disebabkan oleh mikroorganisme.

Gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Sakit tenggorokan: Rasa nyeri atau terbakar yang dapat menyebabkan kesulitan menelan.
  • Batuk: Dapat berupa batuk kering maupun berdahak.
  • Pilek dan nyeri sinus: Pilek atau hidung berair adalah gejala umum ISPA, terutama jika infeksi menyerang sinus.
  • Demam: Peningkatan suhu tubuh sebagai respons terhadap infeksi.
  • Sesak napas: Pernapasan terasa berat atau sulit.
  • Sakit kepala: Dapat muncul bersamaan dengan demam atau ketegangan otot.
  • Nyeri otot dan sendi: Menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh.
  • Lemas atau kelelahan: Tubuh mengalami penurunan energi saat menghadapi infeksi.
  • Suara serak: Perubahan suara dapat terjadi ketika saluran pernapasan bagian atas mengalami gangguan.

Cara Mengatasi Tenggorokan Sakit akibat Asap Kebakaran

Penanganan sakit tenggorokan akibat paparan asap kebakaran hutan dapat dilakukan dengan mengurangi paparan polutan dan meredakan keluhan yang muncul.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memperbanyak istirahat. Istirahat membantu proses pemulihan tubuh. Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi ketika mengalami gangguan pernapasan.
  2. Minum air putih yang cukup. Asupan cairan membantu menjaga kelembapan hidung dan membran sinus serta mencegah dehidrasi.
  3. Menjaga kelembapan udara. Alat pelembap udara dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan akibat sakit tenggorokan dan hidung tersumbat.
  4. Mengonsumsi makanan bergizi. Pola makan teratur membantu memenuhi kebutuhan energi selama tubuh mengalami infeksi.
  5. Menggunakan obat sesuai kebutuhan. Dekongestan dapat membantu meredakan hidung tersumbat. Parasetamol atau ibuprofen dapat digunakan untuk mengurangi nyeri dan demam sesuai dosis yang dianjurkan.
  6. Mengurangi paparan asap. Batasi aktivitas di luar ruangan dan hindari aktivitas berat ketika kualitas udara memburuk.
Baca Juga:  Kebakaran di Gunung Geulis Sukabumi, 4 Hektare Lahan Hangus

Apabila keluhan tidak membaik, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.

Kelompok yang Rentan Mengalami Gangguan Pernapasan

Dampak paparan kabut asap dapat berbeda pada setiap orang. Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara.

Kelompok tersebut meliputi anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru-paru.

Orang dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga berisiko mengalami perburukan gejala.

Selain mengganggu pernapasan, asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit. Paparan berkepanjangan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan jantung dan paru-paru.

Pada ibu hamil, paparan asap berpotensi memengaruhi kesehatan janin. Dampak yang dapat terjadi meliputi peningkatan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan keguguran.

Cara Melindungi Diri dari Asap Karhutla

Perlindungan dari paparan asap karhutla dapat dilakukan dengan membatasi masuknya polutan ke saluran pernapasan.

Langkah ini terutama diperlukan ketika kualitas udara di lingkungan sekitar memburuk.

Masyarakat dapat mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, serta memantau informasi kualitas udara setempat.

Di dalam rumah, masuknya asap dari luar perlu dibatasi. Penggunaan alat penyaring udara dapat dipertimbangkan jika tersedia.

Kebersihan tangan juga perlu dijaga untuk mengurangi risiko penularan infeksi melalui kontak dengan penderita atau benda yang terkontaminasi.

Kapan Sakit Tenggorokan dan Gangguan Pernapasan Perlu Diperiksa?

Sakit tenggorokan yang disertai batuk menetap, demam, atau keluhan pernapasan yang semakin berat memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Penanganan medis perlu segera dilakukan apabila seseorang mengalami batuk yang menetap, demam, sesak napas, napas cepat, atau keluhan pernapasan yang semakin berat

Pemeriksaan juga diperlukan bagi kelompok rentan yang mengalami keluhan setelah terpapar asap.

Baca Juga:  Sherina Munaf Terjun Langsung Padamkan Karhutla di Kalimantan

Dokter akan mengevaluasi kondisi pasien dan menentukan penanganan sesuai gejala serta penyakit yang menyertainya.

 (RAD/NID/RAD)

Trending