Connect with us

Berita

40% Wilayah Bumi Saat Ini Berubah Jadi Daratan Kering, Pertanda Kiamat?

UNCCD melaporkan bahwa 40% daratan Bumi kini kering, memengaruhi 2,3 miliar orang. Perubahan iklim menjadi penyebab utama krisis ini.

Logompn

Published

on

40% Wilayah Bumi Saat Ini Berubah Jadi Daratan Kering, Pertanda Kiamat
40% Wilayah Bumi Saat Ini Berubah Jadi Daratan Kering, Pertanda Kiamat. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 31 Desember 2024 - Laporan dari UN Convention to Combat Desertification (UNCCD) mengungkapkan bahwa sekitar 40% daratan bumi kini berada dalam kondisi kering.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ekosistem serta kehidupan manusia.

Dalam tiga dekade terakhir hingga 2020, sebanyak 77,6% daratan bumi mengalami peningkatan kekeringan dibandingkan periode sebelumnya.

UNCCD mencatat, daratan kering bertambah hingga 4,3 juta kilometer persegi, menjadikan hampir setengah dari permukaan dunia (tidak termasuk Antartika) berada dalam kondisi kering secara permanen.

Data ini menunjukkan bahwa sekitar 2,3 miliar orang, atau lebih dari seperempat populasi dunia, tinggal di wilayah kering tersebut.

Jumlah ini diperkirakan meningkat hingga 5 miliar orang pada akhir abad ini jika tren kekeringan tidak segera diatasi.

Dampak Global Kekeringan

Fenomena daratan kering ini memberikan dampak besar, dari kerusakan ekosistem hingga ancaman terhadap ketahanan pangan global.

Pertanian, yang menjadi tumpuan hidup mayoritas penduduk dunia, menghadapi risiko serius akibat penurunan produktivitas lahan.

Wilayah terdampak utama meliputi:

  • Amerika Serikat bagian Barat dan Brasil, yang mengalami kekurangan air dan kebakaran hutan.
  • Afrika Tengah dan sebagian besar Asia, termasuk Asia Timur, yang menghadapi degradasi ekosistem dan ancaman desertifikasi.
  • Eropa di mana 95% wilayahnya terdampak kekeringan permanen.

Selain itu, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara telah mencatat penurunan ketersediaan air lebih dari 75% sejak 1950-an, memicu badai pasir dan debu yang semakin sering serta mengancam keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia.

Penyebab Kekeringan

Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama percepatan pengeringan daratan.

Ibrahim Thiaw, Sekretaris Eksekutif UNCCD, menyatakan bahwa kondisi kering yang terjadi saat ini sulit dipulihkan.

Baca Juga:  Puncak Bogor, antara Cuan Wisata dan Kerusakan Lingkungan

“Kemampuan untuk kembali ke kondisi sebelumnya hilang,” ujarnya.

Jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikendalikan, laporan UNCCD memprediksi bahwa 3% wilayah lembab tambahan akan berubah menjadi daratan kering pada akhir abad ini.

Kondisi ini, jika tidak ditangani, dapat mendekatkan manusia pada skenario “kiamat lingkungan.”

Tindakan Mitigasi yang Direkomendasikan

Untuk mengatasi krisis ini, UNCCD menekankan pentingnya perubahan dalam pengelolaan sumber daya alam. Beberapa rekomendasi utama mencakup:

  • Pengelolaan lahan yang lebih efisien, seperti menanam tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air.
  • Penerapan teknologi irigasi modern, termasuk irigasi tetes untuk meminimalkan pemborosan air.
  • Pengendalian emisi gas rumah kaca guna memperlambat laju perubahan iklim.

Barron Orr, Kepala Ilmuwan UNCCD, memperingatkan bahwa jika langkah mitigasi tidak diambil, manusia dan alam dapat mendekati “titik kritis bencana.”

Dalam situasi tersebut, dampak perubahan iklim akan tidak dapat dipulihkan, sehingga menjadikan seluruh sistem kehidupan dalam ancaman besar.

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending