Connect with us

Lifestyle

Kenapa Ketupat Selalu Ada di Meja Lebaran? Ini Sejarah dan Filosofinya

Ketupat lebih dari sekadar makanan di Hari Raya. Simak sejarah, filosofi hingga peran ketupat saat Lebaran.

Logompn

Published

on

Kenapa ketupat selalu ada di meja lebaran ini sejarah dan filosofinya
Ketupat jadi hidangan khas Lebaran yang melambangkan kesucian dan kebersamaan, memiliki sejarah panjang. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 30 Maret 2025 - Ketupat adalah salah satu Lebaran makanan khas Lebaran yang selalu hadir di meja makan saat Idulfitri. Makanan ini dibuat dari beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda (janur) dan kemudian direbus hingga matang. 

Ketupat biasanya disajikan dengan berbagai lauk khas, seperti opor ayam, rendang, gulai daging, dan sayur labu siam.

Dikutip MPN Indonesia dari berbagai sumber, berikut sejarah, filosofi hingga peran ketupat saat Lebaran.

Sejarah Ketupat

Di Indonesia, ketupat tidak hanya sekadar hidangan, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan filosofi yang mendalam. 

Kehadiran ketupat dalam perayaan Idulfitri memiliki makna simbolis yang berkembang sejak masa penyebaran Islam di Nusantara.

Sejarah ketupat di Indonesia dikaitkan dengan Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berperan dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat kepada masyarakat Jawa melalui tradisi bakda, yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran merujuk pada perayaan Idulfitri, sedangkan Bakda Kupat dimulai sekitar satu minggu setelah Idulfitri. Dalam tradisi ini, masyarakat Jawa diajarkan cara membuat anyaman janur untuk membungkus ketupat. 

Setelah ketupat matang, masyarakat akan membagikannya kepada tetangga atau kerabat yang lebih tua sebagai simbol kebersamaan dan silaturahmi.

Filosofi Ketupat dalam Perayaan Idulfitri

Ketupat memiliki beberapa makna simbolis yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman dan budaya Jawa. 

Salah satu filosofi ketupat terletak pada bentuk anyamannya yang rumit, yang melambangkan kesalahan manusia yang sering kali kompleks dan saling berkaitan.

Baca Juga:  Jelang Mudik Lebaran, Terminal Pulogebang Gelar Pra-Rampcheck: 4 Bus Ditemukan Tak Layak Jalan

Di sisi lain, isi ketupat yang berwarna putih setelah dikupas mencerminkan kesucian hati. Ini menggambarkan keadaan manusia yang kembali bersih setelah menjalani bulan Ramadan dan Idulfitri. Oleh karena itu, ketupat sering dikaitkan dengan permintaan maaf dan penyucian diri.

Dalam budaya Jawa, ketupat yang telah dicampur dengan lauk dan santan disebut sebagai kupa santen. Istilah ini memiliki makna mendalam karena diartikan sebagai kulo lepat nyuwun ngapunten, yang berarti saya salah, mohon maaf. 

Filosofi ini semakin memperkuat peran ketupat sebagai simbol permintaan maaf dan rekonsiliasi di hari yang fitri.

Ketupat Sebagai Penolak Bala

Selain menjadi makanan khas Lebaran, ketupat juga dipercaya memiliki fungsi lain di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa masyarakat menggantung ketupat di daun pintu sebagai simbol perlindungan dan penolak bala.

Kepercayaan ini didasarkan pada anggapan bahwa ketupat memiliki kekuatan spiritual untuk menangkal hal-hal buruk. 

Di beberapa daerah, bahkan terdapat ritual khusus yang melibatkan doa-doa sebelum akhirnya menyantap ketupat bersama keluarga.

Variasi Nama Ketupat di Berbagai Daerah

Ketupat dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia dengan sebutan yang berbeda-beda. Di Jawa dan Sunda, makanan ini disebut kupat, sedangkan masyarakat Bali menyebutnya tipat. Sementara itu, di Minangkabau dikenal sebagai ketupek, dan di Gorontalo disebut atupato.

Tidak hanya di Indonesia, ketupat juga ditemukan di negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. 

Hal ini menunjukkan bahwa ketupat bukan hanya makanan khas Idulfitri di Indonesia, tetapi juga bagian dari budaya kuliner kawasan maritim Asia Tenggara.

Peran Ketupat dalam Tradisi di Luar Lebaran

Meskipun identik dengan Lebaran, ketupat juga digunakan dalam berbagai upacara adat dan keagamaan di beberapa daerah. 

Baca Juga:  Menhub Tegaskan Tak Ada Larangan Truk Beroperasi saat Mudik, Hanya Pembatasan Operasional

Di Bali, masyarakat Hindu menggunakan ketupat sebagai bagian dari sesajen saat perayaan hari raya.

Di Ternate, ketupat juga dijadikan hidangan utama dalam upacara Soro, yaitu sebuah tradisi doa dan berkah. 

Dalam upacara ini, ketupat dibuat dalam berbagai bentuk, seperti burung, kerbau, hingga nanas, masing-masing dengan makna simbolis tersendiri.

Ketupat bukan sekadar makanan khas Lebaran, tetapi juga memiliki sejarah dan filosofi yang mendalam. 

Dari tradisi yang diperkenalkan Sunan Kalijaga hingga simbol kesucian dan permintaan maaf, ketupat telah menjadi bagian penting dalam budaya perayaan Idulfitri di Indonesia.

Selain itu, kehadiran ketupat dalam berbagai tradisi dan kepercayaan menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kuliner ini dalam kehidupan masyarakat. 

Tak heran jika setiap Idulfitri, ketupat selalu menjadi hidangan wajib yang menghiasi meja makan sebagai bagian dari perayaan hari kemenangan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending