Connect with us

Teknologi

Benarkah Pendidikan di Indonesia Belum Mampu Seimbangi Pesatnya Kemajuan Teknologi?

Pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan teknologi.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 04 15t120557.852
Pendidikan di Indonesia belum mampu seimbangi kemajuan teknologi? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 15 April 2025 - Pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan teknologi.

Hal ini seolah berbanding terbalik dengan keinginan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menginginkan Indonesia tak ketinggalan perkembangan teknologi.

Gibran bahkan menginginkan agar artificial intelligence (AI) dan coding dijadikan mata pelajaran di sekolah.

Namun, berdasarkan wawancara MPN Indonesia dengan berbagai sumber di sektor pendidikan, masih ada banyak tantangan pengembangan teknologi di dunia pendidikan.

Ketiadaan Perlengkapan dan Akses

Menurut seorang pendidik di SMKN 2 Jakarta, Ardhie, tenaga pengajar di Indonesia sebenarnya sudah siap menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Namun, ia menyoroti minimnya ketersediaan perlengkapan sebagai hambatan utama dalam adopsi teknologi secara luas.

“Tenaga pendidik siap untuk menggunakan teknologi, tetapi ketersediaan peralatan masih menjadi kendala besar,” ujar Ardhie kepada MPN Indonesia melalui aplikasi perpesanan, Jumat (11/4).

Bahkan perangkat dasar seperti smartphone pun, kata Ardhie, tak semua siswa memilikinya. Hal itu dikarenakan ada keterbatasan ekonomi pada beberapa siswa.

“Salah satu saat ini yang mungkin banyak kita temui adalah, keluarga yang kurang mampu terhadap pembelian unit gadget seperti smartphone & laptop untuk metode mereka belajar serta koneksi internet yang belum ada di rumah mereka,” ucap Ardhie.

Hal ini senada dengan apa yang diungkap oleh seorang guru SMA swasta di Tangerang Selatan, Dufi.

Menurut Dufi, keterbatasan akses ke internet di beberapa wilayah, terutama wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), menjadi hambatan utama bagi para tenaga pendidik maupun pelajar itu sendiri.

“Beberapa wilayah masih belum mendapati layanan internet maupun device yang mumpuni untuk kebutuhan belajar, literasi digital kita juga masih belum 100% paham dalam penggunaan, kebijakan dalam teknologi dan produktif,” kata Dufi kepada MPN Indonesia.

Keterbatasan Pendidik

Sementara itu, menurut Kaprodi Bisnis Digital di Politeknik Piksi Input Serang, Resita Rahma, tenaga pendidik Indonesia pun mengalami kendala untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi.

Baca Juga:  Partisipasi Kuliah Rendah, Lulusan Muda Lebih Tertarik Cari Kerja

Para pendidik, kata Resita, dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perubahan namun tak ada pelatihan yang diberikan.

“⁠Kesiapan SDM di Indonesia saya rasa belum bisa menyesuaikan perkembangan secara merata dalam perkembangan revolusi teknologi,” kata Resita kepada MPN Indonesia.

“Kami dari pendidik pun harus mulai menyesuaikan secara mandiri berbagai perkembangan yang terjadi namun tidak ada pelatihan dan edukasi terkait perkembangan saat ini,” imbuhnya.

Menurut Resita, menyesuaikan diri dengan teknologi merupakan PR yang sangat sulit. Pasalnya tenaga pendidik, terutama dosen, harus menyempatkan diri di tengah-tengah pekerjaan yang begitu rumit.

“Bagi para dosen menyesuaikan diri dengan teknologi jadi tantangan sangat sulit karna harus menyempatkan diri di tengah-tengah kewajiban administrasi dan tuntutan kampus, terutama kampus swasta, yang memberikan beban lebih untuk dosen membantu penerimaan mahasiswa baru,” kata Resita.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending