Internasional
Ilmuwan Temukan Warna Baru yang Belum Pernah Dilihat Manusia, Bernama ‘Olo’
Ilmuwan UC Berkeley temukan warna baru bernama “olo” lewat stimulasi retina buatan. Warna ini tak bisa dilihat alami atau ditampilkan lewat layar.
MPN Indonesia 23 April 2025 - Tim ilmuwan dari University of California (UC), Berkeley, berhasil menemukan warna baru yang belum pernah terlihat oleh manusia.
Warna ini dinamai “olo” dan hanya dapat dilihat melalui stimulasi buatan pada retina manusia.
Penemuan ini menjadi pencapaian ilmiah signifikan dalam studi persepsi visual dan menandai potensi perluasan spektrum warna manusia melalui teknologi optik.
Proses Eksperimen dan Teknologi “Oz”
Penemuan warna baru ini dicapai melalui penggunaan alat eksperimen bernama “Oz”, yang menyalurkan denyut laser langsung ke retina guna merangsang sel-sel fotoreseptor secara selektif.
Lima partisipan, yang seluruhnya merupakan ilmuwan dari UC Berkeley dan University of Washington, turut menjalani eksperimen ini.
Melalui sistem ini, para peneliti mampu secara eksklusif mengaktifkan sel kerucut tipe M (medium wavelength-sensitive cone) yang mendeteksi panjang gelombang hijau.
Secara alami, penglihatan manusia bergantung pada tiga jenis sel kerucut di retina—L (merah), M (hijau), dan S (biru).
Namun, dalam penglihatan biasa, stimulasi terhadap salah satu sel ini kerap memicu aktivitas sel lainnya karena adanya tumpang tindih sensitivitas.
Melalui sistem Oz, tim berhasil mengisolasi stimulasi hanya pada sel M, menciptakan sinyal warna yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam persepsi manusia.
Deskripsi dan Asal Nama Warna “Olo”
Warna olo dijelaskan sebagai biru kehijauan dengan tingkat kejenuhan tinggi yang tidak bisa dihasilkan oleh cahaya alami.
Karena itu, warna ini tidak dapat direproduksi atau divisualisasikan melalui media konvensional seperti layar ponsel atau cetakan.
Nama “olo” diambil dari representasi biner “010”, yang menandakan bahwa hanya kerucut M yang aktif selama persepsi warna tersebut terjadi.
“Kami memperkirakan sejak awal bahwa sinyal itu akan tampak seperti sinyal warna yang belum pernah ada sebelumnya,” ujar Ren Ng, insinyur listrik dari UC Berkeley, dikutip MPN Indonesia dari laman The Guardian, pada Rabu (23/4).
Namun, Ren Ng menambahkan bahwa dampak sinyal tersebut terhadap otak masih menjadi pertanyaan dalam penelitian.
Tanggapan dan Kritik Ilmiah
Walaupun penelitian ini mendapat pengakuan atas keberhasilan dalam menstimulasi sel kerucut secara selektif, tidak semua pakar setuju bahwa olo layak disebut sebagai warna baru.
“Ini bukan warna baru. Ini adalah warna hijau yang lebih jenuh yang hanya dapat dihasilkan ketika satu-satunya masukan berasal dari kerucut M,” ungkap John Barbur, ilmuwan penglihatan di City St George’s, University of London.
Ia menambahkan bahwa temuan ini merupakan manipulasi terhadap sistem visual yang sudah ada.
Kritik ini mempertegas bahwa meskipun olo berbeda secara subjektif dari warna yang umum dilihat manusia, penetapannya sebagai kategori warna baru secara ilmiah masih terbuka untuk diskusi lanjutan.
Potensi Aplikasi Teknologi Oz
Terlepas dari perdebatan, teknologi Oz membawa kemungkinan baru dalam bidang ilmu penglihatan.
Alat ini memungkinkan pengujian terhadap plastisitas penglihatan warna manusia, serta menawarkan peluang untuk riset dalam bidang gangguan visual seperti buta warna dan penyakit retina seperti retinitis pigmentosa.
“Oz dapat diprogram untuk menguji plastisitas penglihatan warna manusia,” tulis para peneliti dalam makalah ilmiah mereka.
Meskipun teknologi ini masih dalam tahap awal dan belum siap untuk dikomersialkan, para ilmuwan percaya bahwa Oz dapat memainkan peran penting dalam memahami bagaimana otak menciptakan persepsi visual dan merespons sinyal yang tidak alami.
Kesimpulan Penelitian dan Status Warna “Olo”
Hingga kini, hanya lima orang di dunia yang berhasil melihat warna olo, dan itu pun melalui proses stimulasi optik khusus yang tidak dapat dilakukan tanpa peralatan canggih.
Dengan pengembangan lebih lanjut, teknologi ini berpotensi memperluas pemahaman tentang sistem penglihatan manusia, serta menambah wawasan dalam penelitian persepsi visual, baik di Amerika Serikat maupun secara global.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
