Connect with us

Berita

Peringati Hardiknas, Pemkot Jakarta Timur Fokus Atasi Tawuran dan Bullying di Sekolah

Pemkot Jakarta Timur berkomitmen mengatasi persoalan tawuran dan bullying di lingkungan sekolah.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 02t151111.670
Pemkot Jakarta Utara gelar peringatan Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5) | Gambar: MPN Indonesia/Arie

MPN Indonesia 2 Mei 2025 - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur soroti persoalan tawuran dan bullying yang masih sering terjadi di lingkungan sekolah.

Hal ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 di Halaman Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Jumat (2/5).

“Satu hal memang tentu masih ada PR (tugas) bagaimana dari hal tersebut masih juga menyisakan beberapa kejadian-kejadian yang tentu menjadi pembinaan kita terhadap anak-anak atau siswa-siswi yang memang masih perlu menjadikan perhatian,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Jakarta Timur, Iin Mutmainnah kepada MPN Indonesia.

Strategi Kolaboratif Hadapi Tawuran dan Bullying

Dalam menangani masalah tawuran dan bullying, Pemkot Jakarta Timur menggandeng kepolisian serta unsur wilayah seperti RT/RW, lurah, dan camat.

Iin menjelaskan bahwa upaya ini membutuhkan proses berkelanjutan yang melibatkan banyak pihak.

“Tentu ini menjadi khusus karena memang kaitannya kita harus berkoordinasi tadi secara kolaboratif termasuk juga dengan unsur empat pilar,” katanya.

Menurut Iin, tingginya jumlah penduduk, sekolah, dan siswa di Jakarta Timur turut mempengaruhi dinamika pendidikan yang tidak hanya diwarnai oleh prestasi tetapi juga oleh berbagai tantangan sosial.

“Yang tadi saya katakan itu kan salah satu penyimpangan ya, bagaimana dalam membina itu kan tidak serta merta pun langsung sempurna, dalam proses pendidikan itu kan terus-menerus sustainable, jadi pasti ada deviasi, pasti ada celah. Nah, disitulah kita masuk dalam koordinasi pentahelix tadi,” jelasnya.

Perlu Kolaborasi Berbagai Pihak

Iin menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pendidik semata.

Ia memaparkan model kolaborasi pentahelix yang melibatkan lima unsur utama, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.

Baca Juga:  Rayakan HUT ke-50, TMII Bebaskan Tiket untuk Penyandang Disabilitas dan Pemegang KJP!

“Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini menjadi suatu perhatian kita bahwa pendidikan itu kan bukan tanggung jawab semata-mata dari tugas pendidik saja, tapi tadi ada komponen pentahelix yang sama-sama bekerja, berkoordinasi,” ujarnya.

Model kolaboratif ini, menurut Iin, mempermudah pembangunan pendidikan yang berkualitas di Indonesia, khususnya di Jakarta Timur.

“Jadi kalau lima komponen ini bersinergi dalam membangun pendidikan di Indonesia, khususnya tentu Warga Negara Indonesia akan akademis menjadi negara yang cerdas, yang berpendidikan,” tambahnya.

(ARI/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending