Connect with us

Berita

BMKG Peringatkan Dampak Kesehatan Akibat Suhu Panas Ekstrem Kemarau 2025

BMKG imbau masyarakat waspadai dampak kesehatan akibat suhu panas ekstrem selama kemarau 2025, termasuk dehidrasi dan gangguan pernapasan.

Logompn

Published

on

Bmkg peringatkan dampak kesehatan akibat suhu panas ekstrem kemarau 2025
BMKG Peringatkan Dampak Kesehatan Akibat Suhu Panas Ekstrem Kemarau 2025. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 2 Mei 2025 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa suhu panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia selama kemarau 2025 terutama dipicu oleh masa peralihan musim hujan ke musim kemarau.

Deputi BMKG, Guswanto, menjelaskan, “Pada periode pancaroba ini, cuaca cenderung cerah di pagi hingga siang hari sehingga radiasi matahari yang masuk lebih maksimal, menyebabkan suhu permukaan naik tajam.”

Selain itu, faktor geografis Indonesia memperparah kondisi tersebut. Saat ini, posisi semu matahari sedang melintasi wilayah ekuatorial dan secara bertahap bergerak ke utara.

“Pada awal Mei 2025, deklinasi matahari tercatat di sekitar 11,2° Lintang Utara,” ujar Guswanto kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat, pada Jumat (2/5).

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia menerima penyinaran matahari yang sangat intens, terutama saat langit cerah, kelembapan udara rendah, dan angin lemah.

Wilayah-Wilayah Terdampak Suhu Tinggi

Beberapa wilayah di Indonesia telah mencatat suhu tinggi selama musim kemarau 2025.

Di Tanah Merah, Papua Selatan, suhu udara mencapai 38,4°C pada (29/3) dan 37,0°C pada (21/4). Stasiun Meteorologi Juanda di Jawa Timur mencatat suhu maksimum 37,9°C pada (23/4).

Suhu di atas 35°C juga diamati di Lampung dan berbagai wilayah di Jawa Timur pada akhir April.

“Masyarakat yang tinggal di wilayah selatan ekuator seperti Pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatera perlu meningkatkan kewaspadaan,” jelas Guswanto.

Wilayah-wilayah ini memiliki karakteristik permukaan yang cepat menyerap panas dan cenderung lebih kering, sehingga lebih rentan terhadap akumulasi panas ekstrem.

Baca Juga:  Ramalan Cuaca Hari Ini 3 Maret 2026, Jabodetabek Diguyur Hujan

Dampak Kesehatan Akibat Suhu Panas

BMKG menyoroti bahwa suhu panas ekstrem berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat.

“Dehidrasi dan heat stroke menjadi risiko utama, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan,” kata Guswanto.

Ia juga memperingatkan bahwa suhu tinggi yang berlangsung lama dapat memicu kekeringan lokal yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih.

“Hal ini berdampak pada aktivitas harian dan kesehatan masyarakat,” lanjutnya.

Selain itu, kondisi panas dan kering meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di daerah-daerah dengan curah hujan minim.

Imbauan BMKG: Langkah Mitigasi yang Dapat Dilakukan

BMKG telah menetapkan berbagai langkah mitigasi untuk membantu masyarakat menghadapi dampak suhu panas ekstrem, sebagai berikut :

Menjaga Hidrasi: Masyarakat dianjurkan untuk tetap terhidrasi dengan minum air cukup meskipun tidak merasa haus.

Membatasi Aktivitas Luar Ruangan: Disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Jika harus keluar, gunakan pelindung seperti topi, payung, dan pakaian ringan.

Menggunakan Pendingin Udara atau Ventilasi: Bila memungkinkan, gunakan kipas atau pendingin udara. Tempat-tempat umum ber-AC juga dapat menjadi pilihan untuk berteduh saat suhu ekstrem.

Memperhatikan Kelompok Rentan: Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis membutuhkan perhatian khusus agar terhindar dari komplikasi kesehatan akibat suhu panas.

Memantau Informasi Cuaca: Masyarakat diminta terus memantau informasi cuaca yang disediakan BMKG melalui website resmi, media sosial @infoBMKG, aplikasi Info BMKG, serta bekerja sama dengan media penyiaran nasional dan lokal.

Prediksi Cuaca dan Kesiapsiagaan Lanjutan

BMKG memperkirakan kondisi panas ekstrem akan berlangsung hingga pertengahan Mei 2025 dan berpotensi meningkat kembali pada September hingga Oktober, saat posisi semu matahari kembali bergerak dari utara menuju selatan melintasi ekuator.

Baca Juga:  Kepala BMKG Waspadai Fenomena La Nina yang Dikabarkan Akan Terjadi hingga April 2025

“Masyarakat di wilayah selatan ekuator seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara perlu mewaspadai periode tersebut,” tegas Guswanto.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending