Connect with us

Berita

WALHI Sebut Pencemaran Mikroplastik Ancaman Serius bagi Laut Indonesia dan Krisis Iklim Global

WALHI soroti ancaman mikroplastik di laut Indonesia akibat buruknya pengelolaan sampah dan minimnya tanggung jawab produsen, ancam ekosistem dan nelayan pesisir.

Logompn

Published

on

Walhi sebut pencemaran mikroplastik ancaman serius bagi laut indonesia dan krisis iklim global
Ilustrasi Mikroplastik. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 7 Mei 2025 - Pencemaran mikroplastik di laut Indonesia kini menjadi ancaman serius. Selain merusak ekosistem, kondisi ini juga menghambat kemampuan laut menyerap karbon, yang mempercepat krisis iklim global.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut penyebab utama pencemaran ini berasal dari daratan, terutama karena buruknya sistem pengelolaan sampah.

“Kami melihat penanganan sampah di daratnya masih belum efektif, baik di hulu maupun di hilir,” ujar Dwi Sawung, Manajer Kampanye Tata Ruang dan Infrastruktur WALHI Nasional kepada MPN Indonesia dalam pesan singkat, Rabu (7/5).

Dwi menambahkan, kebijakan pengelolaan sampah belum memadai untuk mencegah limpasan mikroplastik ke laut. Pemerintah daerah disebut belum menjadikan isu ini sebagai prioritas, baik dari sisi kebijakan maupun anggaran.

“Bahkan, anggaran yang ada masih jauh dari angka minimal,” jelasnya.

Kondisi ini memperburuk pencemaran lingkungan dan memperbesar tantangan dalam isu lingkungan sosial di kawasan pesisir.

EPR Masih Minim, Produsen Dinilai Abai

WALHI juga menyoroti lemahnya implementasi kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), yang seharusnya mendorong produsen bertanggung jawab terhadap kemasan produk mereka.

“Dengan adanya EPR, seharusnya produsen bisa ditekan untuk mengurangi penggunaan kemasan dan meminimalkan sampah yang tidak bisa diolah. Sayangnya, implementasinya masih sangat terbatas,” tegas Dwi.

Mikroplastik Mengancam Ekosistem dan Nelayan

Temuan WALHI menunjukkan mikroplastik sudah banyak ditemukan dalam tubuh hewan laut di sejumlah wilayah. Hal ini berdampak pada ekosistem sekaligus mata pencaharian masyarakat pesisir.

“Dampak jangka panjangnya memang belum terlihat langsung, tapi ini jelas mengancam kesehatan ekosistem laut dan berpotensi mengganggu mata pencaharian nelayan dan komunitas pesisir,” tambahnya.

Baca Juga:  Tambang Nikel PT Gag di Raja Ampat Beroperasi Lagi sejak 3 September

Keterbatasan anggaran dan rendahnya prioritas di tingkat daerah menjadi hambatan utama dalam pengelolaan sampah pesisir.

“Padahal, pengelolaan di tingkat daerah sangat krusial untuk mencegah pencemaran lebih lanjut,” kata Dwi.

Strategi dan Kolaborasi WALHI

WALHI mengedepankan pencegahan di hulu, dengan menyasar tanggung jawab produsen dan peningkatan peran pemerintah.

“Jika masalah di hulu tidak diatasi, upaya di hilir tidak akan cukup,” tegas Dwi.

WALHI juga bekerja sama dengan berbagai pihak melalui Aliansi Zero Waste Indonesia untuk memantau dan menangani pencemaran mikroplastik.

“Melalui Aliansi Zero Waste Indonesia, kami bermitra dengan lembaga riset, akademisi, dan komunitas lokal untuk memantau dan menanggulangi pencemaran mikroplastik,” ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, WALHI mendorong masyarakat menerapkan prinsip 3R: Reduce, Reuse, Recycle.

“Kurangi konsumsi plastik, utamakan produk yang dapat digunakan kembali, dan jika dua langkah itu tidak memungkinkan, barulah pilih daur ulang,” tutup Dwi.

(AKM/NID/RAD)

Trending