Connect with us

Berita

Partisipasi Kuliah Rendah, Lulusan Muda Lebih Tertarik Cari Kerja

Banyak lulusan SMA/SMK memilih langsung bekerja ketimbang kuliah. Faktor ekonomi dan keinginan mandiri jadi alasan rendahnya partisipasi pendidikan tinggi.

Logompn

Published

on

Partisipasi kuliah rendah, lulusan muda lebih tertarik cari kerja
Partisipasi Kuliah Rendah, Lulusan Muda Lebih Tertarik Cari Kerja. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 13 Mei 2025 - Tingkat kelulusan SMA/SMK di Indonesia pada tahun ajaran 2023/2024 mencapai lebih dari 95%, menurut data Kemendikbudristek.

Namun, hanya sekitar 37% yang melanjutkan ke perguruan tinggi, sementara sisanya memilih langsung bekerja.

Data BPS per Februari 2024 mencatat jumlah angkatan kerja mencapai 149 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,82%. Angka ini mencakup lulusan baru dan mereka yang baru memasuki usia kerja.

Banyak lulusan muda menghadapi dilema antara melanjutkan pendidikan atau segera bekerja karena tekanan ekonomi dan keinginan untuk mandiri.

“Aku yang mau kerja di sini, karena aku juga yang nemu lowongan dan tertarik. Aku pengin eksplor dunia kerja,” ujar Raina, lulusan sekolah dari Jakarta kepada MPN Indonesia, Sabtu (10/5).

Tantangan Awal di Dunia Kerja

Memasuki dunia kerja bukan tanpa kejutan. Banyak lulusan muda mengalami adaptasi berat, terutama dalam hal budaya kerja.

“Culture shock pas kerja, salah satunya banyak aturan yang harus ditaatin. And we can’t express freely when maybe we have a bad day karena akan selalu ketemu customer,” kata Raina.

Meski begitu, ia merasa sekolah telah memberi bekal penting.

“Di sekolah diajarin cara bikin CV, some editing application, dan itu sekarang dipake di kerjaan aku juga. Attitude juga udah diajarin,” tambahnya.

Keinginan Kuliah vs Tekanan Biaya

Beberapa lulusan tetap memendam harapan untuk kuliah, meski harus menunda sementara.

“Aku mau kuliah, especially Ausbildung. Karena aku mau merasakan gimana sih dunia kerja itu sebelum aku terjun ke dunia kerja di luar negeri,” ungkap Raina.

Baca Juga:  Dian Satro Bagi-Bagi Beasiswa Khusus untuk Perempuan

Namun bagi Anisa, lulusan SMK lainnya, biaya menjadi hambatan besar.

“Biaya, karena ayah aku sendiri udah berhenti kerja. Kalau aku pilih kuliah terus di tengah jalan nggak bisa bayar, takut malah berhenti,” ucapnya.

Ia pun berencana kuliah sambil bekerja agar bisa tetap melanjutkan pendidikan tanpa membebani keluarga.

Antara Realita dan Harapan

Kondisi tiap lulusan berbeda. Ada yang memilih bekerja dulu, ada pula yang fokus pada pendidikan.

“Kalau kamu punya budget buat kuliah, ya nggak apa-apa. Malah lebih cepat lulus dibanding yang gap year. Tapi kalau mau bantu orang tua dulu, ya kerja dulu juga nggak salah,” saran Raina kepada adik kelasnya.

Sementara itu, Anisa tetap berharap bisa kuliah penuh.

“Aku lebih ingin kuliah, karena mau membuka peluang karier lebih luas, memperluas jaringan sosial, dan ingin jadi sarjana pertama di keluarga,” imbuhnya.

Mencari Peluang di Tengah Keterbatasan

Azzahra, lulusan muda lainnya, memilih fokus mencari kerja setelah menyelesaikan kursus. Namun ia mengaku tidak mudah mendapatkan pekerjaan.

“Susah nyari kerja karena kebanyakan kualifikasinya yang agak sulit dan banyak jadi susah untuk menyesuaikan semuanya,” tuturnya.

Meski demikian, ia yakin ijazah SMA/SMK cukup jadi modal asalkan dibarengi dengan keterampilan.

“Selagi aku punya skill dan kemampuan yang sesuai sama kerjaannya itu, pasti kemungkinan besar bisa kerja cuma modal ijazah aja,” tegasnya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending