Connect with us

Berita

Pertamax Masuk Kategori BBM Kotor Seperti Pertalite

Pemerintah Indonesia akan mengurangi kandungan sulfur dalam BBM subsidi seperti Pertalite dan Pertamax.

Actress 1299250

Published

on

Pertamax Masuk Kategori BBM Kotor Seperti Pertalite
Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 September 2024 - Pemerintah mengungkapkan bahwa bahan bakar minyak (BBM) subsidi, seperti Pertalite dan Pertamax, memiliki kandungan sulfur yang tinggi.

Kandungan sulfur ini menjadi perhatian utama karena memiliki sulfur dioksida (SO2) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar.

Dengan demikian, sulfur tinggi berpotensi mencemari udara dan menyebabkan masalah kesehatan. Hal ini juga dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti hujan asam.

Kandungan Sulfur pada Pertalite dan Pertamax di Atas Batas Aman

Saat ini, Pertalite memiliki kandungan sulfur sebesar 500 ppm (part per million), yang jauh melebihi batas standar internasional yang direkomendasikan sebesar 50 ppm.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Rachmat Kaimuddin, menjelaskan bahwa pemerintah akan segera mengambil langkah untuk mengurangi kandungan sulfur dalam BBM subsidi.

Kaimuddin menyatakan bahwa BBM subsidi dengan kadar sulfur tinggi akan dihapus secara bertahap dan diganti dengan bahan bakar yang mengandung sulfur lebih rendah.

“BBM subsidi dengan kandungan sulfur yang tinggi nantinya akan dihilangkan secara bertahap. BBM tersebut akan diganti dengan sulfur yang lebih rendah sehingga kualitasnya lebih baik, tapi harga jualnya tetap sama,” ujarnya di Gedung Kemenko Marves, Jakarta.

Tidak hanya Pertalite, Pertamax yang memiliki Research Octane Number (RON) 92 juga menunjukkan kandungan sulfur yang tinggi.

Sulfur pada Pertamax tercatat mencapai 400 ppm, yang masih di atas standar internasional.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan dari Kandungan Sulfur Tinggi

Tingginya kandungan sulfur dalam bahan bakar ini tidak hanya berdampak pada performa mesin kendaraan, tetapi juga menyebabkan pencemaran udara.

Baca Juga:  Kementerian ESDM Minta SPBU Swasta Impor BBM Satu Pintu lewat Pertamina

Sulfur dioksida yang dilepaskan selama pembakaran bahan bakar bersulfur tinggi dapat berkontribusi pada pencemaran udara sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan.

Selain itu, SO2 yang terakumulasi di atmosfer akan berinteraksi dengan uap air, membentuk hujan asam yang merusak ekosistem, termasuk tanah, air, dan vegetasi.

Dampak lain dari penggunaan BBM bersulfur tinggi adalah menurunnya efisiensi energi.

Bahan bakar dengan kandungan sulfur yang tinggi menghasilkan energi panas lebih sedikit dibandingkan bahan bakar bersulfur rendah.

Pemerintah menegaskan pentingnya menurunkan kandungan sulfur dalam BBM guna meningkatkan kualitas bahan bakar dan menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Kaimuddin, kandungan sulfur pada beberapa jenis BBM saat ini masih tergolong tinggi, termasuk Biosolar dengan 250 ppm sulfur, Pertalite dengan 500 ppm, dan Pertamax dengan 400 ppm.

Penurunan kandungan sulfur ini dipandang sebagai langkah penting untuk memenuhi standar Euro 4, yang mengharuskan BBM memiliki kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Saat ini, hanya ada tiga jenis BBM yang diproduksi Pertamina yang telah memenuhi standar Euro 4, yaitu Pertamax Green, Pertamax Turbo, dan Pertadex 53. Namun, ketiga jenis bahan bakar ini belum tersedia secara luas di seluruh SPBU di Indonesia.

Untuk menjawab masalah yang bisa berdampak pada isu lingkungan sosial ini, pemerintah bersama Pertamina tengah mempersiapkan kilang-kilang BBM di Indonesia agar mampu memproduksi bahan bakar rendah sulfur.

“Kilang Pertamina ada enam plus impor, jadi dari kilang itu bisa keluar dua jenis BBM. Nanti kita akan lihat bagaimana perkembangan produksi ini,” ujar Kaimuddin.

Trending