Connect with us

Lifestyle

Mengapa Banyak Kekerasan dalam Rumah Tangga?

KDRT bukan lagi fenomena tersembunyi. Kasus demi kasus terus muncul ke permukaan, sebagian bahkan berakhir tragis.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 19t114137.813
Mengapa Banyak Kekerasan dalam Rumah Tangga? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 19 Juni 2025 - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan lagi fenomena tersembunyi. Kasus demi kasus terus muncul ke permukaan, sebagian bahkan berakhir tragis.

Tak sedikit korban yang terluka secara fisik, mental, hingga kehilangan tempat tinggal dan rasa aman.

Namun, satu pertanyaan mendasar kerap muncul: mengapa kekerasan dalam rumah tangga masih terus terjadi?

Alasan Psikologi di Balik KDRT

Psikolog Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa akar dari kekerasan dalam rumah tangga sering kali dimulai dari konflik berkepanjangan.

Ketika pasangan suami-istri berada dalam kondisi yang terus-menerus tegang, komunikasi efektif menjadi mustahil dilakukan. Ketegangan ini, jika dibiarkan, berpotensi berubah menjadi tindakan agresif.

“Dalam kondisi tegang, kemampuan berpikir logis terhambat. Kontrol diri menurun, sehingga tindakan kekerasan lebih mudah muncul,” ujar Sri saat dihubungi MPN Indonesia pada Senin (16/6).

Komunikasi yang awalnya dibangun atas dasar cinta, berubah menjadi adu argumentasi, saling menyalahkan, dan membuka luka lama.

Pasangan yang frustrasi cenderung meluapkan emosi kepada pihak yang dianggap lebih lemah.

“Hal ini mendorong pihak yang merasa lebih kuat akan unjuk kuasa pada pihak yang dianggap lebih lemah atau yang dikuasainya. Istri seringkali berada pada kondisi rentan untuk mengalami tindak kesewenang-wenangan dari suami,” kata Sri.

Emosi Tak Stabil

Penyebab lain di balik alasan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah ketidakstabilan emosi.

Banyak orang tidak menyadari bahwa pasangan mereka memiliki pola emosi yang tidak sehat, bahkan sejak masa awal pernikahan.

Menurut Sri, ada beberapa ciri yang patut diwaspadai untuk mengetahui apakah pasangan kita memiliki emosi yang stabil atau justru sebaliknya, yaitu:

  • Emosi mudah berubah dan meluap hanya karena hal kecil.
  • Sering menyalahkan orang lain dan enggan mengakui kesalahan sendiri.
  • Kaku dalam bersikap, hanya menuntut pengertian tapi tidak memberi.
  • Mudah dipengaruhi orang lain, hingga tidak memiliki pendirian.
  • Ingin selalu menang dan memaksakan kehendak.
  • Menutup diri dan tidak terbuka soal perasaan yang dialaminya.
Baca Juga:  Pria di Ciputat Timur Diringkus Polisi usai Diduga Bunuh Istri Sendiri

Gejala-gejala tersebut bisa tampak sepele pada awalnya. Namun, bila dibiarkan tanpa intervensi atau penyadaran, bisa menjadi bom waktu dalam rumah tangga.

Banyak Jalan untuk Mencari Bantuan

Ketika kekerasan sudah mulai terasa berat, korban sebaiknya tidak menunda mencari pertolongan profesional.

Berdasarkan penuturan Prof. Sri, saat ini ada berbagai layanan psikologis yang bisa diakses, baik online maupun offline, di antaranya:

  • Layanan Sejiwa (HIMPSI) lewat telepon 119 line 8

  • Halo Kemenkes, untuk informasi psikolog terdekat

  • PUSPAGA (di bawah Dinas PPPA) untuk dukungan pengasuhan dan keluarga

  • Klinik psikologi, rumah sakit umum, atau RS jiwa

  • Yayasan Pulih, lembaga swadaya yang fokus pada pemulihan psikologis korban

Luka Tak Selalu Terlihat

Kekerasan dalam rumah tangga tidak selalu berupa pukulan. Terkadang, luka yang paling dalam justru berasal dari emosi yang terus ditekan, kata-kata yang menyakitkan, atau rasa takut yang membungkam mulut.

Korban perlu waktu panjang untuk memulihkan diri dari trauma, kehilangan, dan tekanan mental.

Mereka juga perlu belajar mengenali dan mengelola stres melalui berbagai teknik seperti latihan pernapasan, meditasi, atau terapi psikologis seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing).

Kekerasan dalam rumah tangga tidak terjadi dalam semalam. Ia tumbuh dalam diam, dalam konflik yang diabaikan, dalam sikap emosional yang tidak dikelola.

Itulah sebabnya, mengenali tanda-tanda awal dan menciptakan sistem dukungan sejak dini menjadi kunci pencegahan.

Rumah tangga seharusnya menjadi tempat paling aman. Bukan ladang ketegangan, apalagi kekerasan.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending