Connect with us

Berita

RI Gelontorkan Rp217 Triliun untuk MBG, Bisakah Bawa Manfaat bagi Petani Lokal?

Anggaran besar-besaran program MBG apakah bisa membawa manfaat bagi petani lokal? Berikut ulasannya.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 19t171143.053
RI Gelontorkan Rp217 Triliun untuk MBG, Bisakah Bawa Manfaat bagi Petani Lokal? | Gambar: BPMI Setpres

MPN Indonesia 19 Juni 2025 - Badan Gizi Nasional (BGN) akan menerima anggaran senilai Rp217 triliun dari APBN 2026 untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jumlah ini menempatkan BGN sebagai lembaga pemerintah dengan alokasi dana terbesar di Indonesia.

“Alhamdulillah, kita sudah dianggarkan Rp71 triliun, dan kemudian masih akan bertambah kurang lebih Rp50 triliun. Tahun depan kami sudah mendapatkan APBN indikatif senilai Rp217 triliun,” ujar Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam konferensi pers di Kantor BP Taskin, Jakarta Pusat, Senin (16/6).

Ia menyebut, Prabowo Subianto telah memberikan dukungan penuh terhadap pendanaan program MBG.

“Anggaran sudah selesai dengan jaminan dari Bapak Presiden bahwa apa pun yang dibutuhkan Badan Gizi pasti diberikan,” imbuh Dadan.

Namun, dengan besarnya dana yang dikucurkan, pertanyaan penting pun mengemuka: bisakah program ini menjadi berkah nyata bagi petani lokal?

Peluang Emas bagi Petani Lokal

Menurut Dosen Agroteknologi dari Universitas Nasional, Ir. Inkorena G.S. Sukartono, MAgr, jika program ini benar-benar melibatkan petani lokal, manfaatnya bisa sangat luas.

“Pelibatan petani lokal dapat menjamin ketersiapan pangan segar karena dekat secara geografis dibandingkan dari rantai pasok panjang,” ungkap Kartono kepada MPN Indonesia pada Selasa (17/6).

Selain manfaat bagi MBG itu sendiri, pelibatan petani lokal juga bisa bermanfaat bagi roda ekonomi Indonesia.

Pasalnya, jika MBG menggunakan bahan baku lokal dalam produksi makanannya, maka MBG akan menjadi pasar tetap bagi hasil pertanian lokal.

Lebih jauh, pelibatan petani lokal juga diyakini akan memperkuat kemandirian pangan daerah.

“Program MBG dapat menjadi pasar tetap bagi hasil pertanian sehingga menjadi penggerak ekonomi lokal,” kata Kartono.

Baca Juga:  Dana SPPG Belum Cair, MBG di Sekolah Tangsel Disetop Sementara

“Meningkatkan kemandirian pangan lokal, mengurangi ketergantungan pada distribusi pangan dari luar wilayah. Nilai tambah ekonomi berputar di daerah, bukan hanya di distributor besar,” imbuhnya.

Dorong Pertanian Sehat

Selain potensi ekonomi, program ini juga dinilai bisa mendorong perubahan paradigma dalam praktik pertanian.

Dengan permintaan tinggi akan bahan makanan bergizi dan sehat, para petani akan terdorong untuk mengembangkan pertanian organik dan pola tanam multikultur.

“Ini bisa jadi momentum untuk memasok beragam bahan makanan sehat dan bergizi dari hasil bumi sendiri,” ujarnya.

Penerapan pola tanam multikultur—yakni bercocok tanam lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan—dianggap lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Jika tren ini bisa dikaitkan langsung dengan program MBG, maka manfaatnya tak hanya terasa di sisi ekonomi, tetapi juga pada daya tahan sistem pertanian nasional.

(AKM/NID/RAD)

Trending