Connect with us

Berita

BGN Uji Coba MBG Sistem Prasmanan di SDN 5 Ngawen Blora, Minimalisir Risiko Keracunan

BGN menguji coba MBG sistem prasmanan di SDN 5 Ngawen Blora selama dua pekan. Siswa mengambil makanan sendiri sesuai kebutuhan.

Actress 1299250

Published

on

BGN Uji Coba MBG Sistem Prasmanan di SDN 5 Ngawen Blora
BGN Uji Coba MBG Sistem Prasmanan di SDN 5 Ngawen Blora. Gambar: Instagram/@sudaru_sudaryono

MPN Indonesia 6 Oktober 2026 - Badan Gizi Nasional (BGN) menguji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di SDN 5 Ngawen Blora pada Senin (5/10).

Program ini memungkinkan siswa mengambil makanan sendiri sesuai porsi, sekaligus menjaga makanan tetap hangat saat dikonsumsi.

Uji coba dilakukan selama dua minggu sebelum hasil pelaksanaannya dievaluasi dan dilaporkan kepada BGN pusat.

“Hari ini kita melakukan piloting project MBG prasmanan itu sesuai dengan nota dinas dari Deputi Sistem Tata dan Kelola,” ujar Artika Diannita dalam keterangannya.

Artika mengatakan program itu mengacu pada Nota Dinas Nomor 43 tertanggal 30 September 2026.

Nota tersebut menunjuk sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk menjalankan sistem prasmanan.

BGN Uji Coba MBG dengan Sistem Prasmanan

Kepala BGN Sudaryono mengatakan pemerintah mulai menguji skema penyajian makanan menggunakan sistem prasmanan.

Metode tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas makanan dan mengurangi risiko kerusakan selama distribusi.

“Per hari ini, tanggal 5 Oktober, kita sudah piloting di lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, dikutip MPN Indonesia dari Instagram @sudaru_sudaryono, Senin (5/10).

Makanan dibawa dalam kondisi hangat kemudian disajikan kepada siswa di kelas.

Sudaryono menjelaskan sistem tersebut masih dalam tahap uji coba. Pemerintah akan melihat penerapan metode penyajian yang mengurangi jeda waktu distribusi makanan.

“Kami harapkan doa dan dukungannya agar cakupannya bisa lebih luas,” ujar Sudaryono.

Baca Juga:  KPK Dapat Laporan Anggaran Makan Bergizi Gratis Disunat, dari Rp10 Ribu jadi Rp8 Ribu

Ia mengatakan makanan dapat disajikan hangat dan lebih segar karena tidak mengalami penundaan distribusi.

Penerapan sistem ini juga membutuhkan keterlibatan sekolah bersama pengelola dapur.

Kedua pihak berperan dalam pelaksanaan penyajian makanan kepada siswa.

“Tentu saja ini membutuhkan kerja sama,” ucap Sudaryono.

Menurutnya, sistem prasmanan melibatkan pelatihan bagi petugas dapur dan pihak sekolah.

Konsep tersebut diadaptasi dari sistem makan sekolah atau school lunch di Jepang. Siswa dilibatkan langsung untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan masing-masing.

Pelaksanaan MBG di SDN 5 Ngawen Blora

Pelaksanaan MBG prasmanan di sekolah tersebut menggunakan aula sebagai lokasi penyajian makanan. Para siswa mengantre secara bergantian untuk mengambil menu yang tersedia.

Siswa memilih makanan sesuai porsi, kemudian menaruhnya dalam ompreng.

Mekanisme ini berbeda dari pembagian menggunakan wadah makanan dengan porsi yang telah ditentukan sebelumnya.

Artika mengatakan siswa terlihat lebih antusias ketika mengambil makanan secara mandiri. Mereka dapat menyesuaikan jumlah makanan dengan kebutuhan masing-masing.

“Kalau kita lihat anak-anak lebih antusias, lebih senang ketika mereka dapat mengambil makanannya sendiri,” ujar Artika.

Menurutnya, pengambilan sesuai kebutuhan dapat mengurangi makanan yang tersisa.

Salah seorang siswa kelas 5, Remo Bimo Giwantoro, mengaku menyukai mekanisme tersebut. Ia dapat mengambil sendiri makanan yang tersedia.

“Iya senang bisa ambil sendiri, bisa ambil banyak,” ujar Remo.

Mitra SPPG Ngawen 1, Febrian Candra, juga memilih konsep penyajian tersebut. Menurutnya, makanan dapat diantarkan dalam kondisi hangat dan segar.

Ia juga menyebut sistem tersebut dapat membangun budaya tertib dan disiplin siswa.

Uji Coba Ditujukan Menjaga Makanan Tetap Hangat

Artika menjelaskan sistem prasmanan juga diterapkan untuk meminimalkan kejadian menonjol dalam pelaksanaan program.

Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora, Sri Setyorini, mengatakan sistem prasmanan menjadi respons terhadap persoalan selama pelaksanaan program.

Baca Juga:  Nanik S Deyang Buka Peluang Kantin Sekolah jadi Dapur MBG di Wilayah 3T

Persoalan tersebut mencakup makanan tersisa hingga laporan keracunan.

“Memang banyaknya laporan tentang kelebihan nasi, tentang apa keracunan dan lain-lain,” ujar Sri.

Ia menyebut konsep tersebut sedang diuji coba oleh BGN untuk melihat hasil penerapannya.

Meski siswa mengambil makanan sendiri, standar pemenuhan gizi tetap diterapkan. Menu disusun oleh ahli gizi pada masing-masing SPPG sesuai standar yang ditetapkan.

“Kalau menu memang sesuai dari masing-masing SPPG dari ahli gizinya,” jelas Artika. Ia mengatakan tidak ada ketentuan khusus mengenai jenis menu selama memenuhi standar gizi.

Evaluasi Dilakukan Setelah Dua Pekan

Uji coba di SDN 5 Ngawen Blora dijadwalkan berlangsung selama dua minggu. Hasil pelaksanaan di lapangan kemudian akan dievaluasi dan dilaporkan kepada BGN pusat.

“Untuk uji coba ini dilaksanakan dua minggu,” ujar Artika. Setelah evaluasi, hasilnya akan menjadi bahan bagi BGN dalam menentukan keberlanjutan sistem tersebut.

SPPG Ngawen 1 menjadi satu-satunya SPPG di Kabupaten Blora yang ditunjuk menjalankan piloting project tersebut. Penunjukan dilakukan langsung oleh pemerintah pusat.

Sri mengatakan pemerintah daerah akan melihat hasil pelaksanaan selama dua pekan. Jika hasil evaluasi dinilai baik, sistem serupa akan diusulkan untuk SPPG lainnya di Kabupaten Blora.

“Setelah uji coba dua minggu memang baik, kita usul agar supaya ada prasmanan semuanya,” ujar Sri.

Sri juga mengatakan pengawasan tetap diperlukan selama penerapan sistem tersebut. Pengawasan dilakukan agar pelaksanaannya berjalan sesuai standar yang telah ditentukan.

 (AKM/NID/RAD)



Trending