Connect with us

Berita

Eks Komisioner KPU Bongkar Praktik Mafia Elpiji Subsidi di Bali

Lewat unggahan Facebook-nya, Putu Artha mengungkap dugaan praktik pengoplosan gas elpiji 3 kg subsidi yang menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga gas di Bali.

Logompn

Published

on

Eks komisioner kpu bongkar praktik mafia elpiji subsidi di bali
Eks Komisioner KPU Bongkar Praktik Mafia Elpiji Subsidi di Bali | Gambar: Pertamina

Bali, MPN Indonesia 22 Agustus 2025 - I Gusti Putu Artha, mantan Komisioner KPU RI, mengungkap dugaan praktik pengoplosan gas elpiji 3 kg subsidi di Bali melalui unggahan di media sosial.

Praktik curang tersebut terungkap dalam unggahan Putu Artha yang diposting pada Selasa (19/8) dengan judul ‘Membongkar Mafia Gas Elpiji 3 Kg’.

Ia menyatakan bahwa dari sembilan Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPBE) yang ada di wilayah tersebut, lima di antaranya diduga terlibat dalam pengalihan ribuan tabung gas subsidi ke gudang pengoplosan.

Praktik ini diduga menyebabkan kelangkaan gas elpiji 3 kg di pasaran dan berdampak pada harga gas elpiji 3 kg di beberapa wilayah seperti Nusa Penida dan Gerokgak, Buleleng, telah melonjak hingga Rp40.000 per tabung, jauh di atas harga normal.

Hal ini memperparah beban masyarakat, terutama kalangan ekonomi lemah yang sangat bergantung pada subsidi tersebut.

Putu Artha memperkirakan sekitar 25.000 tabung gas elpiji 3 kg per hari yang seharusnya didistribusikan ke publik justru dialihkan untuk dioplos ke dalam tabung 12 kg dan 50 kg.

Gas hasil oplosan ini kemudian dijual dengan harga di bawah pasaran resmi. Untuk tabung berukuran 12 kg dijual seharga Rp170 ribu sementara tabung berukuran 50 kg dijual seharga Rp705 ribu.

Dalam perhitungannya, Putu Artha menaksir keuntungan yang diperoleh para mafia gas dari pengoplosan ini mencapai Rp2,65 miliar per hari.

“Keuntungan mafia bisa mencapai sekitar Rp2,65 miliar per hari, bahkan bisa lebih,” ungkap Artha dalam postingannya di Facebook, dikutip MPN Indonesia pada Jumat (22/8).

Ia mengaku memperoleh informasi dari relawan yang bekerja di sektor distribusi gas dan bahkan sempat diajak melihat langsung aktivitas di salah satu lokasi pengoplosan.

Baca Juga:  Pistol untuk Tembak Staf KBRI Zetro Ternyata Milik Polisi Peru

Wilayah yang diduga menjadi pusat aktivitas pengoplosan mencakup Gianyar, Badung, Tabanan, dan Jembrana.

Putu Artha Laporkan Praktik Curang ke Pusat

Menanggapi isu ini, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus menyatakan telah menerima informasi terkait dugaan penimbunan dan pengoplosan gas elpiji subsidi di Bali.

Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, membenarkan bahwa tim lapangan sedang melakukan penelusuran terhadap lembaga penyalur yang dimaksud.

“Betul, kami sudah terinfo dan tim di lapangan sedang melakukan penelusuran terkait lembaga penyalur yang dimaksud,” ujarnya.

Putu Artha juga menyatakan telah menghubungi sejumlah pejabat terkait, namun mendapat respons dingin. Ia menuding adanya perlindungan dari oknum aparat terhadap praktik ilegal tersebut.

“Pejabat eksekutif maupun legislatif disandera, rakyat yang akhirnya menderita. Karena itu, penindakan harus dilakukan langsung oleh Mabes Polri, bukan level daerah,” ujarnya.

Diketahui, Putu Artha tengah berada di Jakarta untuk menyiapkan laporan kepada Mabes Polri dan Istana Presiden. Ia menyatakan tidak lagi percaya pada mekanisme pengawasan di daerah.

“Kalau setelah dua bulan gas langka tidak ada gerakan, wajar dong saya curiga ada yang membiarkan, bahkan mungkin ikut terlibat,” katanya.

Ia menegaskan telah mengkompilasi seluruh data dan bukti, termasuk video, yang akan diserahkan langsung dalam waktu dekat.

“Target saya tiga hari ke depan distribusi gas elpiji 3 kg di Bali harus normal,” tegasnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending