Connect with us

Teknologi

NASA dan IBM Ciptakan AI Surya yang Bisa Prediksi Badai Matahari

NASA dan IBM mengembangkan model AI Surya untuk memberikan peringatan dini terhadap badai matahari.

Logompn

Published

on

Nasa dan ibm ciptakan ai surya yang bisa prediksi badai matahari
NASA dan IBM Ciptakan AI Surya yang Bisa Prediksi Badai Matahari | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 27 Agustus 2025 - NASA dan IBM mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) bernama Surya Heliophysis Foundation Model untuk memberikan peringatan dini terhadap badai matahari yang dapat diakses dan diunduh melalui platform AI Hugging Face.

Model ini diumumkan pada Rabu (20/8) dan dirancang sebagai proyek open-source agar dapat dimodifikasi serta digunakan secara luas oleh publik.

AI Surya dikembangkan untuk menginterpretasikan citra resolusi tinggi dari permukaan matahari, yang kemudian digunakan untuk memproyeksikan kondisi cuaca antariksa.

Sistem ini juga bertujuan membantu perlindungan terhadap satelit di orbit rendah bumi, serta infrastruktur penting seperti jaringan listrik dan sistem telekomunikasi yang rentan terhadap gangguan badai matahari.

Model Surya dilatih menggunakan data heliofisika skala besar selama lebih dari sembilan tahun dari teleskop Solar Dynamics Observatory milik NASA.

Data tersebut mencakup citra matahari yang berukuran sepuluh kali lebih besar dari standar citra biasa dan mencakup berbagai fenomena matahari.

Fungsi dan Kemampuan AI Surya

Tak seperti algoritma lain yang butuh label ekstensif, AI Surya dapat belajar langsung dari data mentah sehingga cepat beradaptasi dengan berbagai tugas dan menghasilkan data yang teruji dalam waktu singkat.

Surya juga terbukti efektif dalam memprediksi, termasuk memprediksi aktivitas suar dan kecepatan angin matahari.

IBM dalam laman resminya menyebut bahwa Surya unggul dua jam lebih cepat dibanding model prediksi konvensional.

“Surya memberikan keunggulan dua jam dengan menggunakan informasi visual. Model ini dianggap sebagai yang pertama memberikan peringatan semacam ini,” bunyi pernyataan IBM, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (27/8).

Direktur ilmu data NASA, Kevin Murphy juga menambahkan, meski dirancang untuk mempelajari heliofisika, desain Surya juga bisa diadaptasi ke berbagai bidang mulai dari ilmu planet hingga Bumi.

Baca Juga:  Pemerintah Siapkan Perpres untuk Mengatur Tata Kelola AI di Indonesia

“Model ini memberdayakan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana aktivitas matahari memengaruhi sistem dan teknologi penting yang kita semua andalkan di Bumi,” katanya dalam laman resmi NASA.

Dampak Badai Matahari terhadap Bumi

Meski berjarak sekitar 93 juta mil atau sekitar 149,6 juta kilometer dari Bumi, badai matahari dikenal berpotensi besar mengganggu sistem teknologi di Bumi.

Adapun beberapa dampak yang ditimbulkan dari badai matahari adalah, kerusakan satelit, gangguan navigasi penerbanagan, pemadaman jaringan energi, hingga risiko radiasi bagi para astronot.

Beberapa peristiwa besar akibat badai matahari yang pernah terjadi, antara lain:

  • September 1859: Badai matahari mengakibatkan semburan massa koronal ke bumi, menyebabkan sistem telegraf terganggu, alat terbakar, dan operator tersengat listrik.
  • 1921 dan 1938: Badai kecil mengganggu komunikasi radio.
  • Maret 1989: Badai menyebabkan pemadaman listrik di Quebec, Kanada.
  • Juli 2012: Badai besar tidak berdampak signifikan karena tidak mengenai bumi secara langsung.

Sebuah studi dari Lloyd mengestimasi kerugian jika badai serupa terjadi saat ini bisa mencapai USD 2,4 triliun (sekitar Rp39 kuadriliun), mengingat ketergantungan tinggi manusia pada teknologi berbasis antariksa.

Dengan peluncuran AI Surya, IBM dan NASA menargetkan kontribusi yang lebih luas dari komunitas ilmiah dalam memperluas penerapan kecerdasan buatan ini dalam mitigasi risiko cuaca antariksa.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending