Connect with us

Lifestyle

Kenali Tanda-tanda Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Narsistik, Ini Dampaknya!

Pola asuh orangtua narsistik dapat memengaruhi kepribadian anak hingga dewasa. Simak ciri, dampak, dan tanda-tanda yang perlu dikenali.

Logompn

Published

on

Kenali tanda tanda anak yang dibesarkan oleh orang tua yang narsistik, ini dampaknya!
Ilustrasi Pola Asuh Anak. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 10 September 2025 - Saat beranjak dewasa, banyak orang mulai menyadari bahwa cara mereka dibesarkan ternyata memberi dampak besar pada kepribadian dan hubungan yang dijalani sekarang.

Salah satu pola asuh yang bisa meninggalkan luka emosional mendalam adalah pengasuhan oleh orangtua narsistik.

Orangtua dengan sifat ini cenderung menjadikan dirinya pusat dari segala hal dalam keluarga.

Mereka ingin memiliki kendali penuh, merasa selalu benar, dan kurang menunjukkan empati kepada anak.

Anak-anak yang tumbuh di lingkungan tersebut sering kali tidak menyadari dampaknya ketika kecil, namun perlahan akan merasakan beban itu ketika dewasa.

“Jika saya bertemu seseorang yang tumbuh besar dengan orangtua narsisistik, atau jika saya tahu bahwa itu mungkin terjadi, sangat penting bagi saya untuk memastikan mereka memahami narsisme dalam segala bentuknya,” kata Wendy Behary, pendiri The Cognitive Therapy Center of New Jersey, dikutip MPN Indonesia dari Huffington Post, Rabu (10/9).

Menurut Behary, pemahaman ini dapat menuntun seseorang untuk kembali menemukan sisi dirinya yang mungkin sempat hilang sejak masa kanak-kanak.

Sementara itu, Narcissistic Personality Disorder (NPD) digolongkan sebagai salah satu jenis gangguan kepribadian yang tercatat dalam pedoman diagnostik serta statistik gangguan mental.

Orang dengan sifat narsisistik cenderung menganggap dirinya lebih unggul, haus pujian, dan minim empati.

Para pakar menilai, anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti ini sering menanggung beban emosional tanpa menyadarinya.

Ciri-Ciri Orangtua Narsistik

Beberapa karakteristik umum orangtua narsistik antara lain mementingkan citra diri di hadapan orang lain, sering mendominasi pembicaraan, menganggap anak sebagai perpanjangan dirinya, tidak suka jika anak punya pendapat sendiri, mengontrol anak secara berlebihan, dan sulit menerima kesalahan maupun kritik.

Baca Juga:  Studi Ungkap Wanita Tidak Lebih Emosional Dibandingkan Pria

Orangtua dengan sifat ini biasanya memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak dan ingin pencapaian anak mencerminkan keberhasilan mereka.

Dampak Pola Asuh Narsistik pada Anak

Anak yang tumbuh dengan pola asuh narsistik sering merasa tidak berharga kecuali saat berprestasi.

Mereka cenderung takut mengungkapkan kebutuhan pribadi, bingung membedakan keinginan sendiri dengan tuntutan orang lain, serta mudah merasa bersalah ketika tidak memenuhi ekspektasi.

Beberapa anak bahkan terbiasa untuk selalu menyenangkan orang lain, meskipun harus mengorbankan kebutuhannya sendiri.

Psikolog Craig Malkin menjelaskan, banyak anak dari orangtua narsistik merasa dirinya “egois” hanya karena berani menyuarakan kebutuhan paling dasar. Kondisi ini dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental mereka.

Pola Anak Emas dan Kambing Hitam

Dalam keluarga dengan orangtua narsistik, sering terjadi pembagian peran di antara anak-anak.

Ada yang dijadikan anak emas yang selalu dipuji, dan ada yang dijadikan kambing hitam yang sering disalahkan.

Pola ini menimbulkan kecemburuan, ketegangan antar saudara, hingga perasaan tidak adil yang bisa terbawa sampai dewasa.

Anak Meniru Pola yang Sama

Tidak jarang, anak dari orangtua narsistik meniru perilaku yang mereka lihat sehari-hari.

Beberapa menjadi pribadi dominan, sulit berempati, atau bahkan manipulatif terhadap orang lain. Mereka belajar bahwa itulah cara bertahan hidup.

Namun, pola ini tidak harus terus berlangsung. Dengan bantuan profesional, seseorang bisa memutus siklus tersebut dan membentuk hubungan yang lebih sehat.

Ekspektasi dan Kontrol Berlebihan

Orangtua narsistik biasanya memiliki harapan tinggi terhadap anak, sering kali demi pencitraan pribadi.

Mereka bisa kecewa saat anak tidak mendapat nilai sempurna, memanipulasi emosi agar anak merasa bersalah, bahkan menyalahkan anak atas kegagalan keluarga.

Ketika anak tumbuh dewasa dan mulai hidup mandiri, orangtua narsistik bisa menjadi posesif, merasa kehilangan kendali, bahkan menganggap anak sebagai pesaing.

Baca Juga:  Begini yang Terjadi pada Otak dan Tubuh Saat Kamu Patah Hati

Risiko yang Dihadapi Anak Saat Dewasa

Anak yang dibesarkan oleh orangtua narsistik berisiko mengalami kesulitan mengenali dan mengekspresikan perasaan sendiri, memiliki rasa percaya diri rendah, kesulitan membangun hubungan sehat dengan pasangan, hingga berpotensi mengulang pola asuh yang sama pada anaknya.

Meski begitu, pola ini bisa dikenali dan diatasi. Kesadaran adalah langkah awal untuk memutus rantai pola asuh narsistik dan membangun kehidupan yang lebih sehat.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending