Connect with us

Politik

Purbaya Tolak Bayar Utang Kereta Cepat Pakai APBN: Untungnya ke Danantara, Susahnya ke Kita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menolak usulan penggunaan APBN untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang dikelola Danantara.

Logompn

Published

on

Purbaya tolak bayar utang kereta cepat pakai apbn untungnya ke danantara, susahnya ke kita
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Gambar : Instagram/@purbayayudhi_official

MPN Indonesia 14 Oktober 2025 - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan penolakannya terhadap rencana penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membayar utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh).

Pernyataan itu disampaikan Purbaya menanggapi usulan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, yang meminta pemerintah membantu pelunasan utang PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Purbaya Tegaskan Utang Whoosh Tanggung Jawab Danantara

Purbaya menilai beban utang proyek tersebut menjadi tanggung jawab Badan Pengelola Investasi Danantara.

Sebab, pengelolaan proyek Whoosh saat ini berada di bawah Danantara, bukan langsung di bawah pemerintah.

Purbaya menambahkan, Danantara telah menerima dividen dari BUMN sebesar lebih dari Rp80 triliun per tahun, sehingga semestinya mampu mengelola beban utangnya sendiri tanpa melibatkan APBN.

“Itu kan Whoosh sudah dikelola oleh Danantara kan. Danantara sudah ngambil Rp80 triliun lebih dividen dari BUMN, seharusnya mereka manage dari situ saja,” ujar Purbaya kepada wartawan usai melakukan inspeksi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/10).

Ia menilai tidak adil jika keuntungan dikelola Danantara, tetapi beban pembiayaan justru dibebankan kepada negara.

“Kalau pakai APBN agak lucu. Karena untungnya ke dia (Danantara), susahnya ke kita. Harusnya kalau diambil (dividen BUMN), ambil semua gitu (termasuk beban utang BUMN),” tegas Purbaya.

Rincian Investasi dan Pembiayaan Proyek Kereta Cepat

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dibangun dengan total investasi mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116,54 triliun (mengacu pada kurs Rp16.186 per dolar AS).

Angka tersebut meningkat dari tawaran awal China senilai US$5,13 miliar pada 2015, yang saat itu lebih murah dibandingkan proposal Jepang sebesar US$6,2 miliar.

Baca Juga:  Kabar Gembira! KAI Hadirkan Promo Tiket Lebaran Mulai dari Rp100 Ribu Rupiah

Dari total investasi itu, 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank dan 25 persen sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu:

  • PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60 persen
  • Beijing Yawan HSR Co Ltd sebesar 40 persen

Utang tersebut menjadi beban PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai salah satu entitas yang terlibat dalam pengoperasian proyek kereta cepat Whoosh.

Opsi Penyelesaian Utang KCIC

COO Danantara, Dony Oskaria, sebelumnya menyampaikan dua opsi penyelesaian utang yang tengah dipertimbangkan, yakni memberikan suntikan dana langsung ke KAI atau mengambil alih infrastruktur proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Namun hingga Jumat (10/10), Purbaya menyatakan belum menerima laporan resmi mengenai rencana penyelesaian utang tersebut.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah masih mencari skema pembiayaan yang tidak membebani APBN.

“Beberapa waktu yang lalu juga sudah dibicarakan untuk mencari skema supaya beban keuangan itu bisa dicarikan jalan keluar,” pungkasnya di Gedung DPR RI, Selasa (23/9).

(AKM/NID/RAD)

Trending