Connect with us

Viral

Pesan UAH untuk Elite Politik terkait Bencana Sumatra: Setop Dulu Atraksinya, Fokus Kemanusiaan

Ustaz Adi Hidayat menyerukan penghentian dinamika politik sementara dan meminta perhatian penuh terhadap penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Logompn

Published

on

Pesan uah untuk elite politik terkait bencana sumatra setop dulu atraksinya, fokus kemanusiaan
Ustaz Adi Hidayat (UAH). Gambar : Tangkapan Layar YouTube/Adi Hidayat Official

MPN Indonesia 6 Desember 2025 - Ustaz Adi Hidayat (UAH) menyampaikan pesan kepada elite politik nasional menyusul bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Melalui pernyataannya di kanal YouTube pribadinya Adi Hidayat Official pada Minggu (30/11), ia meminta agar dinamika dan atraksi politik dihentikan sementara dan perhatian difokuskan pada penanganan kemanusiaan.

“Saya mohon kepada para elite, tolong stop dulu beragam dinamika politiknya, beragam atraksi-atraksi politiknya. Mohon perhatiannya dengan tulus diarahkan dulu pada saudara-saudari kita yang berada di tiga wilayah ini,” ujar UAH dalam video tersebut, dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (6/12).

Ia menekankan pentingnya solidaritas nasional dan menyebut bahwa prioritas negara harus diarahkan pada pemulihan bencana alam, bukan kepentingan politik praktis.

Dampak Bencana dan Masalah Kerusakan Lingkungan

Banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatra menyebabkan kerusakan besar, termasuk ribuan rumah yang terdampak.

Banjir tidak berasal dari laut, melainkan dari aliran gunung, lereng, dan sungai yang tiba-tiba meluap.

Arus deras juga menyeret ribuan batang pohon besar atau kayu gelondongan yang memperparah kondisi lapangan.

UAH menyebut fenomena ini sebagai bentuk kerusakan lingkungan yang diduga kuat disebabkan oleh ulah manusia.

“Bila ada musibah akibat dampak dari kerusakan, baik dari kerusakan lingkungan, alam ataupun sekitaran kita, itu tidak jauh akibat dari ulah tangan-tangan manusia,” jelasnya.

Ia menyoroti gundulnya hutan akibat penebangan liar yang membuat kayu gelondongan terseret banjir, serta mengancam habitat satwa langka seperti harimau dan gajah.

Baca Juga:  Vietnam Dilanda Banjir Besar, 90 Orang Tewas dan 12 Lainnya Hilang

Seruan Taubat Nasional dan Introspeksi

UAH mengajak masyarakat melakukan evaluasi diri secara kolektif melalui taubat nasional.

“Kita semua mari melakukan evaluasi secara kolektif, muhasabah diri, introspeksi dalam bahasa agama tobat secara nasional untuk kita semua tanpa kecuali,” ungkapnya.

Menurutnya, musibah yang terjadi merupakan peringatan agar manusia tidak bersikap serakah terhadap alam.

Ia menekankan bahwa takdir bukan hanya untuk diterima, tetapi menjadi bahan renungan.

“Takdir itu bukan untuk diterima begitu saja, takdir itu untuk diterima oleh kita dengan perenungan, pemikiran, perubahan untuk menjadi lebih baik,” ucapnya.

Imbauan Koordinasi Bantuan dengan Lembaga Resmi

UAH juga meminta masyarakat yang memiliki kemampuan untuk ikut membantu penanganan bencana, namun tetap berkoordinasi dengan lembaga resmi seperti BNPB dan Basarnas agar tidak terjadi tumpang tindih tugas.

“Kita bisa menginventarisir beragam bentuk keperluan yang dibutuhkan, khususnya kita bisa kerjasamakan dengan Basarnas dan BNPB agar tidak tumpang tindih dengan apa yang menjadi tugas utama (tupoksi) mereka,” tegasnya.

Ia berharap energi masyarakat sipil dapat melengkapi kekurangan bantuan yang belum terjangkau pemerintah.

Dukungan Moral untuk Korban

Menutup pernyataannya, UAH memberikan dukungan moral kepada warga terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Marilah pusatkan perhatian kita pada saudara-saudari kita yang ada di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kalian tidak sendirian, walaupun saat ini kami tidak di sana, tapi doa perhatian kami karena kami menyayangi Anda semua karena Allah,” pungkasnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending