Internasional
Korban Tewas akibat Demo Besar-besaran di Iran Capai 544 Orang
Sedikitnya 544 orang tewas dalam demonstrasi 15 hari di Iran hingga 11 Januari. Protes meluas di tengah krisis ekonomi dan pemadaman internet nasional.
MPN Indonesia 12 Januari 2026 - Sedikitnya 544 orang dilaporkan tewas dalam demonstrasi dan aksi massa yang berlangsung selama 15 hari di Iran hingga Sabtu (11/1).
Data tersebut disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA), kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat.
Dari total korban tewas, delapan di antaranya merupakan anak-anak.
HRANA mencatat 496 korban berasal dari kalangan demonstran, sementara 48 lainnya merupakan aparat keamanan.
Selain korban jiwa, lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditangkap dalam gelombang demonstrasi yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.
Aksi massa yang awalnya dipicu krisis ekonomi kini berkembang menjadi perlawanan terbuka terhadap rezim Iran dan berlangsung di berbagai wilayah negara tersebut di tengah pemadaman internet nasional.
Pemadaman Internet dan Sulitnya Akses Informasi
Pemerintah Iran memutus akses internet dan jaringan telepon selama lebih dari 84 jam.
Kondisi ini membuat informasi dari lapangan sulit diakses serta menyulitkan verifikasi independen terkait jumlah korban.
Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa konektivitas Iran ke dunia luar berada di angka sekitar 1 persen dari tingkat normal.
Pemadaman ini terjadi bersamaan dengan meluasnya aksi unjuk rasa di berbagai kota.
Krisis Ekonomi Picu Gelombang Protes
Aksi demonstrasi besar-besaran ini bermula pada Minggu (28/12/25), dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang rial Iran yang dilaporkan telah menembus lebih dari 1,4 juta per dolar AS.
Tekanan ekonomi diperparah oleh sanksi internasional yang terus membebani perekonomian negara tersebut.
Dalam perkembangannya, tuntutan demonstran bergeser dari isu ekonomi menjadi seruan untuk menggulingkan pemerintahan teokrasi yang telah berkuasa sejak 1979.
Pernyataan Trump dan Ancaman Militer AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menghubunginya untuk membuka jalur negosiasi.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ancaman Amerika Serikat untuk mengambil tindakan militer atas tindakan keras terhadap demonstran.
“Iran ingin bernegosiasi. Pertemuan sedang diatur, tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan. Tetapi pertemuan sedang diatur. Iran menelepon; mereka ingin bernegosiasi,” ujar Trump dalam wawancara pada Minggu (11/1) di atas pesawat Air Force One, dikutip MPN Indonesia dari Euro News, Senin (12/1).
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan merespons dengan kekuatan besar apabila Iran melakukan serangan balasan.
“Jika mereka melakukannya, kami akan menghantam mereka pada level yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” tambahnya.
Tanggapan Pemerintah Iran dan Ancaman Retaliasi
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baagher Qalibaf menyatakan bahwa jika Amerika Serikat menyerang Iran, maka pangkalan militer dan fasilitas komersial AS, serta Israel, akan menjadi target yang sah.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, maka wilayah yang diduduki dan semua pusat militer, pangkalan, serta kapal Amerika di kawasan akan menjadi target sah kami,” ungkap Baagher dalam pidatonya di parlemen.
Iran juga memanggil Duta Besar Inggris menyusul insiden di London, ketika seorang pengunjuk rasa merobek bendera Iran dari gedung kedutaan.
“Duta Besar Inggris di Tehran telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri dan protes keras Iran disampaikan kepadanya,” jelas telivisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), dikutip dari CNN.
Peran Basij dan IRGC dalam Penindakan
Pasukan paramiliter Basij yang berada di bawah komando Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC) dikerahkan untuk menekan demonstrasi.
Basij dikenal sebagai kekuatan keamanan internal yang kerap berperan dalam pengendalian kerusuhan sipil dan penjagaan ideologi negara.
“Penangkapan para blogger yang mendukung kerusuhan terus berlanjut,” tulis Basij News Agency melalui kanal Telegram.
Basij juga dikaitkan dengan aktivitas pemantauan daring dan penyensoran selama aksi massa berlangsung.
Pemerintah Iran bahkan memerintahkan patroli Basij terus dilanjutkan, sebagaimana disampaikan anggota parlemen kepada Menteri Intelijen.
Demonstrasi di Luar Negeri dan Insiden Kekerasan
Aksi terkait situasi Iran juga terjadi di luar negeri. Di Los Angeles, seorang pengemudi truk ditahan setelah menabrakkan kendaraannya ke kerumunan pengunjuk rasa di kawasan Westwood.
Menurut kepolisian Los Angeles (LAPD), satu orang terkena dampak langsung dalam insiden tersebut, namun tidak mengalami cedera serius.
Polisi bersama Federal Bureau of Investigation (FBI) masih menyelidiki kejadian tersebut.
Dalam video yang beredar, sebuah truk U-Haul terlihat membawa spanduk bertuliskan, “Tidak untuk Shah, Tidak untuk Rezim. AS: Jangan ulangi 1953. Tidak untuk Mullah.”
Pemakaman Korban dan Situasi Forensik di Tehran
Di Tehran, kerabat korban berkumpul di Pusat Medis Forensik Kahrizak untuk mengidentifikasi jenazah.
Video dari lokasi memperlihatkan layar monitor yang menampilkan foto-foto jenazah serta deretan kantong jenazah berwarna hitam di luar gedung.
Sejumlah informasi menyebutkan jumlah jenazah di lokasi tersebut bisa mencapai 250.
IRIB menayangkan laporan dari keluarga korban yang menyatakan bahwa orang-orang yang tewas merupakan warga sipil.
Seorang pria menyebut, “Orang yang ia cintai terkena batu yang dilempar dari atas gedung oleh orang tak dikenal.”
IRIB mengklaim banyak korban bukan demonstran, melainkan warga yang terseret dalam kerusuhan.
Seruan Aksi Pro-Pemerintah
Pemerintah Iran mengumumkan tiga hari berkabung untuk menghormati “para martir Gerakan Perlawanan Nasional Iran terhadap Amerika dan rezim Zionis.”
Selain itu, pemerintah mengajak warga turun ke jalan dalam aksi solidaritas pro-pemerintah pada Selasa (13/1) pukul 14.00 waktu setempat.
Seruan tersebut disampaikan sebagai respons atas dugaan penistaan simbol-simbol Islam oleh para pengunjuk rasa.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
