Connect with us

Teknologi

Saingi Starlink, Blue Origin bakal Terbangkan 5.400 Satelit

Blue Origin mengumumkan rencana peluncuran 5.408 satelit untuk membangun jaringan telekomunikasi TeraWave.

Logompn

Published

on

Saingi starlink, blue origin bakal terbangkan 5.400 satelit
TeraWave, sebuah jaringan satelit yang akan dirilis oleh Blue Origin. Gambar: Dok. Blue Origin.

MPN Indonesia 24 Januari 2026 - Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, mengumumkan pada Rabu (21/1) rencana peluncuran 5.408 satelit ke orbit guna membentuk jaringan telekomunikasi bernama TeraWave.

Program ini ditargetkan untuk melayani kebutuhan konektivitas pusat data, lembaga pemerintah, dan perusahaan besar, dengan peluncuran awal dijadwalkan mulai kuartal keempat 2027.

TeraWave akan terdiri dari 5.280 satelit di orbit bumi rendah (Low Earth Orbit/LEO) dan 128 satelit di orbit bumi menengah (Medium Earth Orbit/MEO).

Dengan kapasitas hingga 6 terabit per detik, jaringan ini dirancang untuk memberikan layanan data berkecepatan tinggi bagi operasi penting.

Keunggulan teknis TeraWave mencakup penggunaan tautan frekuensi radio untuk satelit LEO yang mampu menyuplai hingga 144 gigabit per detik serta sistem laser pada satelit MEO yang memungkinkan kecepatan hingga 6 terabit per detik.

“Jaringan ini akan melayani puluhan ribu pengguna perusahaan, pusat data, dan pemerintah yang membutuhkan konektivitas andal untuk operasi penting,” tulis Blue Origin dalam unggahan di X @blueorigin, dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (24/1).

CEO Blue Origin, Dave Limp, menyatakan bahwa layanan TeraWave dirancang khusus untuk pelanggan korporat.

“Ini menyediakan keandalan dan ketahanan yang diperlukan untuk operasi real-time dan perpindahan data besar-besaran. Ini juga menyediakan konektivitas cadangan selama gangguan, menjaga operasi kritis tetap berjalan,” tulis Limp dalam unggahannya di X @davill, dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (24/1).

Struktur Konstelasi dan Teknologi

Sistem ini menggunakan gabungan teknologi tautan radiofrekuensi (RF) dan optik (laser) untuk memastikan kapasitas data tinggi, kecepatan unggah/unduh simetris, serta redundansi dan skalabilitas yang cepat.

Baca Juga:  Roket Jeff Bezos Meledak saat Uji Coba di Florida Amerika Serikat

Blue Origin menegaskan bahwa TeraWave dirancang sebagai solusi bagi pelanggan dengan kebutuhan throughput tinggi yang belum terpenuhi.

Dengan desain multi-orbit, TeraWave memungkinkan pelanggan untuk menyesuaikan kapasitas jaringan dan lokasi operasional sesuai kebutuhan.

Persaingan dengan Starlink dan Amazon Leo

Peluncuran proyek ini menandai langkah Blue Origin dalam memasuki pasar layanan internet satelit yang saat ini didominasi oleh Starlink milik SpaceX.

Starlink telah memiliki lebih dari 9.500 satelit aktif dan melayani banyak pelanggan secara global.

Di sisi lain, Amazon, yang juga didirikan oleh Jeff Bezos, sedang mengembangkan jaringan satelit orbit rendah bernama Amazon Leo (sebelumnya Project Kuiper), dengan target total 3.200 satelit.

Amazon telah meluncurkan 180 satelit sejak April 2025 melalui kerja sama dengan mitra peluncuran seperti United Launch Alliance dan SpaceX, dan beberapa peluncuran selanjutnya akan dikelola oleh Blue Origin.

Pada November lalu, Amazon memulai pratinjau layanan korporat kepada pengguna terbatas menjelang peluncuran komersial penuh.

Posisi Strategis Blue Origin

Blue Origin sendiri merupakan perusahaan peluncuran roket yang awalnya fokus pada wisata antariksa menggunakan pesawat ruang angkasa New Shepard.

Perusahaan ini telah mencatat sejumlah pencapaian penting, termasuk peluncuran perdana roket berat New Glenn pada Januari dan keberhasilan pendaratan kembali pendorong roket pada peluncuran berikutnya pada November yang membawa wahana antariksa milik NASA.

Jeff Bezos menyatakan bahwa Blue Origin memiliki potensi untuk melampaui Amazon dalam skala bisnis.

“Saya rasa ini akan menjadi bisnis terbaik yang pernah saya geluti, namun ini akan memakan waktu,” ujarnya dalam wawancara tahun 2024.

Proyeksi dan Tren Pasar Satelit

Blue Origin bukan satu-satunya yang mengembangkan mega-konstelasi satelit.

Selain Starlink dan Amazon Leo, dua proyek besar asal Tiongkok—Guowang dan Qianfan—juga tengah dikembangkan, masing-masing dirancang untuk memiliki lebih dari 13.000 satelit di orbit rendah bumi.

Baca Juga:  Katy Perry Terbang ke Luar Angkasa Bersama Blue Origin, Semua Awak Perempuan

Persaingan ini menunjukkan tren meningkatnya kebutuhan akan konektivitas global berbasis satelit dengan jangkauan tinggi, kecepatan besar, dan kemampuan operasional di berbagai kondisi.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending