Connect with us

Berita

Bocah 9 Tahun di Surabaya Meninggal Karena HIV Setelah Rawat Ibunya

Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun di Surabaya meninggal akibat infeksi HIV.

Adinda

Published

on

Bocah 9 Tahun di Surabaya Meninggal Karena HIV Setelah Rawat Ibunya
Bocah 9 Tahun di Surabaya Meninggal Karena HIV Setelah Rawat Ibunya. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 25 Oktober 2024 - Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun, F, warga Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya, meninggal dunia akibat terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) pada Rabu (23/10).

F diketahui tertular HIV setelah merawat ibunya, yang juga terinfeksi penyakit tersebut sebelum meninggal pada 2021.

Kasus ini menjadi sorotan terkait penularan penyakit menular HIV serta pentingnya penanganan yang efektif terhadap penyakit ini.

Riwayat Penularan dan Awal Infeksi

Sebelumnya, orang tua F telah bercerai. Setelah perceraian kedua orang tuanya, F tinggal bersama ibunya yang menderita penyakit dengan gejala berupa keluarnya darah dan nanah dari tubuh.

Meskipun belum terdiagnosis sebagai HIV pada saat itu, F tetap merawat ibunya yang sakit parah. Ibu F kemudian meninggal dunia pada 2021, dengan dugaan awal akibat penyakit kulit.

Pasca kematian ibunya, F kembali tinggal bersama ayahnya. Kesehatannya mulai memburuk, dan pada 2022 ia didiagnosis menderita tuberkulosis (TBC).

F menjalani perawatan di RSUD dr. Soetomo, Surabaya, untuk pengobatan TBC.

Keluarganya kemudian diberi tahu bahwa sang ibu telah meninggal akibat HIV, informasi yang baru diterima keluarga saat F sudah dirawat di rumah sakit.

Diagnosis HIV dan Perjalanan Penyakit

Setelah pengobatan awal TBC, F didiagnosis menderita HIV stadium awal.

Penularan kemungkinan besar terjadi saat ia merawat ibunya yang terinfeksi.

F menjalani rawat inap selama enam bulan untuk pengobatan HIV dan TBC.

Meskipun menjalani pengobatan, F masih sempat melanjutkan pendidikan di sekolah dasar (SD), meski kondisinya mulai menurun.

Pada 2023, F kembali dirawat di rumah sakit selama dua minggu karena kondisi kesehatannya semakin memburuk.

Baca Juga:  Candaannya Bocor saat Live, Admin Medsos Wali Kota Surabaya Minta Maaf dan Mengundurkan Diri

Setelah sempat pulih dan bermain dengan teman-temannya, kondisinya kembali menurun pada September 2024.

F harus menjalani perawatan intensif selama tiga minggu akibat komplikasi dari HIV dan TBC.

Kondisi Kesehatan yang Memburuk

Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi F semakin memburuk. Berat badannya turun drastis, dari 21 kilogram menjadi hanya 12 kilogram.

Ia juga mengalami masalah kulit yang parah. Dokter kemudian mendiagnosis bahwa F menderita herpes di telapak tangan dan paha, komplikasi yang sering terjadi pada pasien HIV stadium akhir.

Nenek F, Kanipah (57), yang merawatnya selama sakit, mengungkapkan bahwa stadium akhir HIV sering menyebabkan infeksi kulit.

Sebagai bagian dari perawatan, F diberi salep, susu, dan infus untuk membersihkan luka di kulitnya.

Tantenya yang bekerja sebagai kader puskesmas juga membantu merawat F di rumah.

Pada Selasa (22/10), kondisi F semakin kritis. Kaki kanannya mengalami gatal-gatal dan rasa panas hebat, sehingga membuatnya sulit tidur.

Ia kemudian dibawa kembali ke RSUD dr. Soetomo untuk mendapatkan perawatan medis intensif.

Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Penyakit

Meskipun sudah mendapatkan penanganan medis, kondisi F terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal dunia pada Rabu (23/10) di rumah sakit.

Jenazah F dimakamkan di TPU Karanggayam, Surabaya.

Kanipah mengenang cucunya sebagai anak yang taat beribadah, terutama selama masa sakitnya.

“Setiap malam wiritan, dia (F) berdoa, baca al-Fatihah, surat-surat pendek, bawa tasbih,” ungkap Kanipah.

“Dia bilang, ‘Uti, tolong bacakan aku Yasin, sudah malam.’ Tidur sebentar, lalu minta lagi dibacakan Yasin,” tambahnya.

Journalism graduate with a passion for media and technology. With experience in SEO writing, shares insights on the latest trends and developments in the digital world.

Trending